Headline Manufaktur

Perjalanan Bisnis Waskita Beton Precast, Dari Belanda hingga ke Cawang



single-image
Gedung Volker di Belanda

INDOWORK, JAKARTA: PT Waskita Beton Precast Tbk (WBP) adalah salah satu produsen beton terbesar  di Indonesia saat ini. Tak disangka, awalnya perusahaan ini dari Belanda hingga kini menempati kantor yang megah di Cawang, Jakarta Timur.

Dua tahun terakhir WBP mulai merambah ke manca negara, seperti Malaysia dan Filipina. Itulah sebabnya mengapa pada  2017,  WSBP mengubah visinya dari  ‘Menjadi Perusahaan Terbaik’ menjadi ‘Menjadi Perusahaan Terkemuka dalam Bidang Engineering, Production, Installation (EPI) Industri Betondi Asia Tenggara dalam Industri Beton Pracetak’.

Menurut Komisaris Utama Gandira Gutawa Sumapraja (2018), perubahan visi tersebut menandai bahwa perseroan memiliki dua fokus perluasan, yaitu perluasan portofolio usaha melalui bidang EPI, dan perluasan cakupan ceruk pasar yang mulai diarahkan ke wilayah Asia Tenggara. Perluasan portofolio dimungkinkan karena kekuatan internal perseroan pada aspek inovasi dan teknologi. Sementara perluasan ceruk pasar ke cakupan yang lebih luas mengindikasikan optimisme Perseroan akan perkembangan pasar beton regional

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik kiprahnya yang hebat itu, WSBP ternyata mewarisi latar belakang sejarah yang amat panjang dan penuh liku.  Sejatinya, ia merupakan salah satu anak perusahaan PT Waskita Karya Tbk (Waskita) yang dibangun secara bertahap. Pada 20 Desember 2012 WSKT mendirikan Divisi Precast. Divisi tersebut aktif beroperasi sejak 1 Januari 2013. Pada 7 Oktober 2014, Divisi Precast ditingkatkan statusnya menjadi entitas usaha tersendiri dengan nama PT Waskita Beton Precast (WBP) dengan kepemilikan Perseroan sebesar 99,99%. Perusahaan ini bergerak di bidang industri pabrikasi, jasa, pekerjaan terintegrasi, dan perdagangan.

Sebagai induk perusahaan, Waskita sendiri terlahir dengan nama Perusahaan Negara Waskita Karya pada 01 Januari 1961. Kelahirannya merupakan buah  dari kebijakan pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 2 Tahun 1960 tentang Penentuan Pemborongan Milik Belanda Yang Dikenakan Nasionalisasi. Nama asli Waskita Karya adalah “Volker Aanemings Maatschappij NV”.

Sejarah pengelolaan perusahaan keluarga Volker terdiri atas tiga periode utama. Pada periode pertama, sang pendiri “Adriaan Volker I” (1827-1903) yang mengendalikan. Pada periode kedua, Volker dikendalikan oleh putra tertua, Leendert Volker (1856-1930). Pada periode ketiga, Adriaan Volker II (1934-1960) yang menjadi komandannya.

(https://www.zuiderhoek.nl/historie_van_adriaan_volker.htm).

DIDIRIKAN OLEH PENGUSAHA BELANDA

Adriaan Volker
Adriaan Volker

Volker Aannemigs Maatschapiij (VAM) N.V. adalah sebuah entitas bisnis yang tidak muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan catatan sejarah, diketahui keberadaan VAM NV telah mulai dirintis sekitar 80 tahun sebelumnya. Perintisnya tidak lain adalah  seorang pria berkebangsaan Belanda, Adrian Volker  (1827-1903). Sejak usia muda Adrian Volker mulai berwiraswasta. Ia mulai dengan usaha pembuat boks bayi di Merwede, Belanda. Pada 1854, ia pindah ke Sliedrecht, Belanda bagian Selatan dan bekerja pada sebuah perusahaan pelayaran. Pada tahun yang sama ia mendirikan perusahaan kontraktor independen.

Pada 1868, Adrian Volker memperkuat armada pengerukannya dengan membeli Stroomdieper, kapal keruk uap pertama yang dibangun di Belanda. Tiga tahun berikutnya, pada 1871, ia menangani proyek penggalian dan pemeliharaan kanal Nieuwe Waterweg, dan pembangunan substruktur jembatan kereta api di Moerdijk. Pada tahun yang sama ia kembali memperkuat armada pengerukannya dengan membeli kapal keruk uap pertamanya di Belgia.

Berkat kecerdasan, keuletan, dan jariangan sosial yang luas, bisnis Adrian Volker  bertumbuh pesat. Pada 1880, ketika menginjak usia 53 tahun, Adriaan Volker  mengambil langkah internasionalisasi dengan ikut serta dalam pengerjaan proyek konstruksi bersakala internasional di luar negeri seperti proyek penggalian Terusan Laut Utara yang telah dibuka sejak 1876, penggalian Terusan Panama, dan proyek memperdalam Terusan Suez (1906, 1913).

Pada tahun-tahun berikutnya, perusahaan Adrian Volker terus bertumbuh pesat. Ia mengambil alih sejumlah besar perusahaan Belanda dan asing, dan merambah hingga Hindia Belanda. Pada 29 November 1903, ketika perusahaannya sedang meraih kemajuan besar, Adriaan Volker tutup usia. Semenjak itu perusahaan Volker dikomandani oleh putra tertuanya, Lendert Volker.

PERLUAS BIDANG OPERASIONAL

Sebagai ahli waris, Lendert Vooker berusaha keras memperdalam  cengkaraman kuku bisnis keluarga Volker. Bahkan ia berjuang untuk memperluas bidang operasionalnya. Ia  tidak hanya fokus di bidang pengerukan, melainkan juga di pertanian, konstruksi gedung, perumahan dan jembatan, serta pertambangan. Salah satu proyek monumentalnya adalah Lenahoeve, area pertanian dan peternakan yang dibangun pada  1913 atas perintah direktur pengerukan Volker. Area pertanian di Parallelweg 8-8A merupakan hasil karya Volker juga.

Dalam bidang properti, Volker selalu menampilkan ciri tersendiri. Semua gedung atau rumah yang dikonstruksi selalu dicirikan dengan atap yang unik berbentuk hurup V sebagai inisial dari nama Volker.

Misi penting lainnya dari perusahaan Volker adalah membangun Eerste Petroleumhaven di Pernis, yang selesai pada tahun 1933. Proyek ini memberikan dorongan besar bagi kebangkitan industri petrokimia di wilayah Rijnmond.

Namun, di balik prestasi hebat tersebut, perusahaan Volker ternyata memiliki sisi gelap. Terbukti, pada 1916  perusahaan Volker terlibat dalam persiapan dan dukungan ‘perampasan lahan’ yang akan digunakan untuk proyek pembangunan Zuiderzeewerken. Zuiderzeewerken adalah sistem bendungan dan tanggul buatan manusia, pekerjaan reklamasi dan drainase air.

Secara umum ini merupakan proyek rekayasa hidrolik terbesar yang dilakukan oleh Belanda selama abad kedua puluh. Proyek ini melibatkan pembendungan Zuiderzee, sebuah teluk besar yang dangkal di Laut Utara, dan reklamasi tanah di air yang baru tertutup menggunakan polder. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan perilindungan terhadap banjir dan menciptakan lahan tambahan untuk pertanian. (https://en. wikipedia. org/wiki/ Zuiderzee_Works).

Pada 1926, perusahaan Volker juga berpartisipasi dalam Komunutas Pendukung Pelaksanaan Pembangunan Zuiderzee (Society for Execution of Zuiderzee Works) yang didirikan untuk mewujudkan Afsluitdijk. Afsluitdijk adalah bendungan dan jalan raya penting di Belanda. Bendungan sepanjang 32 kilometer ini menutup IJsselmeer dari Laut Wadden. Jalan raya di atas bendungan ini, yang merupakan bagian dari Rijksweg 7, menghubungkan Belanda bagian  Utara dengan Friesland. Pada 2009, setiap harinya terdapat kurang lebih 9.500 kendaraan yang melintasi bendungan ini. Di sebelah utara jalan raya terdapat jalur sepeda dengan lebar 4 meter yang juga digunakan kendaraan lain yang tidak boleh melalui jalan raya. Jalan ini tidak berada di titik tertinggi bendungan, namun di sebelah selatannya, sehingga Laut Wadden tidak dapat dilihat dari jalan raya. Afsluitdijk merupakan bagian dari proyek Zuiderzeewerken. Proyek ini mulai dibangun pada 1927 dan selesai pada 1932. Satu tahun kemudian Afsluitdijk dibuka untuk lalu lintas.

MERUSAK SITUS ROTTERDAM

Meskipun membawa manfaat besar bagi Belanda, namun eksekusi proyek pembangunan tersebut memiliki dampak sosial dan lingkungan yang besar. Demi proyek, para kontraktor  merusak situs-situs bersejarah di sekitar Rotterdam, termasuk Land van Hoboken. Land van Hoboken adalah tanah milik keluarga Van Hoboken dari awal abad ke-19 hingga 1924. Perkebunan itu terletak di antara Nieuwe Binnenweg, Westersingel, Westzeedijk dan Coolhaven yang mencakup area seluas 56 hektare. Lahan perkebunan ini dibangun oleh pengusaha yang ambisius dan sukses Anthony van Hoboken. Dia membeli tanah dari keuntungan yang dia hasilkan dalam perdagangannya, pembuat kapal dan perusahaan pelayaran yang menghubungan  Rotterdam dan Batavia. Pada tahun 1927, tanah warisan itu jatuh ke tangan pemerintah Belanda. (http://tunnelzicht.nl/gebieden/het-land-van-hoboken).

Selain itu, perusahaan  Volker ternyata  melakukan pelanggaran Undang-Undang Perburuhan secara memalukan dengan memberlakukan jam kerja secara berlebihan, hingga 55 jam per minggu bagi 400 orang karyawannya. Praktik bisnis yang curang itu membuat kinerja dan nama besar Volker merosot, baik di Belanda, maupun di luar negeri, tak terkecuali di Hindia Belanda. Lendert Volker  meninggal dunia pada 1930 dalam usia 74 tahun. Waktu itu bisnis Volker sedang mengalami kemelut dan penurunan.

GEDUNG MEWAH DI CAWANG

Pabrik Waskita Beton Precast Tbk,
Pabrik Waskita Beton Precast Tbk

Kini perusahaan itu telah menjelma menjadi PT Waskita Karya Tbk. adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Perusahaan ini berasal dari nasionalisasi perusahaan Belanda Volker Aannemings Maatschappij N.V. pada tahun 1961 dan berubah bentuk menjadi persero pada tahun 1973.

PT Waskita Karya Tbk. memiliki beberapa anak perusahaan dan salah satunya adalah PT Waskita Beton Precast Tbk. yang telah go public dan memiliki asset lebih dari Rp15 triliun. WSBP, begitu kode perdagangan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, bagaikan anak ajaib yang dalam lima tahun telah mengalami pertumbuhan aset sebanyak lima kali lipat dan berkantor di gedung mewah di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

 

 

Berita Lainnya