- 25 October 2026
- 4 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Akhirnya ada juga lembaga asing yang mau jujur kepada kita. Namanya MSCI.
Selama ini kita hidup dalam gelembung optimisme. IHSG dibilang tertinggi di dunia, kapitalisasi pasar kita katanya terbesar ke-7 di Asia, jumlah investor ritel sudah 15 juta. Semua indah di atas kertas.
Lalu datang MSCI dengan kaca pembesarnya. Dan dia bilang: Sebentar, angka-angka kalian ini beneran nggak sih?
Bagi yang belum paham bisnis MSCI, izinkan saya jelaskan kenapa mereka berani galak.MSCI itu bukan LSM, bukan regulator yang bisa kita kirimi karangan bunga sambil minta maaf. MSCI adalah perusahaan dagang. Dia menjual kepercayaan.
Pendapatan utamanya, lebih dari 50%, datang dari pelanggan real-time indexes. Mereka adalah bank investasi, hedge fund, dan manajer aset global yang membayar mahal untuk berlangganan data indeks MSCI per detik, per menit. Mau Bursa Efek Indonesia ada atau tidak ada, pelanggan ini tetap bayar. Server mereka tidak akan error kalau saham PIK2 atau BREN dikeluarkan.
Sumber pendapatan kedua, sekitar 30%, baru datang dari lisensi. Yaitu ketika reksadana pasif dan ETF di seluruh dunia menggunakan indeks MSCI sebagai acuan portofolio. Salah satu etalase terbesarnya adalah MSCI Emerging Markets Standard Index (EMSI), tempat Indonesia masih dititipkan.
Di EMSI inilah posisi kita semakin mengharukan. Bobot Indonesia per Oktober 2026 tinggal 0,43%. Padahal akhir 2025 masih 1,16%. Tahun lalu masih di atas 1%. Sekarang, kita sudah lebih kecil dari Kuwait. Di dalam indeks itu, kita hanyalah remah-remah rengginang, ditemani 24 saham. Bahkan untuk sekadar menggerakkan indeks EMSI, jual-beli seluruh saham Indonesia pun tidak akan terasa.
PRODUK KEBANGGAAN
Lalu ada satu produk yang sering kita banggakan sebagai bukti cinta dunia kepada Indonesia: EIDO. iShares MSCI Indonesia ETF. Produk kebanggaan yang diluncurkan BlackRock di NYSE pada 5 Mei 2010, 16 tahun silam.
Mari kita lihat betapa besarnya cinta itu. Aset kelolaannya (AUM) hari ini, setelah 16 tahun dipasarkan ke seluruh investor Amerika dan Eropa, tercatat sekitar USD396 juta. Itu setara dengan satu kali transaksi saham gorengan dalam sehari di BEI. Dengan fee lisensi 0,59% per tahun, kontribusi EIDO kepada pendapatan MSCI mungkin hanya sekitar USD 2-3 juta per tahun. Sementara total pendapatan MSCI tahun ini diproyeksikan tembus USD 2,7 miliar.
Jadi, mari kita pakai logika pedagang Pasar Tanah Abang sekalipun: Apakah MSCI akan menangis kehilangan USD 2 juta demi menjaga USD2,7 miliar?
Tidak.
Menghapus Indonesia dari indeksnya praktis tidak akan mengurangi pendapatan MSCI satu sen pun. Bahkan mungkin menghemat biaya riset mereka untuk memverifikasi data free float kita yang ruwet itu.
Sebaliknya, mempertahankan Indonesia tanpa perbaikan transparansi justru menjadi risiko bisnis yang besar bagi MSCI.
Bayangkan. MSCI mengklaim kepada seluruh dunia bahwa indeksnya adalah indeks paling transparan, paling bisa dipercaya, dengan metodologi free float paling ketat. Lalu di dalamnya ada pasar di mana satu saham bisa naik 5.000% dalam setahun tanpa laba yang jelas, di mana kepemilikan pengendali masih dihitung sebagai free float, di mana transaksi harian didominasi oleh satu-dua grup.
Kalau dibiarkan, yang rusak bukan BEI. Yang rusak adalah MSCI sendiri. Klien globalnya akan bertanya: Untuk apa saya bayar mahal indeks kamu kalau isinya begini?
BUKAN ANCAMAN
Itulah kenapa ultimatum MSCI itu bukan ancaman, melainkan peringatan dari seorang pedagang yang menjaga tokonya.
Dan reaksi kita? Luar biasa.
Sebagian dari kita marah. Katanya ini intervensi asing. Neo-kolonialisme finansial. Kita negara berdaulat, masak diatur-atur MSCI.
Sebagian lagi mengusulkan solusi yang sangat brilian dan sangat nasionalis: Mari kita bikin indeks sendiri! Dagang sendiri! Tidak usah pakai MSCI! Kita punya 15 juta investor domestik yang militan!
Saya setuju. Itu ide yang sangat bagus.
Mari kita bikin indeks sendiri, dengan definisi free float kita sendiri, dengan metodologi kita sendiri. Mari kita perdagangkan saham-saham kita sendiri, di antara kita sendiri, dengan uang kita sendiri. Kalau harganya jatuh, kita pompa lagi sendiri. Kalau naik, kita tepuk tangan sendiri.
Dunia tidak akan rugi. Karena sejak awal, dunia memang tidak terlalu butuh kita. Bobot 0,43% itu buktinya.
MSCI hanya sedang membersihkan etalasenya. Barang yang meragukan kualitasnya, dia singkirkan. Bukan karena benci. Tapi karena dia sayang pada pembeli-pembeli besarnya yang lain.Jadi, alih-alih memusuhi MSCI, kita seharusnya berterima kasih.
Terima kasih, MSCI, sudah mau repot-repot memberi tahu bahwa ada yang tidak beres di dapur kita. Padahal kamu bisa saja diam dan pergi begitu saja.
Sekarang bola ada di kita. Mau berbenah dan kembali dipercaya dunia, atau mau terus main di kolam sendiri sambil berteriak bahwa air kolam orang lain itu kotor.
Pilihan yang kedua memang lebih nyaman. Sampai uang di kolam itu habis.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *