INDOWORK.ID, JAKARTA: Satu hari di Sukabumi bisa bikin hati adem sekaligus jantung deg-degan. Rutenya? Mulai dari sujud di masjid ikonik, berakhir melayang di atas hutan.
Pagi Sukabumi saya bukan di jantung kota, tetapi langusung ke Masjid Sejuta Pemuda, dan pantes aja disebut demikian karena memang dikolola oleh para pemuda. Ustadz Muhammad Sulaiman, 26, menyambut para jemaah yang dari dari seluruh penjuru tanah air. Ada yang dari Banjarnegara, Majalengka, Bekasi, Jakarta. “Bahkan ada yang datang dari Belitung,” kata Sulaiman, Rabu, 10 Juni 2026.
Shalat dzuhur di Masjid Agung. Kubah hijaunya megah, halamannya nyambung langsung ke Alun-alun yang super bersih. Saya nggak cuma numpang shalat. Duduk di teras masjid sambil ngopi dari warung seberang, ngeliatin anak-anak main di alun-alun, tukang sapu nyapu dengan telaten. Damai.
Ini Sukabumi versi kalemnya, sebelum kita dibikin teriak-teriak nanti siang. Tips: Datang pagi sekalian sunrise. Cahaya mentari yang nyelip di sela kubah itu fotogenik banget. Parkir motor Rp3.000, mobil Rp5.000.
45 MENIT MENUJU HUTAN

Setelah maka siang di restoran Sunda Rasa, langsung gas ke Kadudampit. Dari pusat kota cuma 30-45 menit naik motor/mobil. Jalannya nanjak, udara mulai dingin, wangi hutan kecium dari helm. Kalau naik angkot: ambil jurusan Stasiun Cisaat dari kota, terus sambung ojek ke gerbang Situ Gunung. Ongkos ojek sekitar Rp25.000-Rp30.000. Tapi saran saya, riding sendiri lebih seru. Banyak spot dadakan buat foto kebun teh.
Welcome to Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Saya ambil tiket VIP Rp100.000. Worth it karena udah dapet welcome drink, mobil antar-jemput ke gerbang jembatan, dan pastinya akses ke si legenda: Jembatan Gantung Situ Gunung.
Panjangnya 243 meter, nggantung di atas jurang hutan tropis. Sekali melangkah, papan kayunya goyang dikit. Adrenalin naik, tapi pemandangannya gila. Di bawah kita jurang hijau, di depan ada kabut tipis. Rasanya kayak jalan di atas awan.
Belum puas? Coba Keranjang Sultan. Kita duduk di keranjang besi, terus diluncurin di atas sungai. Terasa cuma 10 detik, tapi teriakannya bisa seminggu nggak ilang. Tutup adventure dengan trekking santai ke Curug Sawer. Dari ujung jembatan tinggal jalan 15 menit. Air terjunnya tinggi, debitnya deras, percikannya kena muka. Capek langsung lunas.
Sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan untuk ngopi di Kedai Kopi Ncek Tio Tie 1953. Ini adalah salah satu tempat ngopi paling legendaris dan viral di Sukabumi. Kedai kopi ini ini terkenal karena mempertahankan cita rasa klasik sejak tahun 1953 serta menawarkan atmosfer vintage atau retro yang sangat kental.
Setelah sempat berada di kawasan pecinan Odeon, kedai ini telah berpindah lokasi ke area komersial bersejarah eks Gedung Capitol. Lokasinya di Jl. A. Yani No. 77, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat (Ex Toko Dunia / Dekat area Capitol). Jam buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 22.00 WIB.
Namun pemesanan kedai ini tidak menerima reservasi (first come, first served). Karena areanya tidak terlalu besar dan sering viral di media sosial, Anda mungkin harus mengantre terutama saat akhir pekan.
Seharian ini saya ngerasain dua wajah Sukabumi. Pagi dia ngajak kita tenang, inget Sang Pencipta di masjid kebanggaan kota. Siangnya dia nantang kita buat taklukin takut di atas jembatan. Spiritual dapet, petualangan dapet.
Pulang-pulang hati penuh, galeri HP penuh, kaki pegel-pegel dikit. Tapi justru itu yang bikin kangen. Wahai Sukabumi, kami datang… dan pasti balik lagi.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *