GoTo Untung Rp423 Miliar, Arus Kas Operasi Tembus Rp1,72 Triliun, Tetap Waspada! Akumulasi Desifisit Lama Rp214,74 triliun
- 15 August 2026
- 4 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat titik balik penting dalam kinerja keuangannya. Setelah bertahun-tahun identik dengan kerugian, perusahaan teknologi ini membukukan laba periode berjalan sebesar Rp423,25 miliar pada semester I 2026. Pada periode yang sama tahun lalu, GoTo masih menanggung rugi Rp741,96 miliar.
Perbaikan kinerja tidak hanya terlihat pada laporan laba rugi. Arus kas bersih dari aktivitas operasi juga berbalik dari negatif Rp612,05 miliar menjadi positif Rp1,72 triliun. Dengan demikian, perubahan arus kas operasi GoTo mencapai sekitar Rp2,34 triliun dalam satu tahun.
Kinerja tersebut tertuang dalam laporan keuangan interim untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Laporan ini belum diaudit sehingga keberlanjutan perbaikannya masih perlu diuji hingga akhir tahun.
Pendapatan GoTo sepanjang semester I 2026 mencapai Rp10,99 triliun, tumbuh 28,5% dibandingkan Rp8,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan lebih cepat daripada kenaikan beban pokok, yang meningkat 15,4% menjadi Rp4,19 triliun.
Kondisi itu mendorong laba bruto naik 38,1%, dari Rp4,93 triliun menjadi Rp6,80 triliun. Margin laba bruto pun melebar dari 57,6% menjadi 61,9%.
Beban Tumbuh Lebih Lambat
Perbaikan margin juga ditopang oleh pertumbuhan sejumlah beban yang lebih lambat dibandingkan pendapatan. Beban penjualan naik 18,6% menjadi Rp1,59 triliun, sedangkan beban umum dan administrasi meningkat 17,9% menjadi Rp4,43 triliun.
Dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 28,5%, perbedaan laju tersebut menunjukkan mulai terbentuknya operating leverage. Ketika transaksi bertambah, sebagian biaya tetap tidak meningkat dalam kecepatan yang sama sehingga lebih banyak pendapatan dapat diterjemahkan menjadi laba.
Namun, laba semester I 2026 belum sepenuhnya berasal dari kegiatan operasional inti. GoTo membukukan keuntungan selisih kurs Rp315,14 miliar, berbalik dari kerugian kurs Rp44,34 miliar pada semester I 2025.
Pada sisi lain, perusahaan masih menanggung kerugian perubahan nilai wajar efek Rp328,10 miliar, naik dari Rp185,04 miliar. Beban bunga dan keuangan juga melonjak 61,4%, dari Rp240,53 miliar menjadi Rp388,30 miliar.
Setelah memperhitungkan seluruh pendapatan dan beban tersebut, GoTo mencatat laba sebelum pajak Rp691,25 miliar. Beban pajak sebesar Rp268 miliar kemudian menurunkan laba periode berjalan menjadi Rp423,25 miliar.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat lebih tinggi, yakni Rp607,49 miliar. Perbedaan itu terjadi karena kepentingan nonpengendali masih menanggung rugi Rp184,24 miliar.
Saldo kepentingan nonpengendali pada akhir Juni 2026 juga negatif Rp3,42 triliun, memburuk dari negatif Rp3,09 triliun pada akhir 2025. Angka ini menjadi petunjuk bahwa perbaikan kinerja belum terjadi secara merata pada seluruh entitas dalam kelompok GoTo.
Arus Kas Menguat
Perkembangan paling penting terlihat pada arus kas operasi. Penerimaan kas dari pelanggan meningkat dari Rp6,23 triliun menjadi Rp9,52 triliun. Sementara itu, pembayaran kepada pemasok naik dari Rp5,06 triliun menjadi Rp5,51 triliun, dan pembayaran gaji serta tunjangan meningkat dari Rp1,71 triliun menjadi Rp2,07 triliun.
GoTo akhirnya menghasilkan kas dari operasi sebesar Rp1,94 triliun, berbalik dari penggunaan kas Rp544,21 miliar pada semester I 2025. Setelah memperhitungkan penerimaan dan pembayaran bunga serta pajak, arus kas operasi bersih tercatat Rp1,72 triliun.
Arus kas investasi mengalami defisit Rp243,68 miliar, sedangkan arus kas pendanaan negatif Rp205,54 miliar. Dalam kegiatan pendanaan, GoTo mengeluarkan Rp321,52 miliar untuk pembelian saham treasuri dan memperoleh pinjaman bank baru Rp150 miliar.
Secara keseluruhan, kas dan setara kas bertambah Rp1,28 triliun. Ditambah dampak perubahan kurs Rp434,26 miliar, saldo kas GoTo mencapai Rp23,46 triliun pada akhir Juni 2026, naik dari Rp21,76 triliun pada akhir Desember 2025.
Likuiditas ini relatif kuat. Aset lancar mencapai Rp31,22 triliun, sedangkan liabilitas jangka pendek sebesar Rp11,96 triliun. Namun, total liabilitas ikut naik 8,5% menjadi Rp18,50 triliun.
Belum Menghapus Defisit Lama
Meski telah mencetak laba, GoTo masih membawa akumulasi kerugian Rp214,74 triliun. Angka itu merupakan akumulasi kerugian akuntansi sejak tahun-tahun sebelumnya, termasuk berbagai penurunan nilai investasi dan goodwill, sehingga tidak dapat disamakan langsung dengan arus kas yang telah dikeluarkan.
Pada 2025, GoTo masih membukukan rugi bersih Rp1,50 triliun. Namun, kerugian itu telah menyusut 72,5% dibandingkan Rp5,46 triliun pada 2024. Rugi usaha juga turun dari Rp2,24 triliun menjadi Rp378,25 miliar.
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo dalam Laporan Tahunan 2025 menyatakan perusahaan telah “membangun fondasi yang kokoh untuk menciptakan nilai jangka panjang”.
Laporan semester I 2026 menunjukkan fondasi tersebut mulai tercermin dalam laba bersih dan arus kas operasi berdasarkan standar akuntansi. Meski demikian, setidaknya ada tiga hal yang perlu diawasi hingga akhir tahun: keberlanjutan pertumbuhan pendapatan, kenaikan biaya keuangan, dan kemampuan seluruh anak usaha untuk ikut mencapai profitabilitas.
Titik balik GoTo telah terlihat. Pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar kapan perusahaan menghasilkan laba, melainkan seberapa tahan laba tersebut ketika kondisi nilai tukar, persaingan, insentif, dan biaya pendanaan berubah.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *