Headline Humaniora

4 Pahlawan Nasional dari Betawi, Hiasi Gapura di Jakarta



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Budayawan Betawi Rusdi Saleh tak pernah kekeringan ide. Sejak memperjuangkan Ismail Marzuki menjadi pahlawan nasional pada 2014, ia terus berjuang untuk menambah jumlah pahlawan nasional dari Betawi.

Kini ia mengusulkan Muhammad Saleh Ishak, yang berjuang dengan berperang melawan tentara Belanda dan Jepang di Jogjakarta dan Jakarta. Tentara asal Betawi tersebut kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namanya juga diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.

MOEFRENI MOEKMIN

Rusdi juga mengusulkan proses menjadi pahlawan nasional bagi Moefreni Moekmin agar dipercepat. Moefreni Moekmin adalah pemuda Betawi yang memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) tingkat pusat yang bermarkas di Jakarta.

BKR adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan tugas pemeliharaan keamanan bersama-sama dengan rakyat dan jawatan-jawatan negara. BKR dibentuk oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI dalam sidangnya pada tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus 1945.

Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada 19 Agustus 1945 yang sebelumnya merencanakan pembentukan tentara kebangsaan. Perubahan tersebut akhirnya diputuskan pada tanggal 22 Agustus 1945 untuk tidak membentuk tentara kebangsaan. Keputusan ini dilandasi oleh berbagai pertimbangan politik.

Para pemimpin pada waktu itu memilih untuk lebih menempuh cara diplomasi untuk memperoleh pengakuan terhadap kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Tentara pendudukan Jepang yang masih bersenjata lengkap dengan mental yang sedang jatuh karena kalah perang, menjadi salah satu pertimbangan juga, untuk menghindari bentrokan apabila langsung dibentuk sebuah tentara kebangsaan.

Anggota BKR saat itu adalah para pemuda Indonesia yang sebelumnya telah mendapat pendidikan militer sebagai tentara Heiho, Pembela Tanah Air (PETA), KNIL dan lain sebagainya.  Melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat(TKR) dan setelah mengalami beberapa kali perubahan nama akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia.

 MOHAMMAD ROCHJANI SOE’OED

Rusdi juga mengusulkan agar Mohammad Rochjani Soe’oed menjadi pahlawan nasional. Pria Betawi ini merupakan pemuda Kaum Betawi yang hadir di Kongres Pemuda sebagai pembantu V. Mohammad Rochjani Soe’oed merupakan Ketua Pemoeda Betawi pada 1928.

Sumber lain menyatakan pada 1928, organisasi kedaerahan ini ketuanya adalah Abdul Chalik sedangkan Rochjani menjabat Sekretaris. Rochjani Soe’oed lahir di Jakarta pada 1 November 1906. Ia merupakan Meester in de Rechten (Mr) sarjana Hukum yang lulus pada tahun 1927 dari Rechshogeschool Batavia.

Rully Soe’oed, cucu dari Rochjani Soe’oed mengatakan bahwa sepanjang hidupnya sang kakek selalu berjuang untuk kepentingan nasional dan masyarakat Betawi. Sebelum merdeka, ia aktif mempersiapkan kemerdekakan RI dan setelah merdeka, sang kakek menjadi hakim yang adil dan bijaksana.

Pada masa tuanya, sang kakek juga mendirikan Universitas Jakarta sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pendidikan masyarakat Betawi dan Jakarta pada umumnya.

GAPURA 4 PAHLAWAN

Buku Rusdi Saleh Nasionalisme Sang Penyiar

Dalam bagian lain Rusdi Saleh mengusulkan agar dalam merayakan peringatan Kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia, sebaiknya di Jakarta dihiasi dengan gambar dan patung empat pahlawan nasional dari Betawi yaitu Muhammad Husni Thamrin, Ismail Marzuki, KH Noer Ali dan Abdul Rachman Saleh.

Ia menyarankan agar masyarakat menghormati para pahlawan nasional dari Betawi dengan menghiasi gapura yang marak tersebar di seluruh penjuru Jakarta dengan gambar empat pahlawan tersebut. “Alangkah hebatnya jika gapura di Jakarta ada gambar Thamrin, Ismail Marzuki, KH Noer Alie, dan Abdul Rachman Saleh,” katanya bersemangat.

Rusdi menekankan bahwa di setiap pintu gerbang Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatah, juga dihiasi dengan gapura bergambar empat pahlawan nasional itu. “Tentu ini akan menjadi contoh bagi kawasan lain,” kata ayah dua anak itu dengan logat Betawi yang kental.

MUHAMMAD HUSNI THAMRIN

Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, pada 16 Februari 1894Ayahnya adalah Tabri Thamrin, orang Belanda, dengan ibu orang Betawi yang bernama Noerhana. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.

Sementara itu kakeknya, Ort, seorang Inggris, merupakan pemilik hotel di bilangan Petojo, menikah dengan seorang Betawi yang bernama Noeraini.

Tabri Thamrin, adalah seorang wedana di bawah gubernur jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III School te Batavia,Thamrin mengambil beberapa jabatan sebelum bekerja di perusahaan perkapalan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij.

Munculnya Mohammad Husni Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah mudah. Untuk mencapai tingkat itu ia memulai dari bawah, dari tingkat lokal. Dia memulai geraknya sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi.

ISMAIL MARZUKI

Ismail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi. Nama sebenarnya adalah Ismail, sedangkan ayahnya bernama Marzuki, sehingga nama lengkapnya menjadi Ismail bin Marzuki. Namun, kebanyakan orang memanggil nama lengkapnya Ismail Marzuki, bahkan di lingkungan teman-temannya kerap dipanggil Mail, Maing, atau Bang Maing.

Ia dilahirkan di Kampung Kwitang, tepatnya di kecamatan Senen, Jakarta Pusat, pada 11 Mei 1914. Tiga bulan setelah Ismail dilahirkan, ibunya meninggal dunia.

Sebelumnya Ismail Marzuki juga telah kehilangan dua orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan. Kemudian ia tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah, yang umurnya lebih tua 12 tahun dari Ismail.

KH NOER ALIE

KH Noer Alie adalah ulama dan tokoh Betawi yang dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia Dengan SK Presiden: Keppres No. 085/TK/2006, tertanggal 3 November 2006.

Ia adalah putra dari Anwar bin Haji Layu dan Maimunah binti Tarbin. Ia mendapatkan pendidikan agama dari beberapa guru agama di sekitar Bekasi. Pada 1934, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah dan selama 6 tahun bermukim di sana.

Berikut adalah perjalanan hidup KH Noer Alie:

ABDUL RACHMAN SALEH

Abdulrachman Saleh dilahirkan pada  1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School). Kemudian ia meneruskan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau yang kini dikenal dengan SLTP.

Abdulrachman lulus dari AMS (Algemene Middelbare School) atau SMU, Setelahnya ia mendaftar ke ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran.

Ayahnya, Mohammad Saleh, tidak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter, karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

 

Berita Lainnya