Bisnis Headline

Kiat Melewati Badai Krisis dan Lanjutkan Perkembangan Bisnis



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Salah satu insan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) yang berperan dalam proses IPO adalah Slamet Maryono. Kala itu, pria kelahiran 16 Maret 1952 ini duduk sebagai direktur keuangan, sekaligus memimpin  proses privatisasi WIKA sebagai Ketua Tim Initial Public Offering (IPO).

Sedari awal, sarjana teknik sipil Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya ini mengawal proses IPO WIKA hingga bisa berjalan mulus.

Menghabiskan karir lebih dari tiga dasawarsa di WIKA, Slamet sarat pengalaman dalam memimpin sederet proyek-proyek lapangan besar di WIKA. Bergabung dengan WIKA pada akhir dekade 1970- an, Slamet selama 20 tahun menggeluti bidang operasional WIKA, 5 tahun di divisi, 5 tahun duduk sebagai Direktur Keuangan dan 5 tahun dipercaya sebagai Direktur Operasional II WIKA. Sumbangsih ide dan gagasan selama bertugas di WIKA tidak perlu diragukan lagi.

IMBAS KRISIS

Salah satu peran penting Slamet di WIKA adalah soal kepemimpinannya dalam proses IPO WIKA. Ia sukses membidani IPO WIKA yang kondisinya pada saat itu sedang mengalami imbas dari krisis ekonomi memiliki utang dari aset yang tidak produktif.

Aset-aset itu dibiayai dengan utang yang berbunga tinggi. Persoalan lain yang tak kalah pelik dihadapi WIKA saat itu adalah biaya overhead perusahaan yang tinggi dan harus segera dikurangi.

Gagasan Slamet sebagai Ketua Tim IPO WIKA saat itu sangat sederhana, yaitu bagaimana menghilangkan beban bunga WIKA. Maka, Slamet bersama tim merekomendasikan menjual aset-aset yang tidak produktif tersebut.

Aset-aset yang tidak lancar diubah menjadi cair. Setelah menjual aset tidak produktif dan penyertaan di beberapa perusahaan asosiasi, maka ekuitas WIKA semakin kuat, menjadi Rp400 miliar. WIKA pun semakin sehat dengan membuku laba yang baik pada saat itu.

Dengan modal tersebut, pada tahun WIKA pun percaya diri untuk IPO. Kesuksesan IPO berpengaruh positif terhadap keberhasilan dalam langkah WIKA berikutnya.

BADAI KRISIS

Bisa dikatakan bahwa IPO adalah turning point transformasi WIKA dalam melewati badai krisis dan melanjutkan estafet perkembangan bisnis selanjutnya. Hari-hari menuju IPO diakui Slamet adalah rekaman perjalanan yang cukup mendebarkan.

Setiap kebijakan yang diambil dalam restrukturisasi bisnis, tidak lahir begitu saja, ada keberanian dan pertaruhan risiko di dalamnya. Banyak perdebatan yang masing-masing memiliki argumen pembenar.

Lagipula, kurang dari dua tahun, Direksi WIKA mampu menyelesaikannya dengan baik. Pada akhir 2007, baru WIKA mendapat clue untuk memukul gong IPO.

Pasca IPO, WIKA dihadapkan pada babak baru untuk mencari peluang bisnis, guna memutar modal yang diperoleh dari publik sebesar Rp775 miliar. IPO 2007 telah menaikkan ekuitas WIKA Induk secara signifikan dan sekaligus memperbaiki labanya sehingga melebihi laba perusahaan anak secara keseluruhan.

IPO 2007 telah mengakibatkan utang dan bunga WIKA turun drastis dan bisa dikatakan terhapus. Surplus dana yang didepositokan menghasilkan bunga yang dapat digunakan untuk mendanai overhead WIKA Induk sehingga laba WIKA Induk naik secara drastis.

Secara meyakinkan, WIKA kini sudah menjadi perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia.

Berita Lainnya