Rights Issue VKTR Rp3 Triliun, Grup Bakrie Siapkan Pembeli Siaga, Siapa Dia?
- 8 October 2026
- 2 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA — PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) memasuki tahap penting penambahan modal melalui penerbitan saham baru senilai maksimal Rp3 triliun. Emiten kendaraan listrik Grup Bakrie tersebut menetapkan Kamis (8/10/2026) sebagai tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak memperoleh HMETD.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), VKTR menawarkan maksimal 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Jumlah tersebut setara 25,53% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue.
Aksi korporasi ini telah memperoleh pernyataan efektif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 September 2026. Setiap pemegang 35 saham lama berhak memperoleh 12 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Pemegang saham harus tercatat dalam daftar pemegang saham pada 8 Oktober pukul 16.15 WIB. Perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 12–23 Oktober 2026.
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku pemegang saham utama tidak akan menggunakan haknya secara langsung. BNBR akan mengalihkan 3.660.631.994 HMETD kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).
BCI berkomitmen melaksanakan seluruh hak tersebut dengan nilai sekitar Rp732,13 miliar. Perusahaan itu juga ditunjuk sebagai salah satu pembeli siaga bersama PT Biofuel Indo Sumatra (BIS).
Kedua perusahaan menyiapkan komitmen pembelian maksimal sekitar 11,34 miliar saham yang tidak terserap setelah proses penjatahan. Nilai komitmen tersebut mencapai sekitar Rp2,27 triliun.
BCI dapat menyerap tambahan saham senilai maksimal Rp617,87 miliar. Sementara itu, BIS menyiapkan dana hingga Rp1,65 triliun untuk membeli sisa saham sesuai perjanjian.
Direktur Utama VKTR A. Ardiansyah Bakrie menyatakan penambahan modal ditujukan untuk memperkuat bisnis kendaraan listrik komersial. Perusahaan melihat peluang pertumbuhan dari meningkatnya kebutuhan elektrifikasi transportasi.
Sekitar 66,86% dana hasil rights issue akan dialokasikan melalui setoran modal kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia. Anak usaha tersebut akan menggunakan dana untuk pengadaan kendaraan listrik guna mendukung kegiatan penyewaan.
Sisa dana digunakan untuk kebutuhan modal kerja VKTR, termasuk pembelian persediaan bus, truk, transporter, dan forklift listrik. Pendanaan ini diharapkan memperkuat kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi hingga 25,53%. Besarnya perubahan kepemilikan aktual bergantung pada jumlah saham baru yang akhirnya diserap masing-masing investor.
Pasar selanjutnya menunggu hasil pelaksanaan HMETD dan komposisi pemegang saham setelah aksi korporasi selesai. Realisasi penggunaan dana serta pertumbuhan penjualan kendaraan listrik menjadi ukuran keberhasilan penambahan modal tersebut.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *