Headline Humaniora

MBG Jagakarsa 008: Saat Dapur Bergizi Berubah Jadi Dapur Penyakit

INDOWORK.ID, JAKARTA: Warga Kampung Sawah, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan mengeluhkan lingkungan menjadi bau dan kotor. Mereka memprotes Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Jagakarsa 008 yang berlokasi di RT 001 RW 002.

Alasannya klasik tapi fatal: mengabaikan kebersihan.

Sampah menumpuk, limbah cair dibuang ke saluran warga, proses masak tidak higienis. Padahal ini dapur yang harusnya menyiapkan makanan untuk anak sekolah dan ibu hamil.

Dapur itu dikelola Yayasan Generasi Emas Bangsa SPPG 008 Jagakarsa. Ketuanya Firli Ibrahim. Dan yayasan ini terkait dengan Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Gerindra, Wahyu Dewanto.

Warga meminta satu hal: Tutup. Pemerintah sendiri sudah bilang. Badan Gizi Nasional menegaskan akan memberi sanksi tegas hingga penutupan bagi SPPG yang melanggar standar sanitasi.

Ini Bukan Kasus Pertama

Masalahnya, Jagakarsa 008 bukan kejadian pertama. Sejak MBG mulai berjalan masif awal 2026, laporan keracunan dan pelanggaran sanitasi bermunculan dari berbagai daerah:

Bogor, Jawa Barat – Mei 2026: Puluhan siswa SD di Cibinong muntah dan diare massal setelah makan MBG. Dinkes menemukan ayam yang sudah tidak layak dan nasi basi. SPPG-nya disegel sementara.

Surabaya, Jawa Timur – Juni 2026: 34 siswa SMP keracunan. Hasil lab: ada bakteri E.coli dan Salmonella. Penyebabnya: air cuci yang tidak layak dan juru masak tidak pakai sarung tangan.

Makassar, Sulawesi Selatan – Juli 2026: Warga protes karena limbah dapur MBG dibuang ke sungai. Ikan mati dan air jadi bau. SPPG milik ormas lokal.

Tangerang, Banten – Juli 2026: 12 anak PAUD dirawat karena keracunan makanan. Menu hari itu: telur dan sayur. Tapi telurnya sudah bau.

Total, sampai 24 Juli 2026, Badan Gizi Nasional mencatat sudah 23 SPPG di 15 provinsi mendapat teguran tertulis dan 7 SPPG ditutup sementara karena masalah sanitasi dan keracunan.

Angka kecil? Mungkin. Tapi ini baru 6 bulan jalan. Dengan target 82,9 juta penerima dan anggaran Rp171 triliun, kalau pola ini diteruskan, kita sedang membangun pabrik keracunan nasional.

Penyakitnya Ada di Akar

Kenapa terus kejadian? Jawabannya sederhana:

Pertama, rebutan proyek. Begitu ada kata “triliun” dan “makan”, semua orang mau. Yayasan dadakan muncul. Pengurusnya politisi. Juru masaknya asal comot. Yang penting SPPG jalan, anggaran cair.

Kedua, pengawasan kertas. Audit cuma lihat bon dan foto. Nggak ada yang cek dapur jam 4 pagi. Nggak ada yang icip makanan. Nggak ada yang tanya anak: “Enak nggak”

Ketiga, mental “asal jadi”. Standar gizi ada di PowerPoint. Di lapangan: nasi, tempe, teh manis. Murah. Cepat. Untung banyak.

Ujian untuk Negara

MBG Jagakarsa 008 adalah ujian. Ujian apakah negara berani menindak orang dekat kekuasaan.

Kalau SPPG ini tidak ditutup, maka pengumuman “sanksi tegas” dari pemerintah hanyalah omong kosong. Kalau ditutup, maka beri contoh ke 23 SPPG bermasalah lainnya: bahwa nyawa anak tidak bisa dinegosiasikan dengan kartu partai.

Program MBG itu niatnya mulia. Tapi niat mulia tanpa eksekusi bersih akan melahirkan generasi yang bukan cuma stunting, tapi juga keracunan.

Dan itu jauh lebih mahal biayanya. Jakarta, 25 Juli 2026

 



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *