- 2 July 2026
- 4 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Empat tahun berlalu sejak drama adu penalti di Lusail. Emiliano Martinez menari di gawang, Kylian Mbappe menangis di lapangan, dan Lionel Messi akhirnya mengangkat trofi yang seumur hidup ia kejar.
Final Piala Dunia 2022 antara Argentina vs Prancis bukan sekadar pertandingan. Itu opera sabun 120 menit yang menuntut korban darah, air mata, dan jantung penonton.
Sekarang, dengan Piala Dunia 2026 di depan mata, satu pertanyaan menggantung di kepala semua pecinta bola: Akankah skenario itu terulang? Akankah kita melihat Mbappe vs Messi Jilid II, meski kali ini tanpa Messi di lapangan?
Jawabannya: Bisa. Dan peluangnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan.
Mesinnya Belum Mati
Argentina: Sang Juara Bertahan Tanpa Sang Dewa
Messi sudah 39 tahun di 2026. Tapi jangan salah, Argentina 2026 bukan Argentina 2018. Generasi Scaloni sudah naik kasta. Julian Alvarez kini striker utama Manchester City. Lautaro Martinez mesin gol Inter. Di tengah ada Enzo Fernandez, Mac Allister, dan De Paul yang semuanya main di Liga Champions tiap pekan. Yang paling penting: mentalitas. Argentina sekarang tim yang tahu rasanya juara. Rasa lapar itu menular. Mereka masuk Grup J bareng Aljazair, Austria, dan Yordania. Ia, lolos sebagai juara grup cuma formalitas. Setelah itu, pengalaman di fase gugur jadi senjata mematikan mereka.
Kedalaman Squad yang Bikin Iri Setan
Kalau Argentina punya mental juara, Prancis punya “gudang pemain”. Kylian Mbappe di usia 27 akan berada di puncak karirnya. Di sekelilingnya ada Dembele yang akhirnya konsisten, Kolo Muani, Marcus Thuram, hingga talenta muda seperti Warren Zaire-Emery. Lini tengah? Tchouameni dan Camavinga. Pertahanan? Saliba, Konate, Upamecano. Didier Deschamps punya dua tim inti yang sama bagusnya.
Itu kemewahan yang tidak dimiliki Brazil, Inggris, apalagi Jerman. Prancis juga punya dendam. Kalah adu penalti 2022 meninggalkan luka yang belum sembuh. Mbappe sudah bilang: “Kami akan kembali.” Dan dia bukan tipe pemain yang ngomong doang.
Terlalu Mulus untuk Diabaikan
Format Piala Dunia 2026 bikin final ulangan ini makin mungkin. Dengan 48 tim, FIFA memecah jadi 12 grup. Juara dan runner-up lolos, plus 8 peringkat tiga terbaik. Artinya, tim-tim besar punya bantalan kesalahan. Dalam undian, Argentina dan Prancis akan dipisah sebagai tim unggulan.
Lihat Grup C: Brazil, Maroko, Skotlandia, Haiti. Berat, tapi Brazil favorit. Grup D ada USA sebagai tuan rumah. Grup L ada Inggris. Persaingan memang sengit, tapi Argentina dan Prancis punya konsistensi yang lebih terbukti di turnamen besar dibanding tim lain.
Tiga Tembok Harus Dihancurkan
Meski di atas kertas mulus, ada tiga rintangan besar.
Pertama, kutukan tuan rumah. USA, Kanada, Meksiko main di kandang. Tidak ada jetlag, suporter penuh, dan tekanan dari 70 ribu orang. Tim seperti USA atau Meksiko bisa jadi “Italia 2006”-nya 2026. Menyingkirkan satu tim besar di babak 16 besar itu sangat mungkin.
Kedua, cedera dan kelelahan. Turnamen ini 104 pertandingan. Lebih panjang 16 laga dari 2022. Satu lutut Mbappe terkilir, atau Enzo Fernandez akumulasi kartu, dan peta kekuatan langsung berubah. Kedalaman skuad Prancis jadi faktor penentu di sini.
Ketiga, munculnya “tim pengganggu”. Inggris dengan Bellingham-Foden-Saka sudah dewasa. Brazil dengan Vinicius-Rodrygo-Endrick lebih ganas dari 2022. Jerman udeh pulang kampung. Spanyol punya Lamine Yamal. Siapa pun bisa bikin kejutan.
Jadi, Berapa Persen Peluangnya?
Kalau kita jujur secara statistik: peluang final Prancis vs Argentina lagi ada di kisaran 25% sampai 30%. Angka itu tinggi untuk final ulangan. Sebagai pembanding, peluang final Jerman vs Brasil diulang 2002 ke 2006 dulu cuma 10%. Kenapa tinggi? Karena keduanya punya tiga hal yang jarang dimiliki tim lain sekaligus: pelatih stabil, inti skuad yang masih muda, dan pengalaman final baru-baru ini. Itu kombinasi langka.
Jika terjadi, ini bukan sekadar final. Ini narasi. Mbappe, yang mencetak hattrick di final tapi tetap kalah, akan datang untuk balas dendam atas nama Prancis. Argentina, tanpa Messi, akan datang untuk membuktikan bahwa 2022 bukan cuma karena “keberuntungan Messi”. Bayangkan posternya: “Generasi Mbappe vs Warisan Messi”. Drama yang dijual FIFA seumur hidup.
Hanya Butuh Satu Hal
Bola itu bundar, bro. Sehebat-hebatnya analisis, satu gol bunuh diri di menit 89 bisa menghancurkan segalanya. Tapi sebagai pecinta bola, kita berhak bermimpi.

Mimpi melihat dua kekuatan terbesar era ini bentrok lagi, di negara yang sama sekali baru untuk Piala Dunia. Mimpi melihat final yang bukan cuma soal trofi, tapi soal warisan.
Prancis vs Argentina 2026. Kalau itu terjadi, siapkan kopi, siapkan jantung, dan siapkan data internet. Karena kita akan menyaksikan sejarah lagi.
*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie, Redaktur Khusus Indowork.id


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *