IDX
IHSG 7,245 ▲ +18.40 (+0.25%)BBCA 10,250 ▲ +75.00 (+0.74%)BBRI 4,580 ▼ 20.00 (-0.43%)BMRI 5,725 ▲ +25.00 (+0.44%)TLKM 2,780 ▼ 10.00 (-0.36%)ASII 4,850 ▲ +15.00 (+0.31%)UNVR 2,320 ▼ 30.00 (-1.28%)GOTO 58.00 ▲ +1.00 (+1.75%)ADRO 2,410 ▲ +40.00 (+1.69%)BBNI 4,620 ▼ 15.00 (-0.32%)IHSG 7,245 ▲ +18.40 (+0.25%)BBCA 10,250 ▲ +75.00 (+0.74%)BBRI 4,580 ▼ 20.00 (-0.43%)BMRI 5,725 ▲ +25.00 (+0.44%)TLKM 2,780 ▼ 10.00 (-0.36%)ASII 4,850 ▲ +15.00 (+0.31%)UNVR 2,320 ▼ 30.00 (-1.28%)GOTO 58.00 ▲ +1.00 (+1.75%)ADRO 2,410 ▲ +40.00 (+1.69%)BBNI 4,620 ▼ 15.00 (-0.32%)
Bisnis Figur Headline

Rofikoh Rokhim, dari Meja Redaksi ke Kursi Komisaris Independen

BISNISNEWS.COM, JAKARTA: Rofikoh Rokhim membawa jejak karier yang tidak lazim ke jajaran komisaris PT Telkom Indonesia Tbk.

Ia memulai perjalanan profesional dari ruang redaksi Bisnis Indonesia, menempuh pendidikan ekonomi dan keuangan publik di Prancis, lalu membangun reputasi sebagai akademisi, peneliti, dan pengawas korporasi di sejumlah perusahaan besar, termasuk BRI, sebelum kini dipercaya menjadi Komisaris Independen Telkom.

Ada satu benang merah yang menghubungkan perjalanan itu: membaca angka, memahami kebijakan, lalu menerjemahkannya menjadi keputusan.

Jejak itu tidak dimulai dari ruang rapat. Ia tumbuh dari dunia jurnalistik. Pada pertengahan 1990-an, Opiek, begitu Rofikoh akrab dipanggil, mengawali karier sebagai wartawan Harian Bisnis Indonesia. Dunia liputan ekonomi mempertemukannya dengan bahasa pasar, denyut korporasi, perubahan kebijakan, serta dinamika usaha yang bergerak cepat setiap hari.

Sebagai wartawan, ia pernah meliput sektor properti dan real estat, di masa booming pembangunan mal, apartemen, dan perumahan. Setelah itu bidangnya bergeser ke usaha mikro, kecil, dan menengah. Dari sana, Opiek melihat ekonomi bukan hanya sebagai angka dalam laporan keuangan, melainkan sebagai kehidupan pelaku usaha, soal akses pembiayaan, risiko, dan keberanian mengambil keputusan.

20 Tahun Membangun Fondasi

Opiek masuk Bisnis Indonesia pada 1993, setelah menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi UII sekaligus di FISIP UGM. Perjalanannya panjang dan lengkap:1993 – 1996: Reporter properti dan UMKM. Di masa ini belum ada wartawan khusus UMKM. Manajemen memintanya mengembangkan satu halaman khusus UMKM, halaman pertama di koran ekonomi Indonesia yang secara khusus bicara soal usaha kecil. Liputannya keliling Indonesia, didukung Astra dan Kementerian Koperasi/UMKM.

Pada 1996 – 2000-an: Reporter pasar modal dan perbankan. Di sinilah ia membangun jaringan di kalangan pasar modal, mengambil sertifikasi, dan mulai mengajar di Politeknik Swadharma BNI (1996-1998) sambil tetap jadi wartawan.

Pada 2000-an – 2013: General Manager Riset dan Pengembangan Bisnis. Ia dipercaya menakhodai Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU), unit riset di bawah Bisnis Indonesia Group. Dari pewarta lapangan, ia naik menjadi pengelola data, riset industri, dan intelijen bisnis.

Di posisi inilah ketajamannya membaca data dan menyusun gambaran besar makin terasah.Total hampir 20 tahun di Bisnis Indonesia, hingga akhirnya ia memutuskan resign pada 2013 untuk menjadi dosen tetap di FEB UI.

Pengalaman jurnalistik itu menjadi modal penting. Ia terbiasa membaca dokumen, menguji informasi, bertemu narasumber, dan menyusun gambaran besar dari potongan fakta yang tersebar. Kemampuan itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya ketika masuk ke dunia akademik dan tata kelola perusahaan.

Dari Paris ke Kampus UIPerjalanan intelektual Rofikoh dibentuk oleh pendidikan panjang di Prancis. Setelah sarjana di Indonesia, ia melanjutkan studi ke Institut International d’Administration Publique (IIAP) – Ecole Nationale d’Administration (ENA) Paris, mengambil bidang keuangan publik.

Ia kemudian melanjutkan ke Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne, salah satu pusat tradisi ilmu ekonomi di Prancis. Di Sorbonne, ia meraih D.E.A (setara M.Phil) di bidang International and Development Economics, lalu meraih gelar doktor ekonomi dengan fokus kajian makro-mikro terapan, studi pembangunan, dan keuangan.

Skripsinya sejak awal sudah menunjukkan keberpihakan: Evaluasi Paket Januari 1990 tentang Penyaluran 20 Persen Kredit Bank kepada UMKM. Disertasinya membahas krisis perbankan, menyoroti BMPK kredit korporasi, pendanaan intra-group, dan tata kelola bank.

Setelah kembali, ia bergabung dengan FEB UI. Di sana ia dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 13 Maret 2021 dengan pidato berjudul Perbankan dan Keuangan Sosial: Aspek Berkelanjutan untuk Kesejahteraan. Isu yang ia bawa tetap sama: inklusi keuangan, pembiayaan UMKM, dan keberlanjutan.

Bahtera Korporasi BUMN

Rekam jejak Opiek di korporasi tidak datang tiba-tiba. Sebelum dikenal sebagai komisaris bank pelat merah, ia telah malang melintang di komite-komite pengawasan:

Ketua Komite Pemantau Manajemen Risiko dan anggota Komite Audit PT Pos Indonesia (Persero).

Anggota Satuan Tugas Kementerian ESDM

Anggota Satuan Tugas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Anggota Komite Pelayanan dan Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

Komisaris Utama PT Hotel Indonesia Natour (HIN)

Polanya jelas: ia lebih banyak bergerak di wilayah pengawasan, risiko, pelayanan publik, dan tata kelola.

Nama Opiek  semakin dikenal ketika masuk ke PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Pada 2017, ia ditunjuk sebagai Komisaris Independen BRI. Penunjukan ini menarik perhatian karena ia datang dari jalur akademisi dan jurnalis ekonomi, bukan dari jalur bankir karier.

Di BRI, perannya berkembang menjadi Wakil Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen (2021-2024). Ia terlibat di komite-komite strategis: Komite Audit, Nominasi dan Remunerasi, serta Tata Kelola Terintegrasi. Di bank dengan basis nasabah mikro terbesar di Indonesia itu, pengalaman riset UMKM dan kebijakan pembiayaannya menjadi sangat relevan.

Babak Baru di Telkom

Kini, Opiek memasuki babak baru sebagai Komisaris Independen Telkom Indonesia per RUPSLB 12 Desember 2025. Tantangannya berbeda dari perbankan, tapi akarnya sama: tata kelola, risiko, pembiayaan investasi, dan transformasi bisnis.

Telkom tengah bergerak di tengah perubahan besar industri digital. Bisnisnya tidak lagi hanya tentang jaringan suara dan data, tapi juga pusat data, layanan enterprise, cloud, keamanan siber, kecerdasan buatan, dan ekosistem digital nasional.

Dalam konteks itu, kehadiran komisaris independen dengan latar belakang ekonomi, keuangan, riset, dan tata kelola menjadi penting. Fungsi komisaris bukan menjalankan operasional, melainkan memastikan arah perusahaan tetap sehat, akuntabel, prudent, dan berkelanjutan.

Opiek  membawa pengalaman dari tiga dunia sekaligus. Dari jurnalistik, ia membawa ketajaman membaca persoalan dan keberanian bertanya. Dari akademik, ia membawa disiplin analisis dan kebiasaan bekerja dengan data. Dari korporasi BUMN, ia membawa pengalaman mengawasi organisasi besar yang harus menjaga kepentingan pemegang saham, publik, dan negara.

Perjalanan dari meja redaksi Bisnis Indonesia pada 1990-an hingga ke kursi Komisaris Independen Telkom di tahun 2025 memperlihatkan satu hal: pengalaman membaca ekonomi dari bawah, dari lapak UMKM, dapat menjadi bekal yang kuat untuk mengawasi perusahaan besar dari atas.

 



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *