Bisnis Headline

Terjebak Fokus Pada Asset, Cenderung Alami Stagnasi Usaha



single-image
Proses pengerjaan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Dok.Wika Beton)

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Saat ini berbagai perusahaan terbaik di dunia lebih memfokuskan diri pada pengembangan intangibles demi memastikan keberhasilan perubahan perusahaan yang istimewa (distinctive) dan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang (sustainable).

Sedangkan perusahaan yang terjebak hanya berfokus pada tangible asset (harta-harta fisik) cenderung mengalami stagnasi usaha. Makin banyak perusahaan yang berubah dari perusahaan yang sebelumnya berorientasikan pada produk berdasarkan tangible assets menjadi perusahaan yang berorientasikan pada intangible assets-nya.

KEKUATAN INTANGIBLES

Tantangannya sekarang adalah bagaimana perusahaan-perusahaan dapat mengakselerasi proses pengembangan intangible assets miliknya. Motivasinya macam-macam.

Bisa karena untuk mengejar ketertinggalannya dibanding perusahaan pesaing, untuk melejit agar keunggulannya selama ini tidak dikejar atau bahkan disalip perusahaan pesaing, untuk kepentingan internal perusahaan yang senantiasa tumbuh tinggi, dan berbagai motif lainnya.

Mengapa demikian? Sebab, bagai mana pun kesuksesan sebuah bisnis tergantung tempat dan waktu. Dalam konteks Indonesia, misalnya. Negara ini, siap atau tidak, harus menghadapi era liberalisasi perdagangan atau pasar bebas di lingkungan negara-negara ASEAN yang akan berlaku akhir tahun 2015. Persaingan bisnis di kawasan regional setelah itu bisa dipastikan menjadi semakin sengit.

Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia ditantang untuk sanggup mengakselerasi kekuatan intangibles miliknya sebagai pembentuk keunggulan dan pembeda perusahaan tersebut dibanding perusahaan lain, termasuk dari perusahaan-perusahaan dari negara lain. Perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk itu.

Dengan kata lain, mereka harus mampu segera melakukan leverage atau mengungkil intangible assets perusahaan. Apabila di satu sisi bobot intangible assets perusahaan bisa segera ditambah oleh SDM perusahaan (yang juga diakselerasi dari sisi kuantitas, kualitas, dan perilakunya), maka otomatis di sisi lain rencana jangka panjang perusahaan bisa pula direalisasikan dalam tempo singkat.

Dengan kata lain, jika upaya leverage atau melipatgandakan intangible assets perusahaan bisa diakselerasi oleh SDM perusahaan (yang secara bersamaan kualitasnya juga ditingkatkan berlipatganda), maka visi perusahaan itu berpeluang besar dapat segera digapai.

TANTANGAN INDUSTRI

WIKA harus melipatgandakan leveraging intangible asset-nya, Bukan hanya untuk mencapai Visi 2020 WIKA. Akan tetapi,  karena tantangan yang dihadapi WIKA dalam industri konstruksi nasional semakin menantang sekarang ini.

Indonesia merupakan pasar konstruksi terbesar di kawasan ASEAN. Indonesia menguasai 33,16% pangsa pasar konstruksi di kawasan ASEAN. Diikuti Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Total investasi di bidang konstruksi di Indonesia diperkirakan mencapai US$97,7 miliar (tahun 2013). Pasar konstruksi Indonesia

Di samping nilainya yang besar dan menggiurkan, pasar konstruksi di ASEAN mengalami pertumbuhan sangat pesat. Akan tetapi, ini juga menimbulkan tantangan.

Sebab, nantinya perusahaan konstruksi nasional tidak hanya berkompetisi dengan sesama perusahaan konstruksi nasional, tetapi juga harus bersaing dengan perusahaan konstruksi dari kawasan ASEAN dan juga dari luar ASEAN, seiring dengan diberlakukannya liberalisasi perdagangan di antara sesama negara ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN akhir 2015. Artinya, pasar konstruksi Indonesia juga menjadi incaran kontraktor regional dan internasional.

Apalagi usaha jasa konstruksi dikenal sebagai kegiatan usaha yang sangat tersegmentasi. Saat ini jumlah perusahaan jasa konstruksi nasional diperkirakan sebanyak 165.000 kontraktor dan hanya 10% atau sekitar 1.500 perusahaan merupakan kontraktor besar.

Sayangnya, di antara perusahaan kontraktor nasional sebanyak itu, dapat dikatakan tidak ada yang merupakan kontraktor spesialis. Semuanya merupakan kontraktor umum (general contractor).

Artinya, persaingan yang bakal dihadapi perusahaan kontraktor nasional akan makin sengit apabila kontraktor-kontraktor spesialis dari luar berdatangan melakukan penetrasi pasar konstruksi di Indonesia. Oleh sebab itu, Direksi WIKA berpandangan bahwa yang memiliki bisnis inti di bidang jasa konstruksi.

Dan sekarang mengembangkan bisnisnya harus mempunyai diferensiasi yang betul-betul unggul. Bukan hanya berbeda, tetapi unggul. Itu menjadi kunci WIKA untuk bisa bersaing.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya