- 11 June 2026
- 7 min read
McDermott Indonesia memproduksi stasiun konverter 2 gigawatt untuk proyek transmisi listrik tenaga angin lepas pantai di Laut Utara. Fasilitas baru di Batam memperkuat posisi Indonesia dalam industri energi bersih global.
INDOWORK.ID, JAKARTA: Batam kembali memperoleh panggung penting dalam peta industri global. PT McDermott Indonesia meresmikan dua fasilitas baru, Gedung Cakrawala dan Gedung Nusantara, di kawasan fabrikasinya di Batam, Kepulauan Riau. Fasilitas ini akan digunakan untuk membangun stasiun konverter berkapasitas 2 gigawatt atau 2 GW yang akan dikirim ke Jerman.
Perangkat tersebut menjadi bagian dari proyek transmisi listrik arus searah tegangan tinggi atau high voltage direct current (HVDC) milik TenneT TSO GmbH. Teknologi ini dibutuhkan untuk menyalurkan listrik dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Laut Utara Eropa menuju jaringan listrik di daratan.
Bagi Indonesia, proyek ini bukan sekadar kegiatan fabrikasi. Lebih jauh, keterlibatan McDermott Indonesia menunjukkan bahwa Batam mulai memainkan peran dalam rantai pasok energi bersih dunia. Di tengah kompetisi investasi kawasan industri di Asia Tenggara, Batam berupaya naik kelas: dari basis manufaktur tradisional menjadi bagian dari ekosistem industri hijau.
Peresmian Gedung Cakrawala dan Gedung Nusantara dilakukan pada Kamis, 28 Mei 2026. Acara tersebut dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, perwakilan BP Batam, jajaran manajemen McDermott, serta perwakilan TenneT TSO GmbH.
Gedung Cakrawala difungsikan sebagai area produksi konverter dengan sistem pengendalian cuaca. Sementara itu, Gedung Nusantara digunakan sebagai lokasi pengecatan komponen sebelum seluruh bagian dirakit menjadi struktur besar. Setelah selesai, perangkat tersebut akan dikirim menggunakan kapal ke Jerman dan dipasang untuk mendukung proyek tenaga angin lepas pantai.
Konverter 2 GW merupakan perangkat vital dalam sistem transmisi listrik jarak jauh. Secara sederhana, perangkat ini mengubah listrik arus bolak-balik atau alternating current (AC) dari pembangkit menjadi listrik arus searah atau direct current (DC) bertegangan tinggi. Dengan bentuk DC, listrik dapat dikirim dalam jarak ratusan kilometer dengan kehilangan daya yang lebih rendah. Setelah tiba di daratan, listrik kembali diubah menjadi AC agar dapat masuk ke jaringan distribusi dan digunakan masyarakat.
Vice President Commercial HVDC McDermott Jason Williams menyatakan, dua gedung baru tersebut menggunakan sistem otomatis. Menurut dia, teknologi seperti ini baru pertama kali diterapkan McDermott pada fasilitasnya di Batam.
McDermott telah beroperasi di Batam selama lebih dari 50 tahun. Fasilitas fabrikasi di Batam disebut sebagai yang terbesar di antara enam fasilitas serupa milik perusahaan di berbagai negara. Pengalaman panjang itu menjadi modal penting bagi McDermott untuk mengerjakan proyek-proyek berskala besar, termasuk infrastruktur energi rendah karbon.
Jason menilai proyek 2 GW HVDC ini baru permulaan. Ke depan, kebutuhan proyek transmisi listrik energi terbarukan akan terus tumbuh. Ia memperkirakan akan ada lebih banyak proyek HVDC yang dikerjakan hingga 2030, dengan potensi sekitar satu proyek setiap tahun.
Dari sisi tenaga kerja, proyek ini juga membawa dampak langsung. Project Manager Capex Facilities Upgrade McDermott Indonesia Elviana Sari mengatakan, pembangunan fasilitas baru tersebut melibatkan lebih dari 4.000 pekerja, termasuk subkontraktor dan tim teknis dengan berbagai lingkup pekerjaan.
Tantangan terbesar, menurut Elviana, adalah memastikan seluruh pekerjaan memenuhi standar keselamatan dan kualitas yang ketat. Industri fabrikasi energi berskala global menuntut kepatuhan tinggi terhadap standar quality, health, safety, environment, and security atau QHSES. Karena itu, McDermott menjalankan pelatihan, pendampingan, dan pembinaan kepada para subkontraktor agar standar tersebut dapat terpenuhi.
Keberhasilan pembangunan Gedung Cakrawala dan Gedung Nusantara menjadi bukti peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal. Banyak pekerja dan kontraktor yang sebelumnya memiliki pengalaman terbatas dalam proyek berstandar tinggi kini ikut terlibat dalam fasilitas yang akan melayani kebutuhan energi bersih lintas benua.
Bagi TenneT, proyek ini menjadi bagian dari pekerjaan besar membangun infrastruktur energi Eropa. TenneT TSO GmbH merupakan operator jaringan listrik dan pengembang proyek HVDC 2 GW di Jerman. Perusahaan ini berperan menyalurkan listrik dari pembangkit angin lepas pantai di Laut Utara ke daratan Eropa.
Area Director Offshore Delivery 2 Hanover TenneT TSO GmbH Alexander Barho menyatakan, energi angin lepas pantai menjadi salah satu pilar penting dalam upaya Eropa memperkuat pasokan energi bersih, aman, dan andal. Namun, keberhasilan proyek semacam ini tidak dapat dicapai oleh satu negara atau satu perusahaan saja. Dibutuhkan kemitraan lintas negara, teknologi, dan kapasitas industri yang kuat.
Menurut Alexander, fasilitas baru McDermott di Batam memiliki arti strategis. Di lokasi inilah platform untuk proyek utama 2 GW, antara lain BalWin4 dan LanWin1, dibangun. Proyek tersebut diharapkan mendukung target iklim Eropa sekaligus memperkuat keamanan pasokan energi.
Dari sisi daerah, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menilai proyek ini akan memperkuat posisi Batam sebagai pusat industri energi global. Ia menyatakan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BP Batam perlu terus menjaga iklim investasi melalui kepastian regulasi, infrastruktur, dan pelayanan yang kompetitif.
Kepulauan Riau memiliki modal ekonomi yang cukup kuat. Pada triwulan I-2026, pertumbuhan ekonomi provinsi ini mencapai 7,04 persen secara tahunan. Sementara itu, realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat Rp64,67 triliun. Kehadiran proyek energi bersih berskala internasional diharapkan memperluas efek berganda bagi ekonomi daerah, mulai dari serapan tenaga kerja, aktivitas subkontraktor, hingga jasa logistik.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut peresmian fasilitas ini sebagai momentum penting bagi Indonesia. Menurut dia, proyek ini menunjukkan bahwa Indonesia dapat menjadi bagian dari masa depan investasi dunia, terutama dalam transisi energi.
Rachmat menilai investasi seperti ini tidak hanya berbicara tentang pembangunan gedung atau fasilitas produksi. Lebih dari itu, investasi tersebut membangun keterampilan, kapasitas industri, inovasi, dan transfer teknologi. Semua unsur itu penting untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam ekonomi rendah karbon.
BP Batam juga mulai mengarahkan transformasi kawasan dari manufaktur konvensional menuju ekosistem industri hijau. Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menyampaikan, arah baru Batam perlu ditopang oleh pasokan energi bersih, infrastruktur modern, dan konektivitas logistik internasional.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di kawasan Duriangkang dan Tembesi. Pasokan energi hijau menjadi faktor penting karena persaingan investasi global kini semakin memperhitungkan jejak karbon. Investor tidak hanya mencari lokasi murah, tetapi juga kawasan industri yang mampu memenuhi standar lingkungan dan rantai pasok rendah emisi.
Persaingan Batam juga tidak ringan. Kawasan ini harus berhadapan dengan pusat-pusat industri lain di Asia Tenggara, seperti Johor Bahru di Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Karena itu, daya saing Batam tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur fisik. Reformasi regulasi, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi menjadi faktor penentu.
Pengamat energi sekaligus Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, proyek ini memperlihatkan peluang besar Indonesia dalam rantai pasok energi terbarukan. Eropa saat ini sedang mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Untuk menyalurkan listrik dari lokasi pembangkit ke daratan, dibutuhkan sistem transmisi berkapasitas besar. Dalam konteks ini, teknologi HVDC menjadi pilihan paling efisien untuk transmisi jarak jauh.
Fabby menilai keberhasilan fabrikasi konverter oleh McDermott di Batam menjadi sinyal bahwa Indonesia memiliki kemampuan industri yang relevan dengan kebutuhan transisi energi global. Hal ini juga menunjukkan bahwa iklim investasi Batam masih cukup kompetitif di mata pelaku industri internasional.
Namun, peluang tersebut perlu ditangkap dengan strategi nasional yang lebih terarah. Indonesia tidak cukup hanya menjadi lokasi fabrikasi proyek asing. Pemerintah perlu menyiapkan peta jalan agar industri dalam negeri dapat naik kelas, mulai dari manufaktur komponen, penguasaan teknologi, penguatan sumber daya manusia, hingga keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok global.
Arah investasi dunia semakin jelas bergerak menuju energi terbarukan. Laporan International Energy Agency yang dikutip Fabby menunjukkan bahwa investasi energi bersih kini telah melampaui investasi energi fosil. Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam ekonomi global.
Karena itu, proyek McDermott di Batam memiliki makna lebih luas. Ia bukan hanya cerita tentang dua gedung baru di kawasan industri. Ia adalah tanda bahwa transisi energi membuka ruang baru bagi negara berkembang untuk masuk ke rantai nilai global. Pertanyaannya, sejauh mana Indonesia mampu menjadikan peluang ini sebagai fondasi industri masa depan.
Batam kini berada di persimpangan penting. Dengan lokasi strategis, pengalaman industri panjang, dan kedekatan dengan jalur logistik internasional, kawasan ini punya modal untuk menjadi simpul industri hijau. Namun, modal itu harus dijaga dengan kebijakan yang konsisten, tenaga kerja yang terus ditingkatkan, dan kepastian investasi yang kuat.
Jika seluruh prasyarat itu terpenuhi, proyek konverter 2 GW untuk Eropa dapat menjadi awal dari babak baru: Batam bukan lagi sekadar tempat merakit, melainkan bagian dari mesin besar transisi energi dunia.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *