Dana Asing Keluar, Pemulihan Pasar Keuangan Masih Rapuh
IHSG dan rupiah sempat membaik setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Namun, arus keluar modal asing menunjukkan kepercayaan pasar belum sepenuhnya kembali.
INDOWORK.ID, JAKARTA: Pasar keuangan domestik belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat menguat selama dua hari perdagangan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Namun, penguatan itu belum cukup untuk menandai pulihnya kepercayaan pasar.
Pada perdagangan sesi pertama, Kamis, 11 Juni 2026, IHSG ditutup di level 5.789,4. Indeks melemah 1,91 persen. Pelemahan ini terjadi setelah dalam dua hari sebelumnya pasar saham sempat bergerak positif, seiring respons investor terhadap keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada 9 Juni 2026.
Kenaikan suku bunga tersebut sempat memberi dorongan bagi pasar. Dalam dua hari perdagangan terakhir, IHSG tercatat menguat sekitar 10 persen. Rupiah juga ikut membaik. Setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sepanjang sejarah di level Rp18.171 per dolar Amerika Serikat, nilai tukar rupiah menguat 1,1 persen ke posisi Rp17.971 per dolar AS.
Namun, perbaikan dalam dua hari itu belum bisa dibaca sebagai pemulihan yang solid. Di balik penguatan IHSG dan rupiah, investor asing justru masih mencatatkan aksi jual bersih dalam jumlah besar.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan jual neto Rp2,4 triliun pada perdagangan 9 Juni 2026. Sehari berikutnya, pada 10 Juni 2026, jual neto asing kembali terjadi dengan nilai lebih besar, yakni Rp3,1 triliun.
Arus keluar dana asing ini menjadi sinyal bahwa pasar masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi domestik. Penguatan IHSG dalam dua hari terakhir lebih banyak ditopang oleh aksi beli investor domestik. Padahal, kemampuan investor lokal untuk menjaga reli pasar dinilai lebih terbatas dibandingkan investor asing.
Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai pasar memang merespons positif keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Respons itu terlihat dari penguatan pasar saham dan rupiah dalam dua hari perdagangan terakhir.
Namun, menurut Noval, penguatan singkat tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren penurunan IHSG telah berakhir. Pasar masih membutuhkan waktu untuk menguji apakah kenaikan itu berlanjut atau hanya pembalikan sementara.
Ia menilai dibutuhkan setidaknya tujuh sampai sepuluh hari perdagangan untuk melihat konsistensi penguatan pasar. Jika IHSG mampu terus menguat dalam rentang waktu tersebut, pasar dapat membaca adanya sinyal perbaikan kondisi ekonomi.
“Sebaliknya, jika pasar kembali bergejolak dalam beberapa hari ke depan, penguatan IHSG dua hari terakhir hanya akan menjadi technical rebound atau pembalikan teknis sesaat. Dengan kata lain, kepercayaan pasar masih berada dalam fase pengujian,” seperti dikutip dari Kompas.id.
Noval menambahkan, keluarnya dana asing memperkuat indikasi bahwa kenaikan IHSG belum ditopang oleh keyakinan investor global terhadap ekonomi Indonesia. Kepercayaan investor asing belum sepenuhnya pulih meski Bank Indonesia telah menggunakan instrumen suku bunga untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
Dalam situasi seperti ini, kebijakan moneter saja tidak cukup. Pasar masih menunggu langkah perbaikan yang lebih luas dari pemerintah. Beberapa aspek yang dinilai penting antara lain kepastian hukum, penyederhanaan birokrasi, konsistensi kebijakan, serta agenda ekonomi yang lebih substantif.
Tanpa perbaikan mendasar, kenaikan suku bunga hanya akan bekerja seperti obat pereda nyeri. Gejala tekanan pasar dapat mereda sementara, tetapi sumber masalah belum benar-benar diselesaikan.
Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi juga menilai volatilitas pasar masih tinggi. Dalam analisisnya, penguatan IHSG pada beberapa sesi sebelumnya terutama ditopang oleh sektor perbankan, telekomunikasi, dan transportasi.
Meski demikian, aksi jual asing yang besar serta pelemahan sejumlah harga komoditas menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati. Pemulihan tajam dalam satu hari perdagangan belum cukup untuk mengubah sentimen pasar secara menyeluruh.
“Ke depan, arah pasar diperkirakan tetap sensitif terhadap langkah Bank Indonesia berikutnya. Investor akan mencermati apakah BI masih akan menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah atau mulai menahan kebijakan agar tidak terlalu menekan pertumbuhan ekonomi,” seperti dikutip dari Kompas.id.
Kenaikan suku bunga memang dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah dan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik. Namun, konsekuensinya adalah biaya pinjaman berpotensi naik. Jika hal itu berlanjut, konsumsi rumah tangga dan investasi dapat ikut tertekan.
Di sisi lain, pemerintah bersama Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2027 bergerak di kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi penguatan dibandingkan posisi saat ini, meski masih lebih lemah dibanding asumsi makro 2026 yang dipatok Rp16.500 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, terdapat beberapa faktor yang menopang proyeksi penguatan rupiah pada 2027. Faktor tersebut mencakup prospek ekonomi dunia yang membaik, fundamental ekonomi domestik, kebijakan ekspor sumber daya alam, komitmen BI menjaga stabilitas, serta koordinasi fiskal dan moneter.
Menurut Perry, gejolak global memang masih sulit diprediksi. Namun, kondisi ekonomi dunia pada 2027 diperkirakan tidak akan seberat tahun ini. Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia juga dinilai tetap terjaga, ditopang pertumbuhan yang lebih tinggi, inflasi dalam sasaran, neraca pembayaran yang sehat, dan defisit transaksi berjalan yang rendah.
Bank Indonesia juga akan terus menggunakan instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dapat dilakukan di pasar spot maupun melalui transaksi forward, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kecukupan cadangan devisa dan menjaga kepercayaan pasar.
Selain itu, kebijakan pemerintah terkait ekspor sumber daya alam dan implementasi Devisa Hasil Ekspor atau DHE diharapkan dapat meningkatkan pasokan valuta asing. Peningkatan penerimaan devisa menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat cadangan devisa dan menopang rupiah.
Perry menegaskan, koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah, terutama Kementerian Keuangan, akan terus diperkuat. Koordinasi tersebut mencakup upaya menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya tarik imbal hasil investasi portofolio, serta memastikan likuiditas pasar dan perbankan tetap memadai.
Meski demikian, pasar tampaknya masih menunggu bukti lebih konkret. Penguatan rupiah dan IHSG dalam jangka pendek belum cukup untuk menghapus kekhawatiran investor terhadap tekanan eksternal, prospek pertumbuhan, dan konsistensi kebijakan domestik.
Dengan arus modal asing yang masih keluar, pasar keuangan Indonesia belum bisa disebut pulih. Kenaikan suku bunga memberi ruang napas, tetapi belum menjadi jaminan bahwa kepercayaan telah kembali.
Dalam beberapa hari perdagangan ke depan, arah IHSG, pergerakan rupiah, dan respons investor asing akan menjadi indikator penting. Jika dana asing kembali masuk dan penguatan pasar berlanjut, pemulihan dapat lebih dipercaya. Namun, jika tekanan berulang, pasar akan kembali menguji ketahanan kebijakan ekonomi Indonesia.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *