Bisnis Headline Manufaktur

Sektor Tambang Bergairah, Pasar Alat Berat Indonesia Tetap Menjanjikan

Pasar alat berat Indonesia masih dinilai prospektif dalam jangka panjang. Aktivitas pertambangan, perkebunan, kehutanan, pembangunan infrastruktur, hingga agenda hilirisasi mineral menjadi penopang utama permintaan alat berat di dalam negeri.

INDOWORK.ID, JAKARTA:  Indonesia masih menjadi salah satu pasar penting bagi produsen alat berat global. Potensi besar sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan pembangunan infrastruktur membuat kebutuhan alat berat diperkirakan tetap tumbuh dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi tersebut turut mendorong PT Liugong Machinery Indonesia memperkuat bisnisnya di Tanah Air. Perusahaan asal China itu melihat Indonesia sebagai pasar strategis di Asia Tenggara karena ukuran ekonominya besar dan memiliki sumber daya alam melimpah.

President Director PT Liugong Machinery Indonesia Levi Lin mengatakan, Indonesia memiliki populasi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di dunia. Komoditas seperti batu bara, nikel, bauksit, emas, timah, dan kelapa sawit membutuhkan dukungan alat berat dalam jumlah besar.

“Indonesia memiliki populasi terbesar di Asia Tenggara dan merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam terbesar di dunia. Batu bara, nikel, bauksit, hingga kelapa sawit menjadi sektor yang membutuhkan dukungan alat berat dalam jumlah besar,” ujar Levi, dikutip Rabu, 17 Juni 2026 pada siaran pers perusahaan.

Liugong mulai masuk ke pasar Indonesia pada 2006 melalui kemitraan dengan perusahaan lokal. Pada 2019, perusahaan meningkatkan investasinya secara langsung dengan membentuk PT Liugong Machinery Indonesia dan PT Liugong Machinery Manufacturing Indonesia.

Meski rencana pembangunan fasilitas manufaktur sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, bisnis perdagangan alat berat Liugong di Indonesia tetap berkembang pesat. Dalam lima tahun terakhir, penjualan perusahaan meningkat signifikan.

Levi menyebut, volume penjualan Liugong yang hampir nol pada 2019 tumbuh menjadi lebih dari 3.500 unit per tahun pada 2025. Dalam periode yang sama, pendapatan perusahaan melonjak lebih dari 11 kali lipat.

Hilirisasi Jadi Penggerak Baru

Liugong menilai prospek industri alat berat Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan masih menjanjikan. Selain didorong eksploitasi sumber daya alam, kebijakan hilirisasi mineral yang terus diperkuat pemerintah diperkirakan menciptakan permintaan baru.

Pengembangan industri hilir mineral membutuhkan alat berat tidak hanya untuk aktivitas tambang, tetapi juga untuk pembangunan kawasan industri, smelter, infrastruktur pendukung, dan kegiatan operasional di lapangan.

“Indonesia sedang mendorong hilirisasi dan pengembangan industri. Kami melihat ini sebagai peluang besar karena akan meningkatkan kebutuhan alat berat di berbagai sektor,” kata Levi.

Menurut Levi, pemerintah diharapkan terus menghadirkan kebijakan yang mampu menarik investasi manufaktur dan memperkuat rantai pasok industri alat berat di dalam negeri. Langkah ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi bagian dari basis produksi dan ekosistem industri alat berat regional.

Saat ini, sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar bagi bisnis Liugong di Indonesia. Lebih dari 50 persen pendapatan perusahaan berasal dari sektor tambang, mencakup batu bara, nikel, emas, timah, hingga bauksit.

Sementara itu, sektor perkebunan dan kehutanan memberikan kontribusi sekitar 30 persen terhadap pendapatan perusahaan. Segmen ini dinilai lebih stabil dibandingkan tambang karena tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

“Mining masih menjadi tulang punggung bisnis kami di Indonesia. Namun sektor perkebunan dan kehutanan juga sangat penting karena cenderung lebih stabil dibanding sektor tambang yang dipengaruhi harga komoditas global,” ujar Levi.

Di luar tambang dan perkebunan, pembangunan infrastruktur nasional juga menjadi pasar potensial. Berbagai proyek pemerintah dan swasta tetap membutuhkan dukungan alat berat, mulai dari pekerjaan tanah, konstruksi jalan, pelabuhan, kawasan industri, hingga energi.

Pelanggan Tambang Makin Fokus Efisiensi

Meski prospek pasar masih terbuka, pelanggan alat berat kini semakin selektif. Perusahaan tambang menghadapi tantangan untuk menjaga biaya operasional tetap kompetitif di tengah fluktuasi harga komoditas dan kenaikan biaya energi.

Karena itu, keputusan pembelian alat berat tidak lagi hanya ditentukan oleh harga unit. Pelanggan kini semakin memperhitungkan produktivitas, efisiensi bahan bakar, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, dan tingkat kesiapan operasi alat.

“Bagi pelanggan tambang, yang terpenting bukan hanya membeli alat berat, tetapi bagaimana alat tersebut menghasilkan keuntungan dan memiliki tingkat ketersediaan operasional yang tinggi,” kata Levi.

Dengan perubahan kebutuhan tersebut, produsen alat berat dituntut menawarkan solusi yang lebih lengkap. Penjualan unit harus dibarengi layanan purnajual, dukungan teknis, pasokan suku cadang, serta sistem pemeliharaan yang mampu menekan waktu henti alat.

Liugong menyatakan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan solusi purnajual terintegrasi. Strategi ini diarahkan untuk membantu pelanggan mengurangi biaya operasi sekaligus menjaga produktivitas armada di lapangan.

Elektrifikasi Mulai Dilirik

Selain memperkuat pasar alat berat konvensional, Liugong juga mendorong adopsi alat berat listrik di Indonesia. Perusahaan mengklaim telah memulai riset alat berat listrik sejak 2014 dan mulai memasarkannya secara komersial pada 2019.

Indonesia menjadi salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang menerima alat berat listrik Liugong. Pada 2021, perusahaan memasok unit alat berat listrik untuk sektor nikel. Hingga kini, unit tersebut disebut telah beroperasi lebih dari 20.000 jam.

Adopsi alat berat listrik awalnya berjalan lambat karena harga investasi awal lebih tinggi dibandingkan alat berat diesel. Selain itu, banyak pelanggan masih mempertanyakan daya tahan baterai, kesiapan infrastruktur pengisian, dan tingkat pengembalian investasi.

Namun, minat terhadap elektrifikasi mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan efisiensi operasional membuat perusahaan tambang mulai menghitung ulang penggunaan armada diesel.

“Selama beberapa bulan terakhir kami menerima banyak permintaan dari pelanggan di Indonesia yang ingin mengetahui bagaimana mengganti armada diesel mereka menjadi alat berat listrik atau hybrid,” ujar Levi.

Menurut Liugong, tren ini menunjukkan bahwa elektrifikasi mulai dipandang bukan hanya sebagai bagian dari agenda dekarbonisasi. Bagi pelanggan tambang, alat berat listrik dan hybrid juga mulai dilihat sebagai strategi untuk menekan biaya operasional dalam jangka panjang.

Dengan kombinasi sumber daya alam yang besar, agenda hilirisasi pemerintah, kebutuhan infrastruktur, dan meningkatnya minat terhadap teknologi ramah lingkungan, pasar alat berat Indonesia masih berpotensi tumbuh. Tantangan berikutnya adalah memastikan rantai pasok, layanan purnajual, sumber daya manusia, dan kebijakan industri mampu mengikuti perubahan kebutuhan pasar.



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *