Bisnis

Alami Kesulitan Keuangan, WIKA Berencana Divestasi Tiga Ruas Tol



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah melakukan proses divestasi atau melepas kepemilikan saham pada tiga ruas jalan tol miliknya. Ketiga ruas tol tersebut adalah Jalan Tol Manado-Bitung, Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam), serta Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja) .

Meski WIKA tercatat sebagai pemegang saham minoritas di tiga ruas tol tersebut, aksi divestasi tersebut memdapat sambutan dari sejumlah perusahaan yang berminat mengambil alih saham tersebut.

Namun, WIKA belum berani membuka informasi perusahaan yang telah menyatakan minatnya tersebut. Termasuk berapa nilai divestasi ketiga ruas jalan tol tersebut.

Mahendra Vijaya

Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya menjelaskan  upaya divestasi tersebut merupakan bagian dari langkah strategis bisnis perseroan. Adapun hasil divestasi ini akan digunakan untuk menyegarkan struktur permodalan perusahaan.

“Hal ini memang bagian dari proses bisnis perseroan, karena ruas-ruas jalan tol tersebut sudah selesai, shingga hasil divestasi tersebut bisa digunakan sebagai perputaran dan penguatan permodalan,” terangnya.

Sekadar informasi, pembangunan jalan tol Manado-Bitung menelan biaya investasi Rp 4,95 triliun dan telah beroperasi penuh pada Febuari 2022 lalu. Di ruas jalan tol ini WIKA memegang 20% saham.

Kemudian ruas jalan tol Balikpapan-Samarinda menghabiskan biaya investasi senilai Rp 11,89 triliun, dan telah beroperasi penuh pada Agustus 2021 lalu. WIKA sendiri diketahui memiliki 17,96% saham di ruas jalan tol ini.

Terakhir, nilai investasi jalan tol Soreang-Pasirkoja mencapai Rp 11,7 triliun dan telah beroperasi sejak Desember 2017. WIKA memegang 19,88% saham di ruas jalan tol tersebut.

KOMDISI KEUANGAN

Penguatan struktur permodalan memang menjadi agenda penting bagi WIKA. Pasalnya, hingga kuartal III 2023, kinerja keuangan emiten konstruksi pelat merah ini belum kunjung membaik.

Pendapatan WIKA sepanjang periode Januari-September 2023 memang tercatat mengalami kenaikan. Pada periode itu, WIKA membukukan pendapatan sebesar Rp 15,07 triliun, naik 17,88% year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 12,79 triliun.

Kendati pendapatan meningkat, WIKA justru membukukan kerugian sebesar Rp 5,84 triliun pada kuartal III 2023. Berdasarkan laporan keuangan WIKA, rugi tersebut mengalami pembengkakan hingga 209 kali lipat dibandingkan rugi pada periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 27,96 miliar.

Kondisi ini tak lepas dari meningkatnya beban pokok pendapatan sebesar 18,60% yoy menjadi Rp 13,86 triliun. WIKA juga menorehkan kenaikan beban keuangan sebesar 192,30% yoy, atau dari Rp815,23 miliar menuju level Rp 2,38 triliun pada kuartal III 2023.

Di sisi lain, WIKA memproyeksikan kontrak baru mencapai Rp 25 triliun – Rp 27 triliun hingga akhir tahun 2023. Proyeksi ini turun dari capaian pada 2022 sebesar Rp 33,35 triliun. Ia menjelaskan, turunnya nilai kontrak baru ini lantaran WIKA sedang dalam keadaan standstill atau penghentian sementara pembayaran kewajiban finansal ke kreditur.

Berita Lainnya