Groundbreaking proyek senilai US$20,9 miliar ini menjadi penanda berakhirnya penantian panjang. Namun, pemerintah dan konsorsium masih harus menuntaskan sejumlah tahapan penting sebelum gas Masela dapat diproduksi.
INDOWORK.ID, TANIMBAR: Setelah melewati perdebatan, perubahan desain, pergantian mitra, dan revisi rencana pengembangan, Proyek LNG Abadi Masela akhirnya memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya pembangunan proyek tersebut melalui konferensi video, Kamis, 16 Juli 2026.
Proyek yang berlokasi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu telah dirintis sejak 1998. Cadangan gas Lapangan Abadi kemudian ditemukan di Blok Masela, Laut Arafura, pada 2000. Hampir tiga dekade setelah proses awal tersebut berjalan, proyek bernilai US$20,9 miliar itu kini mulai bergerak menuju tahap pembangunan.
“Proyek ini hampir tiga dekade kita tunggu. Tiga dekade rakyat menunggu. Alhamdulillah, hari ini kita mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Presiden meminta seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama agar proyek segera menghasilkan gas. Menurut dia, percepatan Masela penting bukan hanya untuk kepentingan investasi, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi, hilirisasi industri, dan pembangunan kawasan Indonesia Timur.
Perjalanan panjang dari laut ke darat
Perjalanan Proyek LNG Abadi Masela berlangsung panjang karena pengembangannya beberapa kali mengalami perubahan mendasar.
Setelah cadangan gas ditemukan pada 2000, konsep awal pengembangan menggunakan fasilitas LNG terapung atau floating LNG. Pemerintah kemudian mengarahkan perubahan konsep menjadi kilang LNG darat atau onshore LNG. Keputusan itu membuat desain teknis dan rencana pengembangan proyek harus disusun kembali.
Revisi Plan of Development untuk konsep kilang darat memperoleh persetujuan pemerintah pada 2019. Kilang LNG kemudian direncanakan dibangun di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar.
Perubahan konsep tersebut tidak sederhana. Proyek tidak hanya membutuhkan fasilitas produksi di laut, tetapi juga jaringan pipa, fasilitas pemrosesan, pelabuhan, kilang LNG di darat, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Pada 2023, struktur mitra proyek juga berubah setelah Shell melepas kepemilikan sahamnya. Participating interest tersebut kemudian diambil Pertamina sebesar 20 persen dan Petronas sebesar 15 persen. INPEX Masela tetap menjadi operator dengan kepemilikan 65 persen.
Masuknya Pertamina dan Petronas memberi kepastian baru terhadap struktur konsorsium. Pengembangan Masela kini menjadi kerja sama perusahaan Jepang, Indonesia, dan Malaysia dalam salah satu proyek gas terbesar di kawasan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut proyek tersebut telah melalui enam periode kepemimpinan presiden. Menurut dia, salah satu persoalan yang membuat proyek lama tertunda adalah perdebatan panjang mengenai apakah fasilitas utama dibangun di laut atau di darat.
“Proyek ini sudah lama terkatung-katung. Perdebatannya antara laut atau di darat dan ini perdebatan yang sangat panjang,” ujarnya.
Investasi lebih dari Rp300 triliun
Proyek LNG Abadi Masela memiliki nilai investasi sekitar US$20,9 miliar atau lebih dari Rp300 triliun, bergantung pada kurs yang digunakan. Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas produksi bawah laut, unit produksi dan penyimpanan terapung, jaringan pipa gas, kilang LNG darat, serta fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon.
Ketika beroperasi penuh, proyek ini dirancang menghasilkan LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun. Masela juga ditargetkan memproduksi gas pipa domestik sekitar 150 juta kaki kubik per hari dan kondensat hingga 35.000 barel per hari.
Fasilitas utama proyek mencakup sumur pengembangan, sistem bawah laut, Floating Production Storage and Offloading atau FPSO, Gas Export Pipeline, kilang LNG darat, serta fasilitas Carbon Capture and Storage atau CCS.
Teknologi CCS akan digunakan untuk menangkap karbon dioksida dari proses produksi. Karbon tersebut kemudian dikompresi dan dialirkan kembali ke sumur injeksi untuk disimpan di bawah permukaan bumi.
Masuknya komponen CCS membuat rencana pengembangan kembali mengalami penyesuaian pada 2023. Namun, teknologi ini juga diproyeksikan menjadikan Masela sebagai salah satu proyek LNG berskala besar yang mengintegrasikan produksi gas dengan penangkapan dan penyimpanan karbon.
Groundbreaking adalah langkah awal
Meski groundbreaking telah dilakukan, perjalanan Masela menuju produksi komersial belum selesai. Konsorsium masih harus menyelesaikan desain teknik, pengadaan, konstruksi, pengeboran sumur, pembangunan jaringan pipa, hingga penyelesaian kilang darat.
Proses Front-End Engineering Design atau FEED telah dimulai untuk sejumlah fasilitas utama. Tender Engineering, Procurement, and Construction juga direncanakan berjalan sebagai bagian dari persiapan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision.
Persetujuan lingkungan telah diperoleh pada Februari 2026, sementara pembebasan lahan di Kepulauan Tanimbar dilaporkan selesai pada Juni 2026. Groundbreaking menjadi penanda formal bahwa proyek mulai bergerak dari tahap perencanaan panjang menuju pelaksanaan pembangunan yang lebih luas.
Menteri ESDM mengatakan pekerjaan awal akan mencakup pembangunan sumur pengembangan serta berbagai fasilitas pendukung, termasuk pelabuhan dan dermaga.
Dengan skala investasi dan kompleksitas teknis yang besar, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal. Kepastian pendanaan, penyelesaian kontrak EPC, kesiapan rantai pasok, perlindungan lingkungan, serta hubungan dengan masyarakat lokal akan menentukan kecepatan proyek.
Prabowo menegaskan bahwa keuntungan investor harus tetap berjalan beriringan dengan kepentingan nasional. Pemerintah, menurut dia, mempunyai tanggung jawab memastikan kekayaan energi tersebut memberi manfaat bagi masyarakat, terutama warga Maluku dan Kepulauan Tanimbar.
“Kita mulai proyek ini, kita cari suatu keuntungan bersama. Para investor harus untung. Tapi sebaliknya, kita punya tanggung jawab yang besar kepada rakyat kita,” kata Prabowo.
Setelah hampir 28 tahun, groundbreaking Masela menjadi tonggak penting. Namun, keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat ketika proyek dapat berproduksi, memasok energi bagi industri nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang selama puluhan tahun menunggu.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *