- 4 August 2026
- 2 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Dua hari berturut-turut di awal Agustus 2026, IHSG menghijau. Angin segar. Dan seperti biasa, saat pasar membaik, wacana lama muncul lagi: Reverse Stock Split untuk GOTO.
Sebagai investor kecil dan pemegang saham GOTO sejak IPO, saya harus jujur: RSS adalah aksi korporasi yang sia-sia.
Pertama, soal likuiditas. RSS justru membunuhnya.
Logika RSS 10:1 itu sederhana: 10 lembar jadi 1 lembar. Jumlah saham beredar langsung susut 90%. Masalahnya, mayoritas pemegang GOTO adalah ritel di pasar reguler. Investor yang pegang 1 lot = 100 lembar, setelah RSS jadi cuma 10 lembar. Otomatis dia terlempar ke pasar odd lot. Jual-beli jadi ribet, spread melebar.
Yang tadinya punya 2 lot, jadi 0,2 lot. Nggak bisa transaksi di pasar reguler lagi. Keluar. Jadi jangan kaget kalau setelah RSS, yang terjadi bukan rame, tapi sepi. Pemain berkurang, saham beredar berkurang. Itu bukan likuiditas. Itu ilusi.
Kedua, soal MSCI. “Biar nggak dicoret dari indeks”.
Kalau tujuannya cuma kosmetik harga, jawabannya singkat: nggak perlu.
MSCI dan fund manager global tidak menilai perusahaan dari harga per lembar. Mereka lihat market cap, free float, dan fundamental. Mau harga 50 jadi 500 lewat RSS, valuasi GOTO tetap sama. Nggak ada nilai tambah. Hanya sulap angka.
Lalu jalannya ke mana? Hanya satu: buktiin laba.
Pasar sudah lelah dengan narasi pertumbuhan tanpa ujung. Yang dibutuhkan sekarang adalah bukti. EBITDA positif. Margin membaik. Cashflow operasi sehat. Kalau tren perbaikan GOTO di 2026 ini konsisten sampai Q3 dan Q4, saya yakin harga akan naik. Likuiditas akan kembali. Bukan karena di-split, tapi karena ada alasan fundamental untuk beli.
Investor datang bukan karena harga sahamnya 50 perak atau 500 perak. Investor datang karena ada cerita laba.
Ada alternatif yang lebih elegan: Buy Back.
Jika GOTO memang punya kas dan yakin valuasinya murah, gunakan sebagian keuntungan untuk buy back. Lalu hapus bukukan saham treasuri itu.
Dampaknya langsung: EPS naik, jumlah saham beredar turun, dan yang paling penting, ada sinyal kuat dari manajemen: “Kami percaya dengan bisnis kami sendiri”. Ini jauh lebih terhormat daripada RSS.
IHSG bisa menghijau karena sentimen. Tapi GOTO butuh mesin sendiri untuk terbang tinggi.
RSS itu seperti operasi plastik. Wajahnya berubah, tapi isinya sama. Dan sering kali, setelah operasi, orang justru menjauh.
Yang kami tunggu bukan RUPSLB tentang penggabungan saham. Yang kami tunggu adalah satu kalimat di laporan keuangan: “GOTO membukukan laba bersih”.
Itu baru obat. Itu baru arah. GOTO, where to go? Jawabannya ada di dapur, bukan di ruang rapat untuk pecah atau gabung saham.
*) Penulis adalah investor ritel dan pemegang saham GOTO.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *