Bisnis Headline

Saham ISSP, Penjualan Naik Tapi Laba Turun



single-image
INDOWORK.ID, JAKARTA: Pada pembukaan sesi pagi ini (Jumat 2 Desember 2022), saya menyendok saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) di Rp264. Begitu transaksi done, tiba-tiba harga saham anjlok lumayan tajam ke Rp256. Peristiwa SGER berulang.
Reaksi saya sedikit berbeda. ISSP merupakan salah satu anggota inti portfolio saya. Di samping IPCM, MTEL dan BRMS.
Saya sejatinya tak terlalu pusing dengan harga yang bergerak seperti gigi gergaji dalam jangka pendek. Sepanjang keyakinan saya terhadap prospek perusahaan tidak goyah.

PUBLIC EXPOSE

Karena itu, saya mencoba mencari latar belakang fundamental. Kebetulan ISSP akan menyelenggarakan public expos tanggal 6 Desember yang akan datang. Saya mengambil waktu untuk melihat selintas sebagian dari materi public expose. Berikut beberapa yang sempat saya baca.
Pertama, penjualan tahun ini diperkirakan akan tetap naik. Volume maupun nilai. Perusahaan memperkirakan nilai penjualan akan naik 14% dari Rp5,4 triliun pada 2021 menjadi Rp6,3 T pada tahun ini.
Kedua, namun laba kotor dan laba bersih diperkirakan turun karena penurunan ASP, biaya persediaan dan kenaikan bahan bakar. Marjin laba bersih turun lumayan tajam dari 11,8% pada 3Q21 menjadi 6,5% pada 3Q22
Ketiga, komposisi penjualan perusahaan relatif lebih merata walaupun masih didominasi oleh sektor konstruksi dan infrastruktur (69%). Sisanya merupakan kontribusi sektor furnitur (18%), otomotif (14%) dan migas (kurang dari 1%).

TETAP NYAMAN

Tetap nyaman memegang ISSP sebagai anggota inti portfolio. Berikut beberapa penerawangan:
Pertama, penjualan akan tetap meningkat. Industri pelanggan merupakan sektor yang bertumbuh. Terutama konstruksi, transportasi dan infrastruktur. Dimulainya pembangunan IKN merupakan potensi pasar yang luar biasa, disamping proyek proyek prioritas nasional lainnya.
Kedua, marjin akan kembali meningkat dengan strategi fokus pada produk dengan marjin lebih tinggi, fokus pada end-users, dan efisiensi proses produksi. Ditambah lagi upaya peningkatan perputaran aset dan persediaan yang lebih cepat.
Ketiga, leverage mengalami penurunan. Biaya dana pinjaman – refinancing – turun dari 7,5% menjadi 6,3% per tahun. Beban keuangan akan turun signifikan.
Keempat, sektor migas menjanjikan peluang cukup besar bila digarap dengan serius.
*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Indowork.id

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya