- 25 October 2026
- 3 min read
Sampah Dibakar di Samping Ompreng, Operasional Dimulai Jam 02.17 WIB
JAKARTA: Pukul 02.17 WIB. Saat sebagian besar warga Srengseng Sawah, Jagakarsa, masih terlelap, asap hitam pekat mengepul dari Jalan Haji Sibi No. 2, Kampung Sawah. Bau plastik terbakar menyengat masuk ke celah jendela rumah yang dindingnya hanya berjarak satu meter dari sumber asap.
Sumber asap itu adalah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jagakarsa 008, salah satu dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Selama hampir 10 bulan, warga yang rumahnya menempel persis dengan dapur tersebut harus hidup berdampingan dengan teror asap dan kebisingan dini hari.
“Dini hari itu jam paling parah. Asap masuk kamar anak saya. Kami sudah mengadu ke RT, RW, bahkan Lurah,” kata warga yang rumahnya bersebelahan langsung dengan dapur tersebut kepada Indowork.id.
Fakta di Lapangan: Sampah Dibakar di Area Produksi
Tim Indowork.id mendatangi lokasi dan mengantongi bukti video berdurasi 16 detik dan foto-foto.
Dalam video tersebut terlihat jelas:
Gundukan sampah dan rumput kering dibakar di halaman yang sama dengan area produksi.
Asap membumbung tepat di samping tumpukan ratusan ompreng stainless yang terbuka dan siap pakai.
Karung beras dan bahan pangan diletakkan langsung di lantai tanpa alas dan tanpa zona steril.
Pembakaran sampah terbuka menghasilkan dioksin, furan, dan PM2.5 yang menurut WHO merupakan racun pemicu kanker dan perusak paru-paru anak.
Operasional dapur yang dimulai sejak pukul 02.00 WIB juga menimbulkan dentuman wajan, teriakan pekerja, dan lalu-lalang mobil boks yang menutup akses jalan warga.
Upaya Kekeluargaan yang Buntu

Warga mengaku telah berupaya menempuh jalur kekeluargaan.
Sejak 3 Oktober 2026, warga telah mengirimkan video tumpukan sampah dan pembakaran kepada Ketua Yayasan pengelola SPPG Jagakarsa 008, Firli Ibrahim, namun hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan tanggapan.
Karena tidak ada solusi, warga kemudian berupaya meminta bantuan mediasi kepada wakil rakyat di Dapil Jagakarsa. Pada Jumat pagi, warga mendatangi Gedung DPRD DKI di Kebon Sirih untuk bersilaturahmi dengan Wahyu Dewanto, Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI dari Fraksi Gerindra.
“Saya naik KRL lebih pagi, niatnya tulus ingin silaturahmi. Saya ingin kekeluargaan, bukan somasi atau demo,” ujar warga tersebut.
Namun upaya tersebut belum berhasil. Saat didatangi ke ruang Komisi B lantai 2, pintu tertutup. Staf menyampaikan anggota dewan sedang kunjungan kerja.
PESAN PRABOWO SUBIANTO

Seperti yang terpampang di depan kantor DPRD DKI, ada pesan: “Kalau kita tidak bisa bantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Kalau belum bisa bantulah satu orang. Jika masih belum bisa minimal jangan menyulitkan apalagi menyakiti orang lain.” Tulisan tersebut mengutip pertanyaan Prabowo Subianto.
“Saya adalah satu orang itu. Tetangga dapur tersebut,” tambahnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Indowork.id masih berupaya menghubungi pihak Yayasan pengelola dan BGN untuk konfirmasi.
Warga menuntut tiga hal: penutupan dan audit sanitasi oleh Kemenkes dan BPOM, evaluasi izin pengelola, dan penjelasan terbuka dari BGN terkait pengawasan SOP di lapangan.
Program Makan Bergizi Gratis adalah program mulia dengan anggaran lebih dari Rp 71 triliun. Ia tidak boleh ternoda karena lemahnya pengawasan sanitasi di lapangan. Bersihkan dulu dapurnya, baru bicara soal gizi.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *