INDOWORK.ID, JAKARTA: Tak banyak yang tahu. Nama lengkapnya Diapari Sibatangkayu Parlaungan Mangaraja Linggoman Harahap. Ia menuliskan sendiri nama sepanjang itu. Saya mencatatnya dengan cermat.
Saya mengenalnya pada Desember 1989 ketika ia pertama kali meliput tentang Pasar Modal, Moneter, dan Keuangan karena ngepos di Departemen Keuangan. Ia wartawan harian sore Terbit, sedangkan saya di Bisnis Indonesia. Kami langsung akrab. Selain soal liputan, kami sering ngobrol tentang agama Islam, olah raga, sampai musik. Ia suka main biliar, saya hobi sepak bola. Ia suka musik dan jago menyanyi, saya suka tapi nggak jago.
Pergaulan kami tak hanya seputar persoalan tersebut, tapi juga soal mencari pasangan hidup. Ketika ia berkenalan dengan seorang gadis, saya lebih dahulu mengenalnya. Maklum, sang gadis adalah karyawan di PT Danareksa yang sering saya jumpai ketika ingin bertemu dan mewawancarai direksi. Managing Director BUMN tersebut adalah Yannes H. Naibaho, sang sumber berita.
Akhirnya pria batak itu mempersunting gadis Jawa, Karyaningtas, yang akrab dipanggil Ning.
Banyak kenangan yang berkesan saat liputan. Bisa ditulis menjadi satu buku.
Pada 1990, kami mendirikan Forum Wartawan Pasar Modal. Saya menangani bidang pendidikan, sehingga sering mengundang akuntan untuk mengajar membaca laporan keuangan untuk teman-teman wartawan. Juga lawyer untuk memahami UU Pasar Modal. Sepulang dari belajar di Wallstreet, New York, AS, pada 1992, alharhum sering bertanya tentang seluk beluk pasar modal internasional khususnya AS.
DARI KORAN JAKARTA
Sabtu, 4 Juli 2026, di WAG Forum Jurnalis Betawi muncul kabar dari Helmi Audia, teman sekantor Sibatangkayu di Koran Jakarta. “Innalilahi wa innailaihi rojiun, baru saja dapat kabar sahabat karib ane jurnalis senior, salah satu pengurus di PWI, Diapari Sibatangkayu Harahap berpulang ke Rahmatullah, pagi ini pk.10.00 di RS Pasar Rebo, Jakarta Timur
Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin. Begitu Helmi menulis.
Tak lama kemudian ia menyebarkan informasi tambahan bahwa pria kelahiran Padang Sidempuan, 8 Mei 1963, tersebut wafat pada Pukul 10:40 di RS Polri, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sedangkan alamat duka di Jl. Raya Condet, Gang Awi No. 28 RT 015/RW 003 Jakarta Timur.
Utari Sulistyowati, mantan wartawan Bisnis Indonesia mengenang bahwa dahulu mereka sering bertemu almarhum bersama almarhum Darlis Maza (Harian Neraca) di ruangan Humas Bapepam. Saat itu transaksi di bursa saham ditulis sendiri oleh para pialang dengan spidol. Sangat otentik, Utari sering berada di lantai bursa dan juga bertemu Ketua Ikatan Pialang Efek Jakarta (IPEJ) Sani Permana (alm), pialang paling rapi saat itu.
“Berpuluh-tahun yang lalu, saat indeks harga saham gabungan mencapai 100, saking terbatasnya teknologi saya lari ke ruangan Barli Halim [alm] untuk minta pendapatnya,” kenang ibu dari dua anak tersebut.
Menurut Utari, Sibatangkayu [ia menulisnya Si Batang Kayu] selalu tampil santai dan penuh senyum . “Tahun 2025 saya mencoba menelepon almarhum dan janji untuk bertemu tetapi belum tercapai…”
Begitu pun Rofikoh Rohim (Bisnis Indonesia) tak dapat menyembunyikan kesedihannya. “Innalillahi wainna illaihi rojiun. Semoga bang Sibatangkayu yang ramah dan baik hati, wafat husnul khatimah. Keluarga yang ditinggalkan diberikan keiklashan dan kesabaran,” ujarnya.
Sedangkan Danang Kemayan Jati (SWA) berinisiatif untuk membantu keluarga almarhum. Terkumpul dana cukup siginifikan dan sudah saya serahkan kepada keluarganya. “Kenangan terindah dengan alm Kayu adalah billiard bareng Komar[uddin Muchtar] di depan gedung bursa,” kenangnya.
Lain lagi cerita Garinsia Muslim (Warta Ekonomi). Garin mengatakan bahwa ia punya kenangan tersendiri. “Saat abang kita memperkenalkan dirinya saat jadi wartawan pasar modal Indonesia, dengan penuh percaya diri dan bangganya, menyebutkan nama dan asal medianya.”
Tentu teman-teman masih ingat, “Sibatangkayu dari Harian Terbit!” Tentu saja langsung mendapat komentar dari teman-teman wartawan lainnya. “Coba ulangi lagi, nggak terdengar.” Abang Sibatangkayu pun mengulanginya kembali dengan penuh percaya diri.
Sihol Hutabarat mengenang ayah dua anak tersebut sebagai sahabat yang simpatik. “Kemarin siang masih WA-an sama almarhum, tapi nggak kasih kabar soal sakitnya,” kata Komaruddin Muchtar.
Begitulah, semua merasa kehilangan. Bagi saya, karena kesibukan masing-masing, sejak 1994 kami jarang berjumpa. Sesekali saja, ketika ada acara pertemuan pemimpin media massa, di kantor Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS), di Dewan Pers, kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia, perayaan Hari Pers Nasional 9 Februari, atau acara undangan pernikahan.
KONDANGAN
Karirnya diawali sebagai wartawan Terbit, sehingga banyak teman lain yang saling kenal mengingat kami dari kelompok usaha yang sama yaitu Pos Kota Group. Saya pernah bekerja di PT Metro Pos, tempat harian Terbit, Pos Kota, majalah Warna Sari, majalah Family, dan sejumlah tabloid dicetak di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur. Ketika itu masa keemasan media cetak. Itulah sebabnya kami berjumpa di acara penikahkan anak karyawan. Orang Betawi menyebutnya kondangan.

Begitu pun ketika ia akan menikahkan anaknya, Humala Parlaungan Harahap dengan Novila Windaka, putri dari pasangan Sumiran dan Any Ray, pada 24 Agustus 2019. Satu yang tak pernah saya lupakan ketika berjumpa dengannya adalah keinginannya dalam beberapa tahun terakhir. “Ingin segera menimang cucu.”
Pertemuan rutin tahunan lainnya adalah ketika ia datang ke HUT LPDS karena selalu saya undang. Pada 24 Juli saya kembali akan mengundangnya, tapi panggilan dari Sang Maha Penulis menduhului. Saya bersaksi almarhum orang baik. Alfaatihah.
*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie, Penguji Kompetensi Wartawan Dewan Pers di LPDS


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *