Headline Humaniora

Hadapi Gejolak dan Cobaan, Pemimpin Dunia Harus Bertobat



single-image

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Belum usai derita pandemi COVID-19 dan masalah pangan dan energi teratasi akibat perang Rusia dan Ukraina, dunia dihebohkan kembali dengan ulah para pemimpin USA usai perang dagang dan pengiriman senjata ke Ukraina.

Geopolitik dikawasan Laut Cina Selatan hingga Selat Taiwan di”obrak-abrik”, sehingga menjadi gejolak baru yang akan menyusahkan umat manusia.

Menghadapi semua gejolak dan cobaan ini, kita sebagai rakyat berharap agar para pemimpin dunia lebih mengurangi ego mereka dan bertobat dengan berbagi kasih pada sesama umat.

Warga dunia menjerit sebagai korban dan berserah kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dengan berpegang pada sabda-Nya,“Janganlah hendaknyakamu khawatir tentang apapunjuga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

Saat ini bukan hanya aneka virus dan bakteri yang bermunculan, melainkan terjadi juga kenaikan biaya hidup yang menggoncang kenyamanan dan kedamaian masyarakat dunia.

Semua ini tidak terlepas dari ulah para pemimpin/politisi dunia yang egonya menyimpang dari kaidah-kaidah normal.

KRISIS PANGAN DAN ENERGI

Presiden Joko Widodo pada 2 Agustus 2022, saat acara dzikir menyambut HUT RI 2022, mengulang peringatannya bahwapaska pandemi COVID-19 telah muncul krisis pangan dan energi dunia sebagai akibat perang Rusia dengan Ukraina.

Harga energi minyak bumi dan gas merangkak naik berlipat ganda di banyak negara, karena terganggunya aliran energi dari Rusia ke Uni Eropa. Demikian pula sebagai akibat berbagai sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa, aliran logistik gandum terhambat/terhenti.

Saat ini terdapat  284 juta ton gandum yang tidak bisa diekspor danmasuk kepasar dunia. Di Silo, Ukraina, tertimbun 22 juta ton dan siap panen 55 juta ton,sedangkan  di Rusia tertimbun 207 juta ton. Akibat dari terhambatnya laju logistik pangan ini, 333 juta orang terancam kelaparan dan akan terus meningkat dalam bulan-bulan mendatang.

Harga BBM meningkat tajam,subsidi Indonesia telah membengkak dari Rp 170 triliun menjadi Rp 502 triliun. Banyak negara yang mulai ambruk dan/atau Perdana Menterinya jatuh. Puji syukur Indonesia masih terkendali.

PENYAKIT MENULAR

Dampak pandemi COVID-19 masih belum sepenuhnya teratasi, ketika timbul ancaman baru berbagai penyakit menular lainnya. Cacar monyet/monkeypox—yang pertama kali terdeteksi di Inggris—telah menyebar ke 75 negara dan masih belum teratasi. Selain virus,muncul pula bakteri yang mematikan, seperti yang telah diumumkan lembaga CDC di Amerika Serikat.

WHO memperingatkan agar kita tetap menjaga dan melakukan protokol kesehatan (3M/5M) serta mewaspadai munculnya kembali penyakit-penyakit dengan varian-varian virus/bakteri baru dari wabah penyakit tahun-tahun sebelumnya .

Biaya kehidupan terus bergerak naik. Menurut riset ECA International, hidup diperkotaan makin mahal dan urutan biaya hidup termahal saat ini adalah Hongkong, New York, Jenewa, London,Tokyo,Tel Aviv, Zurich,Shanghai dan Guangzhou, Seoul. Untuk Indonesia, kota-kota dengan biaya hidup termahal adalah Jakarta, Surabaya, Bekasi,Depok,Semarang, Tangerang dan Makassar.

Sebagai contoh, secangkir kopi di Hong Kong harganya $5,21,di New York $ 5,08, sedangkan di Jakarta sekitar $2-$4, tetapi jika segelas kopi dipenjual dengan sepeda/motor hanya $ 0,35. Untuk rata-rata biaya hidup/perbulan—berdasarkan riset IPRICE—di New York  Rp51,5 juta, Singapore  Rp45 juta, Seoul  Rp30 juta, Jakarta Rp15 juta dan Kuala Lumpur Rp13,7 juta.

BIAYA KULIAH MELAMBUNG

Harry Tanugraha

Mahasiswa pun menjerit, karena melambungnya biaya kuliah di universitas. Hasil riset lembaga yang sama mencatat, bahwa biaya kuliah rata-rata pertahun di Amerika Serikat Rp4 miliar, Inggris Rp 3 miliar, Australia Rp2,9 miliar, Kanada Rp2,7 miliar, Belanda Rp900 juta, Saudi Arabia Rp360 juta dan Malaysia Rp260 juta. Di Indonesia masih tergolong rendah: UGM  Rp60 juta, ITB Rp46,2 juta: UI Rp34,7 juta, UnNPAD Rp30 juta.

Saya teringat saat kuliah di ITB tahun 1959. Puji Tuhan, saat masuk hanya dilihat rapor SMA tanpa ujian masuk, dan biaya kuliah hingga S1…gratis. Untuk kuliah diperguruan tinggi swasta,pasti lebih mahal. Kalau di USA, biaya kuliah dimasing-masing negara bagian berbeda-beda, tetapi untuk kuliah  IN State hanya sekitar  35 %  dari biaya kuliah OUT State. Saat ini untuk warga US dan mahasiwa luar negeri, biaya kuliahnya sekitar $ 65000/tahun.

*) Ditulis oleh Harry Tanugraha

 

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya