Bisnis Headline

Harga Rp2 vs Rp338: Pelajaran dari Opsi Saham GOTO

INDOWORK.ID, JAKARTA: Dua rupiah. Lalu hari IPO tiba. Harga dibuka Rp338.

Dalam sekejap, ada orang yang untung 169 kali lipat. Ada yang harus bayar 169 kali lipat.

Di atas kertas, hak opsi itu indah. Namanya insentif. Hak untuk membeli saham di harga tetap.

Bagi manajemen, ini “naik pangkat”. Dari profesional bayaran jadi pemilik. Ada rasa memiliki. Ada loyalitas. Ada dedikasi. Kalau perusahaan tumbuh, laba dibagi. Kalau harga saham naik, mereka ikut menikmati capital gain.

Ada dua jenis. In the money, kalau harga pelaksanaan di bawah pasar. Tinggal jual, langsung untung. Out of the money, kalau di atas pasar. Itu taruhan. “Saya yakin perusahaan ini akan besar”.

Elon Musk paham mainan ini. Dia tidak digaji Tesla. Gajinya adalah opsi. Berlapis-lapis. Itu memaksa dia berpikir 10 tahun ke depan.

Tapi ada syaratnya. Spread-nya harus masuk akal. Tidak terlalu jauh. Bayangkan dikasih kupon beli rumah Rp2 juta, padahal harga pasarnya Rp338 juta. Di awal, kamu semangat jualan. Tapi setelah 2 tahun, kamu sadar: “Ngapain capek-capek? Toh aku sudah untung gede”.

Itu yang terjadi. Insentif jadi mandul. Perusahaan lalu pasang “belenggu”: lock up. Tidak boleh jual dulu. Tapi rasa iri di internal muncul. Pemegang saham kecil bertanya: “Mereka sudah untung segunung, masih peduli nggak ya sama kita?”

Menjelang IPO GOTO, saya menulis ini berulang kali. Dibilang cerewet. Membosankan. Tapi lihat sekarang. Ketika lock up dibuka, dan masa depan masih berkabut, opsi yang tadinya buat memacu, berubah jadi pintu keluar. Sikap tidak adil itu seperti hama. Masuk ke lahan kebersamaan, dan menggerogoti dari dalam.

Opsi saham bukan salah. Yang salah adalah rakus.
Inovasi boleh. Tapi jangan sampai lupa: perusahaan besar dibangun bersama, bukan ditinggal lari bersama.



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *