Proyek Infrastruktur dan Pusat Data AI Dongkrak Penjualan Alat Konstruksi Deere 18 Persen
Penjualan segmen alat konstruksi dan kehutanan Deere & Company melonjak 18% menjadi US$3,62 miliar pada kuartal III tahun fiskal 2026. Pertumbuhan ditopang peningkatan volume pengiriman, kenaikan harga, serta permintaan alat untuk proyek infrastruktur dan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan di Amerika Serikat.
INDOWORK.ID, JAKARTA: Berdasarkan laporan kinerja Deere & Company, penjualan segmen Construction & Forestry meningkat dari US$3,06 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$3,62 miliar.
Laba operasi segmen tersebut melonjak 84%, dari US$237 juta menjadi US$436 juta. Margin operasi juga membaik dari 7,7% menjadi 12,1%.
Deere menyebut peningkatan penjualan terutama berasal dari volume pengiriman yang lebih tinggi dan realisasi harga yang positif. Kenaikan harga juga menjadi faktor utama pertumbuhan laba operasi, meskipun sebagian manfaatnya tertahan oleh peningkatan biaya penjualan, administrasi, dan penelitian dan pengembangan.
Kinerja itu menjadikan Construction & Forestry sebagai salah satu segmen Deere dengan pertumbuhan tercepat sepanjang kuartal tersebut.
Peningkatan belanja infrastruktur pemerintah dan swasta di Amerika Serikat mendorong permintaan alat konstruksi. Kebutuhan mesin juga meningkat seiring pembangunan pusat data untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Reuters melaporkan ekspansi pusat data berbasis AI membantu Deere menghadapi pelemahan berkepanjangan pada bisnis traktor besar dan mesin pemanen.
Pembangunan pusat data tidak hanya membutuhkan gedung dan perangkat teknologi. Proyek tersebut juga memerlukan pembukaan dan pematangan lahan, pembangunan jaringan listrik, fasilitas pendingin, jalan akses, dan infrastruktur pendukung lainnya. Kegiatan itu meningkatkan kebutuhan ekskavator, loader, dozer, dan berbagai alat konstruksi.
Permintaan yang kuat membuat pesanan pelanggan untuk sejumlah produk Deere dilaporkan telah menjangkau tahun fiskal 2027.
Dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026, penjualan segmen Construction & Forestry mencapai US$10,08 miliar. Angka tersebut tumbuh 26% dibandingkan dengan US$8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba operasi selama sembilan bulan juga meningkat 67%, dari US$681 juta menjadi US$1,13 miliar.
Kinerja alat konstruksi berbanding terbalik dengan bisnis utama Deere di sektor pertanian skala besar.
Penjualan segmen Production & Precision Agriculture turun 6% menjadi US$4 miliar. Laba operasinya menyusut 9% menjadi US$527 juta, sedangkan margin operasi turun dari 13,6% menjadi 13,2%.
Deere menyatakan penurunan tersebut disebabkan oleh volume pengiriman yang lebih rendah. Kenaikan harga dan pengaruh positif pergerakan nilai tukar belum mampu menutup dampak penurunan volume penjualan.
Permintaan traktor besar dan mesin pemanen masih tertekan oleh rendahnya harga komoditas pertanian serta tingginya biaya produksi petani. Kondisi itu mendorong konsumen menunda pembelian peralatan baru bernilai besar.
Chief Executive Officer Deere & Company John C. May memperkirakan 2026 akan menjadi titik terendah dalam siklus industri alat pertanian saat ini. Penilaian tersebut didasarkan pada perkembangan awal pemesanan, perbaikan persediaan alat bekas, dan meningkatnya penggunaan teknologi pertanian maju.
Namun, perkiraan itu masih bersifat proyeksi. Pemulihan permintaan tetap bergantung pada pendapatan petani, harga komoditas, biaya pupuk, tingkat suku bunga, dan kebijakan perdagangan.
Sementara itu, bisnis Small Agriculture & Turf mencatat pertumbuhan. Penjualan segmen tersebut meningkat 12% menjadi US$3,38 miliar, sedangkan laba operasi naik 28% menjadi US$622 juta.
Secara keseluruhan, Deere membukukan laba bersih sebesar US$1,38 miliar pada kuartal III tahun fiskal 2026, naik 7% dibandingkan dengan US$1,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba per saham terdilusi meningkat dari US$4,75 menjadi US$5,10. Adapun total penjualan dan pendapatan perusahaan naik 5% menjadi US$12,61 miliar.
Kinerja kuartalan perusahaan turut ditopang pengembalian biaya tarif sebesar US$110 juta. Dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026, Deere mencatat pengembalian tarif senilai US$382 juta.
Meski laba kuartalan tumbuh, laba bersih kumulatif selama sembilan bulan masih turun 4%, dari US$3,96 miliar menjadi US$3,81 miliar. Hal ini menunjukkan tekanan pada bisnis pertanian besar belum sepenuhnya terimbangi oleh pertumbuhan segmen lain.
Deere memperkirakan penjualan segmen Construction & Forestry tumbuh sekitar 20% sepanjang tahun fiskal 2026. Proyeksi itu antara lain memasukkan kenaikan harga sekitar 3% dan dampak positif kurs sekitar 1,5%.
Untuk pasar Amerika Serikat dan Kanada, perusahaan memperkirakan permintaan alat konstruksi tumbuh 5–10%. Permintaan alat konstruksi berukuran ringkas diproyeksikan naik sekitar 5%.
Deere juga memperkirakan pasar alat pembangunan jalan global tumbuh sekitar 10%. Sebaliknya, pasar peralatan kehutanan global diproyeksikan turun sekitar 10%.
Perusahaan menaikkan batas bawah proyeksi laba bersih tahun fiskal 2026 dari sebelumnya US$4,5 miliar–US$5 miliar menjadi US$4,75 miliar–US$5 miliar.
Seluruh perkiraan tersebut merupakan proyeksi perusahaan, bukan kinerja yang telah terealisasi. Hasil akhirnya masih dapat dipengaruhi kebijakan tarif, gangguan rantai pasok, biaya bahan baku, suku bunga, dan perubahan belanja infrastruktur.
Kinerja Deere memperlihatkan pergeseran sumber pertumbuhan industri alat berat. Permintaan tidak lagi hanya bergantung pada pertambangan, perkebunan, dan pembangunan jalan, tetapi mulai ditopang kebutuhan infrastruktur digital dan energi untuk pusat data AI.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *