- 8 October 2026
- 2 min read
INDOWOR.ID, JAKARTA: Sastrawan dan teaterwan legendaris Putu Wijaya meluncurkan buku terbarunya berjudul Mengejar Yang Tak Terkejar pada Selasa, 6 Oktober 2026 di Balai Sastra Hans Bague Jasin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.
Buku ini merupakan buku hibah ke-9 Teater Mandiri. Peluncurannya dihadiri tokoh sastra nasional seperti Taufik Ismail, dengan panelis Helvy Tiana Rosa dan Madin Tyasawan yang juga menjadi editor buku. Buku setebal kumpulan pokok pikiran kreatif Putu Wijaya ini berisi konsep teater, cerpen, puisi, naskah drama, serta tulisan refleksi dari para akademisi, budayawan, dan tokoh teater. Peluncuran ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan difasilitasi oleh Perpustakaan Jakarta.
Di tengah keramaian sastrawan ibu kota, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Seorang perempuan dari Medan, guru SMP bernama Ade Jania Suyanti.
Ia bukan sekadar undangan biasa. Untuk sampai ke TIM, Bu Ade menempuh perjalanan darat 3 hari 2 malam dari Medan ke Jakarta.”Panas pinggang jangan dikato,” tulisnya sambil berseloroh.
Perjalanan panjang ia tempuh demi bisa hadir langsung di peluncuran buku sang maestro teater. Dan seperti layaknya orang Medan yang menjunjung adat, ia datang tak dengan tangan kosong. Ia membawa buah tangan: sekotak Kopi Medan.
“Cuma bisa ngasi sedikit bapak, tidak sangka ketemu orang baik seperti bapak… Apalah arti sekotak kopi,” tulis Ade kepada jurnalis Indowork.id, Lahyanto Nadie.
Pesan tulus itu dibalas Lahyanto dengan pantun khas Betawi:
Bukan sembarang kopi
Tapi ini kopi dari Medan
Salut dan angkat topi
Jumpa bu guru teladan
Momen haru itu menjadi cerminan apa isi buku Putu Wijaya sendiri: mengejar yang tak terkejar. Seperti Bu Ade yang mengejar ilmu hingga ke Jakarta, mengejar pertemuan dengan sastrawan besar, meski harus melintasi Sumatera dan Jawa.
Pergi ke ladang mengambil ubi
Perjalanan masih panjang
Dari Palembang menuju Jambi
Begitu ia mengirimkan pantunnya dalam perjalanan. Pantun dari tokoh Betawi itu pun meluncur:
Kalau sudah sampai di Jambi
Jangan lupa makan baronang
Meski jumpa sebentar sekali
Budi baiklah selalu dikenang
MENGEJAR SASTRA
Bagi dunia pendidikan, sosok seperti Ade Jania adalah oase. Di saat banyak orang mengejar viral, seorang guru SMP dari Medan justru mengejar sastra. Di saat banyak orang membawa proposal, ia membawa kopi.
Kehadirannya di TIM Cikini kemarin membuktikan satu hal: sastra Indonesia masih hidup, karena masih ada guru-guru seperti dia yang rela menempuh 3 hari 2 malam hanya untuk sebuah buku.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *