INDOWORK.ID, JAKARTA: (Ahad, 12 Juli 2026), Piala Dunia 2026 akan memasuki babak Semi Final mulai Selasa siang 14 Juli di Amerika Utara atau Rabu dini hari 15 Juli di Indonesia. Semi final pertama mempertemukan Prancis vs Spanyol dan semi final kedua Inggris vs Argentia.
Prancis menang atas Maroko 2-0, dan Spanyol menang atas Belgia 2-1; sedangkan Inggris menang 2-1 atas Norwegia dan Argentina menang 3-1 atas Swiss. Pertandingan pada perempat final menampikan permainan sepak bola teknik tinggi dengan suguhan atraksi teknik dan taktik atau strategi jitu antar tim.
Salah satu ucapan (quotes) terkenal dari Legenda Sepak Bola Johan Cruyff (asal Belanda, bermain dan melatih Barcelona), “Football is a game of mistakes. Whoever makes the fewest mistakes wins” (Sepak bola adalah permainan tentang kesalahan. Siapa pun yang membuat sedikit kesalahan akan menang).
Dua pertandingan perempat final yang sebenarnya berlangsung dengan teknik tinggi ternyata diwarnai kesalahan sedikit saja, kebetulan dilakukan penjaga gawang. Penjaga gawang muda Belgia Senne Lemmens (Manchester United) yang menggantikan Thibaut Courtois (Real Madrid) karena agak cedera, membuat sedikit kesalahan, tangkapannya tidak lengket atas tendangan keras pemain muda 19 tahun Pau Cubarsi (Barcelona), sehingga disambar dengan sempurna oleh Mikel Merino (Arsenal) pada menit 88, dan mengubah skor menjadi 2-1. Bagi Lemmens yang baru turun pertama kali di Piala Dunia, kesalahan itu boleh jadi akan menjadi mimpi buruk, tapi boleh jadi itu merupakan konsekuensi logis dari sebuah permainan saja.
Penjaga gawang senior Norwegia Orjan Nyland (Sevilla) juga membuat kesalahan kecil yang sama, tidak dapat menangkap tendangan keras Morgan Rogers (AstonVilla), sehingga bola mental disambar Jude Bellingham (Real Madrid) pada babak tambahan waktu menit 93, dan mengubah skor menjadi 2-1. Setelah pertandingan, Nyland yang akan berumur 36 tahun September 2026 nanti terlihat menangis dan sangat terpukul dengan kesalahan kecil itu, karena boleh jadi Piala Dunia 2026 adalah ajang terakhirnya mewakili Norwegia bertanding di turnamen sepak bola terbesar sejagad.
SPANYOL VS BELGIA
Pertandingan Spanyol vs Belgia menjadi tontonan paling menarik, karena pola permainan agak mirip, mengandalkan penguasaan bola dan operan cepat dan akurat, disertasi pressures tinggi dan penjagaan pemain disiplin dengan high-block. Begitu kehilangan bola, hampir semua pemain berusaha melakukan pressures lagi, sementar beberapa lain kembali ke daerah pertahanan. Spanyol terlihat lebih agresif dan unggul dalam penguasaan bola dan tembakan yang mengarah ke gawang.
Kapten Belgia Youri Tielemans (Aston Villa) dikabarkan cedera pada saat latihan, sehingga posisinya digantikan Hans Vanaken (Club Brugge), sekaligus ditugasi mengawal penyerang muda Spanyol Lamine Yamal (Barcelona). Ban kapten diberikan kepada Kevin De Brunye (kini di Napoli), walau tidak sampai selesai. Penyerang Spanyol terlihat sangat agresif, terutama tik-tak antara Pedro Porro (Tottenham Hotsport), dengan Dani Olmo dan Lamine Yamal, yang memang terbiasa bermain sama-sama di Barcelona. Belgia juga aktif menyerang melalui Leandro Trossard (Arsenal), Jeremy Doku (Manchester City), Charles De Ketelaere (Atalanta) dan lain-lain/
Gol pertama yang cukup indah dicetak Fabian Ruiz (PSG), walaupun tidak lama kemudian dibalas oleh Charles De Ketelaere pada menit 41. Pertandingan babak kedua berlangsung berimbang, kedua tim saling bertukar serangan yang cukup berbahaya. Kiper Courtois setidaknya membuat 4 penyelamatan gemilang, sebelum akhirnya mengalami cedera otot paha dan harus ditarik keluar. Masuknya pemain tinggi tegap Romelu Lukaku (kini di Napoli) tidak banyak menolong permainan Belgia, hingga harus berakhir dengan kesalahan kecil kiper Lemmens seperti diuraikan di atas.
INGGRIS VS NORWEGIA
Pertandingan Inggris vs Nowergia juga berlangsung menarik, dengan saling membalas serangan yang terstruktur cukup rapi oleh kedua tim. Inisiatif serangan banyak dari Norwegia dengan ciri khas memanfaatkan lebar lapangan, sambil “menarik” para pemain Inggris untuk mempel Erling Haaland (Manchester City), sehingga menciptakan ruang kosong. Pelatih Inggris Thomas Tuchel (berkebangsaan Jerman) juga menginstruksikan untuk memainkan bola di tengah, tepatnya di jantung pertahanan Norwegia, karena karakter pemain belakangnya cenderung tidak mem-press di sana, tapi berkerumun di sekitar kotak penalti sendiri, sehingga menciptakan ruang kosong, yang membuat leluasa untuk menembak bola dengan keras dari jarak jauh.
Kedua strategi ini terlihat berjalan mulus pada babak pertama. Pada suatu serangan dari sisi kanan pertahanan Inggris, Andreas Schjelderup (Benfica) menggiring bola cepat dan mencetak gol indah dengan tendangan keras masuk ke pojok kanan atas Jordan Pickford (Everton) pada menit 36. Ketinggalan 0-1, Inggris mulai menjalankan penguasaan bola di tengah lapangan, sehingga tersedia ruang bagi Anthony Gordon (Newcastle United, akan pindah ke Barcelona) untuk mengirimkan umpan ke Jude Bellingham, dan dengan satu-dua sentuhan menembak bola dan menjadi gol, mengubah skor 1-1.
Memasuki babak kedua, Norwegia mengubah strategi serangan untuk menekan lebih tinggi atau di awal bola dikuasai Inggris. Manfaatnya, permainan menjadi lebih hidup, disertai “jual-beli” tembakan bola dari luar dalam dan dalam kotak penalti oleh Erling Haaland, Alexander Sorloth (Atletico Madrid), Antonio Nusa (Leipzig), Martin Oedegaard (Arsenal) dan lain-lain. Dalam suatu tendangan penjuru dari sisi kiri gawang Pickford, Torbjorn Heggem (Bologna) mencetak gol setelah bola bergerak liar di tengah. Tapi, gol tersebut dianulir wasit atau tepatnya oleh VAR, karena Haaland dianggap mendorong Elliot Anderson (Nottingham Forest, akan pindah ke Manchester City), hingga jatuh terjengkang, bahkan sebelum bola ditendang. Gol kemenangan Inggris dicetak Bellingham lagi pada babak tambahan waktu memanfaatkan bola muntah seperti dijelaskan di atas.
ARGENTINA VS SWISS
Pertandingan Argentina vs Swiss juga berlangsung menarik, dalam tempo agak tinggi. Strategi Swiss menggunakan formasi 4-2-3-1 yang mengandalkan low-block dan midfield press, suatu kombinasi menarik, untuk tidak memberikan ruang gerak bagi pemain Argentina. Strategi ini tentu mengandalkan transisi permainan yang baik dan counter-attack yang cepat dengan menyisakan Embolo di depan. Strategi Argentina seperti biasa menggunakan formasi 4-1-3-2 yang merupakan varian dari pola klasik 4-4-2 dengan menyerahkan kreativitas serangan kepada Messi dan Mac Allister di gelandang serang. Argentina juga secara cerdas memanfaatkan dua bek sayap Nicolas Tagliafico (Lyon) dan Nahuel Molina (Atletico Madrid) dan dua palang pintu Cristian Romero (Tottenham Hotspur) dan Lisandro Martinez (Manchester United). Permainan menjadi sangat hidup dan Argentina unggul dalam penguasaan bola karena gelandang kreatif Enzo Fernandez (Chelsea) dan Rodrigo De Paul (sekarang main di Inter Miami bersama Messi, setelah cukup lama di Atletico Madrid).
Swiss berinsiatif menyerang sejak menit pertama melalui Breel Embolo (Rennes), Dan Ndoye (Nottingham Forest), Ruben Vargas (Sevilla) dll, hingga menit ke-8. Baru pada menit ke-9, Argentina mulai menyerang melalui Lionel Messi, Alexis Mac Allister (Liverpool), Julian Alvarez (Atletico Madrid), dll. Messi melakukan tendangan penjuru dari sisi kiri gawang hanya menghasilkan tendangan penjuru lagi. Messi juga melakukan tendangan penjuru dari sisi kanan gawang, bola melambung sempurna dan disundul Mac Allister, 1-0 Argentina. Pada babak, serangan balik Swiss dari sisi kanan Emi Martinez berlangsung sangat cepat dan diakhiri tendangan keras dari sudut sempit oleh Dan Ndoye dan mengubah skor menjadi 1-1. Pertandingan terus berlangsung menarik dan enak ditonton.
Petaka bagi Swiss datang pada menit 72 setelah Embolo diganjar kartu kuning kedua, alias menjadi kartu merah, setelah terlibat benturan dengan Leandro Paredes (Boca Juniors). Swiss harus bermain dengan 10 orang, sehingga serangannya menjadi timpang. Bahkan, seluruh permainan Swiss menjadi hilang sentuhan. Intinya adalah, bagaimana suatu kesalahan kecil saja dapat mengubah permainan dan mempengaruhi hasil akhir. Insiden kartu merah karena “mistaken identity” seperti ini akan menjadi talking points untuk beberapa waktu ke depan, walau mungkin lebih rendah intensitasnya dibandingkan intervensi VAR pada pertandingan Argentina vs Mesir pada babak 16 besar.
Swiss mencoba bertahan secara rapi, hingga pertandingan diperpanjang 2×15 menit. Sebelum berakhir babak 15 menit pertama, Julian Alvarez melepaskan tembakan pisang melengkung, masuk dengan indah ke pojok kiri gawang Greg Kobel (Borussia Dortmund), mengubah skor menjadi 2-1. Argentina terus berada di atas angin, hingga gol tambahan dari Lautaro Martinez (Inter Milan) pada akhir babak perpanjangan waktu kedua, dan menutup kemenangan 3-1.

Pertandingan babak semi final nanti pasti akan lebih menarik, karena empat tim terbaik dunia akan bersaing keras untuk menjadi yang terbaik, saling memperebutkan satu Piala Dunia, yang dulu disebut Jules Rimet Trophy atau sekarang sedang di-branding nama baru dengan FIFA World Cup Trophy.
*) Bustanul Arifin, Penikmat Sepak Bola dan Kuliner


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *