Bisnis Headline

Cadangan Devisa Turun dari US$156 Miliar ke US$145 Miliar, BI: Masih Aman

Bank Indonesia mengakui posisi cadangan devisa turun dari level tertinggi tahun ini sekitar US$156 miliar menjadi sekitar US$145 miliar. Meski demikian, BI menegaskan cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman karena setara lebih dari lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

INDOWORK.ID, JAKARTA: Bank Indonesia menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih aman meski mengalami penurunan dari level tertinggi sepanjang 2026.

Dalam sesi tanya jawab konferensi pers KSSK, Pjs Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti ditanya mengenai cadangan devisa yang terus menurun sejak awal tahun serta berapa besar yang telah digunakan untuk stabilisasi rupiah dan pembayaran utang luar negeri.

Destry tidak membuka angka rinci penggunaan cadangan devisa. Namun, ia menyebut posisi tertinggi cadangan devisa Indonesia pada 2026 berada di sekitar US$156 miliar, sementara posisi terakhir berada di sekitar US$145 miliar.

“Jadi teman-teman bisa membayangkan itulah kurang lebih pengurangan dari cadangan devisa kita,” kata Destry dalam konferensi pers tersebut.

Dipakai untuk Stabilisasi Rupiah

Destry menjelaskan, penurunan cadangan devisa tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurut dia, dana pemerintah juga berada di Bank Indonesia sehingga kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah turut memengaruhi posisi cadangan devisa.

Meski begitu, BI menilai posisi cadangan devisa saat ini masih cukup kuat. Destry menyebut level sekitar US$145 miliar masih setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Rupiah Sempat Tertekan

Sebelumnya, BI menyatakan rupiah sempat melemah sejak pertengahan Juli 2026 akibat meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Namun, rupiah kembali menguat ke level Rp17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026.

BI juga mencatat aliran investasi portofolio asing pada triwulan II-2026 mencapai net inflow sebesar US$8,5 miliar, terutama didukung oleh instrumen SBN dan SRBI.

Dengan posisi tersebut, BI menegaskan akan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui bauran kebijakan. Instrumen yang digunakan mencakup intervensi di pasar valas, pengelolaan likuiditas, insentif bagi aliran masuk portofolio asing, dan pendalaman pasar uang serta pasar valas.

Penurunan cadangan devisa menjadi perhatian pasar karena mencerminkan besarnya tekanan eksternal yang harus dihadapi bank sentral. Namun, selama posisi cadangan devisa tetap jauh di atas standar internasional, ruang BI untuk menjaga stabilitas rupiah dinilai masih memadai.



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *