- 21 July 2026
- 3 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Keterlibatanku sebagai salah satu investor gurem di saham GOTO menjadi catatan panjang. Celoteh bersambung. Panjang dan berulang.
Sejak awal saya kagum sama perusahaan rintisan ini.
Pertama, GOTO saya pandang sebagai salah satu tonggak inovasi anak bangsa.
Kedua, peran sosial yang kental dan menonjol. Di segmen ODS, bayangkan jutaan pengemudi ojek yang semula bergerombol dan ngerumpi di pangkalan, kini mengalami peningkatan produktivitas dan penghasilan. Bisnis ultra mikro, semisal warung makan, yang semula jongkok menunggu pengunjung datang, kini melayani antrian Gofood.
Para pembelanja yang harus datang ke warung, kini bisa menunggu di tempat dengan pilihan lebih bervariasi, diantar ke tempat dan dengan harga yg kadang lebih murah.
Tapi pada tahap awal, menjelang IPO, saya sengit terhadap kebijakan manajemen dan pendiri. Saya menjadi salah satu pengeritik pedas yang paling cerewet Padahal tidak punya saham dan ogah beli saham GOTO
Tiga hal yang saya kritik berulang ulang:
Pertama, strategi bakar duit untuk ekspansi pasar meningkatkan GTV tapi mengorbankan keuntungan.
Kedua, akuisisi Toped dengan harga kemahalan, dan tidak memberikan banyak sinergi
Ketiga, spread antara nominal dengan harga IPO seperti langit dan bumi. Harga IPO = 169 kali nominal. Inovasi perlu dihargai. Tapi penghargaan dan keserakahan memiliki jarak perbedaannya yang jauh.
Tapi setelah GOTO melakukan reorientasi bisnis: berhenti bakar duit, divestasi Toped walau dengan kerugian raksasa, mulai berorientasi pada keuntungan dan harganya sudah terkoreksi banyak, saya mulai kepincut. Kalau nggak salah ingat, mulai awal 2025, setiap harga jatuh di bawah Rp60 saya serok sedikit demi sedikit. Hingga kini saham GOTO merupakan anggota portfolio dengan jumlah lot paling banyak.
Penerawangan saya akhir 2025 adalah saat turn around GOTO dari perusahaan rugi menjadi perusahaan laba bukan cuma EBITDA tapi juga laba bersih.
Saya merasa senang karena penerawangan saya terbukti. Periode 1Q26 untuk pertama kali GOTO membukukan laba bersih. Saya juga senang karena harga sahamnya naik di atas Rp60. Saham saya membukukan unrealized gain sekitar 14%-15% di atas average cost.
GUNTING PRESIDEN PRABOWO
Lalu datang gunting presiden Prabowo Subianto mencabut peluang profitabilitas GOTO lebih jauh. Saham GOTO saya dari unrealized gain 14% langsung berubah menjadi unrealized loss 8%.
Saya tak terlalu risau dengan potensi kerugian itu. Saya lebih risau pada kebijakan makro semacam ini.
Kebijakan ekonomi makro yang berkualitas menurut saya harus win-win bukan zero sum Kebijakan ala Robinhood – merenggut dari sebagian untuk dibagikan kepada sebagian yang lain, – mungkin terlihat adil untuk pemerataan, tapi tidak memperbaiki kemaslahatan bersama Memberi bonus kepada ribuan mitra pengemudi lebih mulia kalau tidak dilakukan dengan cara mengambil dari ribuan pemegang saham.

Kilah bahwa orang kampung tidak butuh saham hanya butuh isi perut, bagi saya – orang kampung asli – terasa seperti suatu penghinaan.
Akhirnya, akankah GOTO mampu kembali mencatat kentungan setelah potensi pendapatan dari segmen ODS dipenggal 60%, akan saya celotehi lagi, setelah melakukan penerawangan berikutnya.
*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Investor di Pasar Modal.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *