- 10 August 2026
- 6 min read
Garuda Indonesia mulai mencatatkan pemulihan pendapatan dan efisiensi beban usaha pada kuartal I 2026. Namun, beban keuangan sekitar US$104 juta masih dua kali lebih besar dibandingkan selisih pendapatan dan beban usaha perseroan.
INDOWORK.ID, JAKARTA: Kinerja operasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mulai menunjukkan perbaikan pada tiga bulan pertama 2026. Pendapatan meningkat, beban usaha menurun, jumlah penumpang bertambah, dan tingkat ketepatan waktu penerbangan membaik.
Namun, maskapai penerbangan pelat merah berkode saham GIAA itu belum mampu keluar dari zona merah. Tingginya beban keuangan kembali menghabiskan perbaikan yang dihasilkan dari kegiatan operasional.
Pada kuartal I 2026, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha sebesar US$762,35 juta, naik 5,36% dibandingkan US$723,56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara nominal, terdapat tambahan pendapatan sekitar US$38,79 juta.
Pendapatan terbesar berasal dari penerbangan berjadwal yang mencapai US$648,10 juta. Sementara itu, penerbangan tidak berjadwal menyumbang US$24,98 juta dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$89,27 juta.
Kenaikan pendapatan berjalan bersamaan dengan penurunan beban usaha. Beban usaha Garuda berkurang sekitar US$5,14 juta atau 0,72%, dari US$718,36 juta menjadi US$713,22 juta.
Beban operasional penerbangan turun dari US$361,96 juta menjadi US$350,24 juta. Biaya bahan bakar juga berkurang dari sekitar US$233,42 juta menjadi US$224,74 juta.
Kombinasi kenaikan pendapatan dan penurunan beban membuat selisih antara pendapatan dan beban usaha Garuda meningkat tajam. Pada kuartal I 2025, selisih tersebut hanya sekitar US$5,20 juta. Setahun kemudian, angkanya membesar menjadi US$49,13 juta.
Dengan demikian, Garuda berhasil memperbaiki ruang hasil usahanya sekitar US$43,93 juta dalam satu tahun.
Beban keuangan masih US$104 juta
Perbaikan tersebut belum mampu membawa Garuda mencetak laba karena perseroan masih menanggung beban keuangan sekitar US$104 juta.
Beban itu memang turun sekitar US$20,57 juta atau 16,5% dibandingkan sekitar US$124,57 juta pada kuartal I 2025. Namun, nilainya masih lebih dari dua kali selisih antara pendapatan dan beban usaha Garuda.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Garuda tidak hanya terletak pada kemampuan menjual tiket atau mengendalikan biaya penerbangan. Struktur kewajiban dan pembiayaan perusahaan masih menjadi faktor besar yang menahan pemulihan laba.
Garuda akhirnya membukukan rugi konsolidasian periode berjalan sekitar US$46,48 juta pada kuartal I 2026. Adapun kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$41,62 juta, setara sekitar Rp707,49 miliar menggunakan kurs Rp16.998,8 per dolar AS.
Angka US$41,62 juta tersebut membaik sekitar 45,2% dibandingkan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik induk sebesar kurang lebih US$75,93 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan antara rugi konsolidasian US$46,48 juta dan rugi US$41,62 juta bukan merupakan pertentangan data. Angka pertama menggambarkan keseluruhan kerugian grup, sedangkan angka kedua merupakan bagian kerugian yang menjadi tanggungan pemegang saham entitas induk.
Kendati kerugiannya menyusut, struktur laporan laba-rugi memperlihatkan bahwa Garuda belum mencapai titik ketika hasil usaha mampu menutup biaya pendanaan.
Perseroan perlu menggandakan selisih pendapatan dan beban usahanya hanya untuk mengimbangi beban keuangan kuartalan saat ini. Itu pun belum memperhitungkan pajak, kerugian kurs, dan komponen nonoperasional lainnya.
Tidak semua beban menurun
Penurunan beban usaha Garuda juga belum terjadi secara merata. Beban umum dan administrasi justru meningkat menjadi US$47,81 juta dari US$42,01 juta.
Dengan demikian, pos tersebut naik US$5,80 juta atau sekitar 13,8%, bukan menurun sebagaimana disebutkan dalam sejumlah pemberitaan.
Garuda juga memangkas 128 pegawai, dari 10.852 orang pada akhir 2025 menjadi 10.724 orang pada akhir Maret 2026. Jumlah itu setara penurunan sekitar 1,2%.
Namun, pengurangan jumlah pegawai belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab utama menyusutnya kerugian. Laporan yang dipublikasikan belum memerinci nilai penghematan biaya pegawai yang dihasilkan dari langkah tersebut.
Perbaikan kuartal I lebih jelas terlihat dari tambahan pendapatan US$38,79 juta, penurunan beban usaha US$5,14 juta, dan berkurangnya beban keuangan sekitar US$20,57 juta.
Di sisi operasional, Garuda Group melayani sekitar 5,42 juta penumpang selama kuartal I 2026, meningkat 6,76% secara tahunan. Frekuensi penerbangan juga bertambah sekitar 5,87% menjadi 19.337 penerbangan.
Tingkat ketepatan waktu atau on-time performance membaik menjadi 91,01% dari 87,93% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah pesawat siap operasi juga dilaporkan mencapai 102 unit.
Peningkatan tersebut menjadi indikasi awal bahwa program pemeliharaan dan pemulihan armada mulai menghasilkan tambahan kapasitas. Pada akhir 2025, Garuda Group hanya memiliki sekitar 98–99 pesawat siap operasi dari total 142 pesawat yang dikelola.
Modal masih sangat tipis
Selain beban keuangan, tipisnya modal menjadi risiko lain yang perlu diperhatikan investor. Pada akhir Maret 2026, Garuda memiliki total aset sekitar US$7,5 miliar dan liabilitas US$7,43 miliar.
Ekuitas perseroan hanya tersisa sekitar US$68,25 juta. Posisi tersebut turun US$23,66 juta atau sekitar 25,7% dibandingkan ekuitas US$91,91 juta pada akhir Desember 2025.
Penurunan tersebut terjadi hanya beberapa bulan setelah Garuda memperoleh tambahan modal sekitar Rp23,67 triliun atau US$1,42 miliar dari pemerintah melalui Danantara.
Tambahan modal pada Desember 2025 sebelumnya berhasil membawa ekuitas Garuda kembali positif. Sebelum transaksi tersebut, ekuitas perseroan masih negatif sekitar US$1,35 miliar.
Namun, kerugian yang kembali terjadi pada kuartal I 2026 menunjukkan bahwa bantalan modal Garuda belum terlalu kuat. Jika perusahaan terus membukukan kerugian, sebagian manfaat penambahan modal berisiko kembali tergerus.
Danantara memastikan akan terus mendukung proses pemulihan Garuda. Managing Director Finance Danantara Asset Management Sahala Situmorang mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan manajemen maskapai untuk menghadapi tekanan terhadap arus kas.
“Namun yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” ujar Sahala di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Dukungan tersebut disertai uji ketahanan terhadap berbagai skenario, termasuk pelemahan rupiah dan meningkatnya konflik geopolitik yang dapat mendorong harga energi.
Tekanan avtur belum masuk kuartal I
Hasil kuartal I 2026 belum sepenuhnya menggambarkan dampak kenaikan harga avtur akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Biaya bahan bakar Garuda pada periode tersebut justru masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan baru dari harga minyak dan volatilitas rupiah diperkirakan lebih terlihat dalam laporan kuartal II atau semester I 2026.
Kondisi itu membuat pemulihan Garuda menghadapi ujian lanjutan. Sebagian besar pendapatan maskapai diterima dalam rupiah, sedangkan bahan bakar, pemeliharaan pesawat, sewa, suku cadang, dan kewajiban pembiayaan banyak menggunakan dolar AS.
Garuda telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain mengatur kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, meningkatkan utilisasi armada, menerapkan profil penerbangan yang lebih hemat bahan bakar, memperkuat pendapatan tambahan, dan melanjutkan pengendalian biaya.
Namun, ruang bagi Garuda untuk meneruskan kenaikan biaya kepada penumpang relatif terbatas. Tarif penerbangan domestik masih terikat tarif batas atas, sedangkan penerapan fuel surcharge memerlukan penyesuaian dengan ketentuan pemerintah.
Karena itu, pertumbuhan pendapatan saja belum menjadi jaminan Garuda akan kembali mencetak laba. Pemulihan berkelanjutan baru akan terjadi apabila tambahan pesawat dan penumpang mampu menghasilkan margin yang cukup untuk membayar biaya pemeliharaan serta beban keuangan.
Kuartal I 2026 memperlihatkan bahwa kegiatan operasional Garuda mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, angka-angka tersebut sekaligus memperlihatkan tembok terbesar yang masih harus ditembus: beban keuangan yang tetap lebih besar daripada hasil yang dihasilkan bisnis penerbangan.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *