IESR Menilai Pabrik Alat Berat Listrik XCMG di Weda Bay Belum Efektif Pangkas Emisi, Jika….
Pengoperasian pabrik alat berat listrik XCMG di Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara, memperkuat lokalisasi industri rendah karbon. Namun, IESR mengingatkan elektrifikasi belum otomatis memangkas emisi selama pasokan listrik kawasan industri jika masih bergantung pada energi fosil.
JAKARTA — Pengoperasian pabrik alat berat listrik XCMG di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, menandai babak baru lokalisasi industri alat berat rendah karbon di Indonesia. Namun, elektrifikasi alat tambang belum otomatis menurunkan emisi selama pasokan listrik kawasan industri masih bergantung pada energi fosil.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai sumber listrik menjadi faktor penentu manfaat lingkungan alat berat listrik. Jika baterai diisi menggunakan listrik dari pembangkit berbasis batu bara, pengurangan emisi yang dihasilkan akan lebih terbatas.
Sebaliknya, penggunaan alat berat listrik yang disertai peningkatan pasokan energi terbarukan berpotensi memberikan manfaat dekarbonisasi lebih besar. Pengurangan emisi tidak hanya terjadi pada mesin yang digunakan, tetapi juga pada sumber energi yang menopang kegiatan industri.
“Elektrifikasi bukan sekadar mengganti mesin diesel dengan baterai,” tulis IESR dalam analisis yang diterbitkan pada 18 Agustus 2026.
Menurut IESR, transformasi harus mencakup seluruh rantai energi, mulai dari pembangkitan listrik, penggunaan teknologi, hingga pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.
XCMG mulai mengoperasikan pabrik peralatan energi baru di IWIP, Halmahera Tengah, pada 27 Juli 2026. Fasilitas tersebut menjadi basis manufaktur alat berat energi baru pertama XCMG di luar Tiongkok.
Produk perdana yang diproduksi adalah wheel loader listrik murni XC968-EV. Selain wheel loader, fasilitas tersebut disiapkan untuk memproduksi ekskavator listrik berukuran kecil.
Pabrik ini mengintegrasikan kegiatan penelitian dan pengembangan, manufaktur, pasokan, penjualan, layanan purnajual, dan dukungan pembiayaan. Kehadiran fasilitas produksi di Indonesia diharapkan memperpendek rantai pasok dan mempercepat pelayanan teknis bagi pengguna alat berat.
Berdasarkan keterangan perusahaan yang dilansir ANTARA, hampir 80% tenaga kerja XCMG di Indonesia merupakan pekerja lokal.
Perusahaan juga telah memiliki 32 jaringan penjualan dan 53 jaringan layanan, didukung lebih dari 120 kendaraan pelayanan teknis. Jaringan tersebut melayani lebih dari 30.000 unit alat berat XCMG yang beroperasi di Indonesia.
Kehadiran pabrik itu berpotensi memperkuat kemampuan produksi, layanan teknis, dan pengembangan tenaga kerja lokal. Namun, manfaat industrinya tetap perlu diukur dari tingkat kandungan lokal, keterlibatan pemasok domestik, transfer teknologi, dan kemampuan tenaga kerja Indonesia menguasai proses produksi bernilai tinggi.
Emisi Bisa Berpindah ke Pembangkit
IESR mengingatkan bahwa alat berat listrik memang tidak menghasilkan emisi langsung dari pembakaran bahan bakar saat digunakan. Akan tetapi, emisi dapat berpindah dari mesin ke pembangkit listrik yang memasok energi untuk pengisian baterai.
Persoalan tersebut menjadi penting di kawasan pengolahan mineral seperti Weda Bay. Kegiatan pemurnian mineral, konstruksi, logistik, dan pertambangan membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan beroperasi hampir tanpa henti.
Karena itu, elektrifikasi armada harus berjalan seiring dengan pengurangan ketergantungan kawasan industri terhadap pembangkit berbasis fosil. Tanpa perubahan sumber listrik, penggunaan alat berat listrik lebih banyak mengurangi emisi di lokasi operasi, tetapi belum tentu memangkas emisi secara keseluruhan.
XCMG mengklaim wheel loader listriknya dapat menurunkan biaya operasi sekitar 78%, biaya perawatan sekitar 60%, dan emisi karbon dioksida sekitar 150 ton per unit per tahun dibandingkan dengan alat berbahan bakar fosil pada kelas yang sama.
Namun, angka tersebut masih berasal dari data internal perusahaan dan belum diverifikasi secara independen. Besarnya pengurangan emisi aktual akan bergantung pada pola operasi, beban kerja, usia baterai, efisiensi pengisian daya, dan bauran sumber listrik.
Selain sumber listrik, IESR menyoroti belum kuatnya tata kelola baterai setelah masa pakainya berakhir. Peningkatan penggunaan alat berat listrik akan menghasilkan baterai bekas dalam volume besar pada masa mendatang.
Baterai tersebut mengandung material bernilai ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah lingkungan jika tidak dikumpulkan, disimpan, dan diolah dengan benar.
Pemerintah dinilai perlu menyiapkan sistem yang mencakup pemantauan kondisi baterai, pengumpulan, pelacakan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Mekanisme tanggung jawab produsen juga perlu diperkuat agar pengelolaan baterai tidak berhenti setelah alat dijual kepada pengguna.
Baterai yang tidak lagi memenuhi standar untuk alat berat masih dapat dimanfaatkan sebagai penyimpan energi untuk kebutuhan lain. Setelah tidak dapat digunakan kembali, kandungan mineralnya dapat diolah dan dikembalikan ke rantai produksi.
Menurut IESR, kerangka tersebut harus disiapkan sejak awal. Pemerintah tidak seharusnya menunggu peningkatan volume baterai bekas menjadi persoalan lingkungan baru.
IESR menyebut sedikitnya empat agenda yang harus berjalan secara bersamaan. Pertama, memperluas peralihan alat berat dari bahan bakar fosil menuju tenaga listrik. Kedua, meningkatkan porsi energi terbarukan dalam pasokan listrik kawasan industri.
Ketiga, memastikan baterai dikelola sepanjang siklus hidupnya. Keempat, membangun standar dan regulasi yang mendukung industri alat berat rendah karbon, ekonomi sirkular, dan kegiatan pertambangan berkelanjutan.
Dengan prasyarat tersebut, pabrik XCMG di Weda Bay dapat berkembang dari sekadar investasi manufaktur menjadi bagian dari transformasi industri pertambangan Indonesia.
Tanpa pembenahan sumber listrik dan tata kelola baterai, elektrifikasi berisiko hanya memindahkan sumber emisi. Karena itu, keberhasilan pabrik alat berat listrik di Weda Bay tidak cukup diukur dari jumlah mesin yang diproduksi, tetapi juga dari besarnya energi bersih yang digunakan, kedalaman transfer teknologi, dan kemampuan Indonesia mengelola baterai hingga akhir masa pakainya.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *