Bisnis Headline

BI Rate Naik 100 Bps, Destry Sebut Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas

Bank Indonesia menjelaskan kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Keputusan tersebut diambil saat tekanan global meningkat, harga minyak naik, dan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed menguat.

INDOWORK.ID, JAKARTA: Bank Indonesia menegaskan kebijakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin merupakan langkah preemptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta inflasi.

Pjs Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, kenaikan BI Rate dilakukan pada periode ketika kondisi global sangat volatil. Saat itu, pasar memperkirakan suku bunga The Fed dapat naik lebih cepat dari perkiraan awal, harga minyak sedang tinggi, dan tekanan terhadap rupiah meningkat.

“Stabilitas ini menjadi prioritas kita dua bulan tersebut sehingga kita naikkan suku bunga,” ujar Destry dalam konferensi pers KSSK.

BI menaikkan BI Rate secara bertahap, yaitu 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada RDG Mei 2026, kemudian 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada RDG mingguan 9 Juni 2026, dan kembali naik 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada RDG Juli 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Inflow Masuk ke SBN dan SRBI

Destry menyebut kebijakan suku bunga tersebut diharapkan menciptakan *repricing* aset rupiah dan memberi imbal hasil yang lebih menarik bagi investor. Dampaknya, aliran modal asing masuk ke instrumen SBN dan SRBI.

Menurut BI, aliran investasi portofolio asing pada triwulan II-2026 mencatat *net inflow* sebesar US$8,5 miliar. Arus masuk itu terutama ditopang SBN dan SRBI serta berlanjut pada triwulan III-2026 seiring meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik rupiah.

BI juga memperkuat stabilisasi melalui intervensi valas, baik lewat NDF di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI memperluas insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan mempercepat pendalaman pasar uang serta pasar valas.

Kredit Masih Tumbuh Kuat

Meski suku bunga naik, BI menilai dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan masih terkendali. Destry mengatakan pertumbuhan kredit pada Juni 2026 masih kuat, yakni di atas 12 persen.

OJK dalam paparan yang sama menyebut kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp9.080 triliun. Pertumbuhan terutama didorong kredit investasi yang tumbuh 24,9 persen, disusul kredit modal kerja sebesar 8,94 persen dan kredit konsumsi 5,75 persen.

Dengan kondisi tersebut, BI mengambil posisi menjaga stabilitas tanpa sepenuhnya mengabaikan pertumbuhan. Kebijakan makroprudensial longgar tetap diperkuat untuk mendorong kredit ke sektor riil, terutama sektor prioritas.

Bagi pasar, penjelasan Destry menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter BI saat ini masih condong pada pro-stability. Ruang pelonggaran belum menjadi agenda utama selama tekanan global dan risiko terhadap rupiah masih tinggi.



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *