Proyek LNG Abadi Masela akan mengintegrasikan fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon sejak tahap pengembangan. Teknologi ini diharapkan menekan emisi produksi, tetapi tidak serta-merta membuat LNG bebas karbon.
INDOWORK.ID, TANIMBAR: Proyek LNG Abadi Masela tidak hanya dirancang sebagai salah satu proyek gas terbesar di Indonesia. Proyek senilai US$20,9 miliar tersebut juga akan dilengkapi teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS untuk menangkap dan menyimpan karbon dioksida dari kegiatan produksi.
Penggunaan CCS menjadi salah satu pembeda Masela dibandingkan sejumlah proyek LNG konvensional. Teknologi tersebut dimasukkan ke dalam revisi rencana pengembangan proyek pada 2023 dan disetujui pemerintah pada akhir tahun yang sama.
Pemerintah menempatkan CCS sebagai upaya mempertemukan dua kepentingan: meningkatkan produksi gas untuk kebutuhan energi dan industri, sekaligus mengurangi emisi karbon yang muncul selama proses pengolahan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan fasilitas CCS akan menangkap karbon dioksida dari proses produksi, kemudian menyimpannya kembali di bawah permukaan bumi.
“Ini adalah sebagai bentuk dukungan transisi energi dan penurunan emisi melalui pembangunan fasilitas carbon capture and storage yang akan menangkap dan menyimpan emisi karbon dioksida dari proses produksi,” kata Menteri ESDM dalam groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis, 16 Juli 2026.
Karbon dikembalikan ke bawah tanah
Gas dari Lapangan Abadi di Laut Arafura tidak dapat langsung diubah menjadi LNG. Sebelum dicairkan, gas harus melalui proses pemisahan untuk menghilangkan berbagai kandungan yang tidak diperlukan, termasuk karbon dioksida.
Dalam rancangan Masela, karbon dioksida yang dipisahkan melalui Acid Gas Removal Unit akan dikeringkan dan dikompresi. Karbon tersebut kemudian dialirkan melalui jaringan pipa khusus menuju sumur injeksi di Lapangan Abadi.
Pipa karbon direncanakan dipasang sejajar dengan pipa utama yang membawa gas dari fasilitas produksi di laut menuju kilang LNG darat di Pulau Yamdena.
Karbon dioksida lalu diinjeksikan ke dalam formasi geologi bawah tanah agar tidak dilepaskan langsung ke atmosfer. Rangkaian fasilitasnya mencakup sumur injeksi, pipa CCS, sistem bawah laut, serta fasilitas penanganan karbon di darat dan lepas pantai.
Rencana tersebut membuat CCS tidak berdiri sebagai proyek tambahan yang terpisah. Sistem penangkapan dan penyimpanan karbon akan menjadi bagian dari desain utama pengembangan Lapangan Abadi.
Tambahan investasi sekitar US$1 miliar
Pemasangan teknologi CCS membutuhkan biaya besar. Dokumen proyek menyebut nilai keseluruhan investasi Masela mencapai sekitar US$20,9 miliar, termasuk tambahan sekitar US$1 miliar untuk komponen CCS.
Investasi itu digunakan untuk membangun fasilitas pemisahan, kompresi, jaringan pipa, sumur injeksi, serta sistem pengawasan penyimpanan karbon.
Masuknya CCS juga membuat rencana pengembangan proyek kembali direvisi. INPEX mengajukan perubahan Plan of Development pada 2023 untuk memasukkan komponen tersebut.
Pemerintah kemudian menyetujui revisi tersebut pada Desember 2023. Masela diklaim menjadi salah satu proyek LNG awal yang mengintegrasikan CCS dengan produksi melalui skema pengembalian biaya atau cost recovery.
Skema itu berarti biaya pembangunan dan pengoperasian CCS menjadi bagian dari keekonomian proyek hulu. Konsekuensinya, pemerintah perlu memastikan biaya yang diklaim tetap efisien dan sebanding dengan penurunan emisi yang dihasilkan.
Gas sebagai energi transisi
Pemerintah memandang gas alam sebagai salah satu sumber energi yang dibutuhkan selama proses peralihan menuju sistem energi rendah karbon.
Gas menghasilkan emisi pembakaran yang umumnya lebih rendah dibandingkan batu bara. Pembangkit listrik berbasis gas juga dapat beroperasi secara fleksibel untuk mengimbangi pasokan tenaga surya dan angin yang berubah-ubah.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menjalankan hilirisasi dan industrialisasi. Menurut dia, pengembangan Masela penting untuk mendukung transformasi ekonomi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kita harus melakukan hilirisasi dan hilirisasi ini membutuhkan energi,” kata Prabowo.
Proyek Masela dirancang menghasilkan LNG sebanyak 9,5 juta ton per tahun. Selain itu, proyek ditargetkan memproduksi gas pipa domestik sekitar 150 juta kaki kubik per hari dan kondensat hingga 35.000 barel per hari.
Sebagian gas akan dialokasikan untuk industri pupuk, pembangkit listrik, jaringan gas, serta kegiatan hilirisasi di dalam negeri. PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia telah disebut sebagai calon pembeli domestik.
Kombinasi pasokan gas dan penggunaan CCS membuat pemerintah menempatkan Masela sebagai proyek energi yang mendukung ketahanan energi sekaligus agenda transisi.
Tidak otomatis menjadi bebas karbon
Keberadaan CCS tidak berarti kegiatan produksi LNG menjadi sepenuhnya bebas emisi.
Teknologi tersebut terutama menangkap karbon dioksida yang dipisahkan selama pemrosesan gas. Emisi masih dapat muncul dari penggunaan energi pada kilang, pembakaran bahan bakar, pengoperasian kapal, serta rantai distribusi hingga LNG digunakan oleh konsumen.
Gas alam juga mengandung metana. Apabila terjadi kebocoran pada sumur, pipa, fasilitas produksi, atau proses pengiriman, dampaknya terhadap pemanasan global dapat mengurangi manfaat pengendalian emisi dari penggunaan CCS.
Karena itu, klaim bahwa Masela menjadi proyek LNG yang lebih bersih perlu dibuktikan melalui data. Operator harus menjelaskan jumlah karbon yang dihasilkan, berapa banyak yang berhasil ditangkap, serta berapa besar emisi yang masih dilepaskan.
Penghitungan juga perlu mencakup seluruh rantai produksi, bukan hanya emisi di dalam kilang. Tanpa pengukuran yang menyeluruh, CCS berisiko hanya menjadi label hijau bagi proyek bahan bakar fosil berskala besar.
Efektivitas harus dapat diukur
Keberhasilan CCS Masela akan bergantung pada tingkat penangkapan karbon dan keamanan lokasi penyimpanan.
Operator perlu memastikan karbon tetap berada di dalam formasi geologi dalam jangka panjang. Sistem pemantauan harus mampu mendeteksi perubahan tekanan, pergerakan karbon, serta kemungkinan kebocoran dari sumur atau lapisan penyimpanan.
Data mengenai volume karbon yang diinjeksikan dan hasil pemantauan idealnya dibuka kepada pemerintah serta publik. Keterbukaan diperlukan karena sebagian biaya CCS masuk dalam struktur keekonomian proyek.
Indikator keberhasilan proyek setidaknya perlu menjawab beberapa pertanyaan: berapa juta ton karbon yang ditangkap setiap tahun, berapa persen dari total emisi produksi yang dapat dicegah, berapa biaya penangkapan setiap ton karbon, dan bagaimana jaminan keamanan penyimpanannya.
Persetujuan lingkungan proyek telah diperoleh pada Februari 2026. Dokumen tersebut mencakup berbagai komponen utama, mulai dari pengeboran lepas pantai hingga pembangunan fasilitas pengolahan di darat.
Namun, pengawasan lingkungan tidak berhenti setelah izin diterbitkan. Pemantauan perlu berlangsung selama konstruksi, produksi, penutupan sumur, hingga periode setelah fasilitas tidak lagi beroperasi.
Peluang Indonesia memasuki industri penyimpanan karbon
Pembangunan CCS di Masela juga membuka peluang pengembangan pengetahuan dan industri baru di Indonesia.
Kegiatan tersebut membutuhkan ahli geologi, pengeboran, perpipaan, reservoir, pemantauan, dan pengelolaan risiko. Apabila transfer teknologi berjalan, tenaga dan perusahaan nasional dapat memperoleh pengalaman untuk mengembangkan proyek serupa di wilayah lain.
Indonesia memiliki sejumlah lapangan migas dan formasi geologi yang berpotensi digunakan untuk menyimpan karbon. Dalam jangka panjang, kapasitas tersebut dapat mendukung pengurangan emisi industri dalam negeri.
Namun, pengembangan industri CCS membutuhkan regulasi yang kuat. Pemerintah harus mengatur tanggung jawab apabila terjadi kebocoran, masa pemantauan, kepemilikan karbon setelah disimpan, serta pembagian risiko setelah proyek berakhir.
Kepastian hukum juga diperlukan untuk menentukan siapa yang menanggung biaya pemeliharaan dan pemantauan lokasi penyimpanan dalam jangka panjang.
Ujian bagi klaim LNG lebih hijau
Proyek Masela memperlihatkan bahwa pengembangan gas dan agenda penurunan emisi sedang berjalan berdampingan. Pemerintah tetap membutuhkan gas untuk listrik, pupuk, dan industri, tetapi pada saat yang sama ingin mengurangi jejak karbon dari proses produksinya.
CCS menawarkan jalan tengah, tetapi bukan solusi tunggal. Teknologi tersebut perlu disertai pengendalian kebocoran metana, efisiensi energi kilang, penggunaan energi rendah karbon, dan sistem pemantauan yang transparan.
Tanpa itu, biaya tambahan sekitar US$1 miliar belum tentu menghasilkan penurunan emisi yang sebanding.
Groundbreaking Masela menjadi awal dari pembangunan salah satu proyek LNG dengan sistem paling kompleks di Indonesia. Keberhasilannya kelak tidak hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun.
Proyek ini juga akan diuji dari kemampuannya membuktikan bahwa karbon benar-benar ditangkap, disimpan dengan aman, dan dipantau secara terbuka. Di situlah klaim Masela sebagai proyek LNG yang lebih hijau akan memperoleh ukuran yang sebenarnya.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *