Kerugian Garuda Indonesia melonjak menjadi US$319,4 juta pada 2025. Laporan keuangan menunjukkan penurunan pendapatan, terbatasnya armada siap terbang, biaya pemeliharaan, dan beban keuangan lebih dominan dibandingkan dampak langsung kurs.
INDOWORK.ID, JAKARTA: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menyebut konflik Amerika Serikat-Iran dan pelemahan nilai tukar rupiah sebagai dua faktor yang menekan arus kas PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Namun, laporan keuangan Garuda memperlihatkan bahwa kerugian maskapai berkode saham GIAA tersebut juga berakar pada persoalan yang lebih struktural.
Managing Director Finance Danantara Asset Management Sahala Situmorang mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan manajemen Garuda untuk menghadapi tekanan geopolitik dan nilai tukar.
“Namun yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” ujar Sahala sebagaimana diberitakan Pasardana, Kamis, 23 April 2026.
Danantara juga melakukan uji ketahanan atau stress test terhadap portofolio BUMN untuk mengukur dampak skenario terburuk dari konflik dan pelemahan rupiah.
Meski demikian, konflik Timur Tengah tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk menjelaskan kerugian Garuda sepanjang 2025. Dalam laporan keuangan auditan, perseroan menempatkan eskalasi konflik tersebut sebagai peristiwa setelah periode pelaporan.
Eskalasi ketegangan disebut meningkat pada akhir Februari 2026, setelah tahun buku 2025 berakhir. Dampaknya lebih relevan sebagai risiko terhadap harga energi, nilai tukar, permintaan penerbangan, dan arus kas Garuda pada 2026.
Garuda juga menyatakan tidak memiliki operasi langsung yang signifikan di negara-negara yang terlibat konflik. Dampaknya terhadap perusahaan terutama bersifat tidak langsung, antara lain melalui kenaikan harga bahan bakar, gangguan rantai pasok, dan volatilitas kurs.
Pendapatan turun hampir US$200 juta
Garuda membukukan rugi bersih sekitar US$319,4 juta pada 2025, melonjak 357,7% dibandingkan kerugian US$69,8 juta pada 2024.
Kemerosotan tersebut terutama beriringan dengan penurunan pendapatan usaha sebesar US$199,9 juta. Pendapatan Garuda turun 5,9% dari US$3,42 miliar menjadi US$3,22 miliar.
Pada saat bersamaan, beban usaha hanya turun sekitar US$5,2 juta, dari US$3,108 miliar menjadi US$3,103 miliar. Penurunan biaya itu terlalu kecil untuk mengimbangi hilangnya pendapatan.
Akibatnya, selisih antara pendapatan dan beban usaha menyusut dari sekitar US$308,6 juta pada 2024 menjadi hanya US$113,9 juta pada 2025.
Penurunan pendapatan juga berkaitan dengan terbatasnya kapasitas penerbangan. Dari 142 pesawat yang dikelola Garuda Group pada akhir 2025, sebanyak 43 pesawat tercatat tidak siap operasi. Artinya, sekitar 30% armada belum dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
Kondisi tersebut berimbas pada jumlah penumpang yang turun sekitar 10,5% dan frekuensi penerbangan yang berkurang 9,6%. Pendapatan penerbangan berjadwal pun turun sekitar 8,3%.
Di tengah keterbatasan armada, biaya pemeliharaan justru meningkat 23,2% menjadi sekitar US$661,4 juta. Garuda harus mengeluarkan biaya besar untuk mengembalikan pesawat, mesin, auxiliary power unit, dan komponen lain ke kondisi siap operasi.
Beban keuangan melampaui hasil usaha
Persoalan lain yang menonjol adalah tingginya beban keuangan. Sepanjang 2025, beban keuangan Garuda naik menjadi sekitar US$525,8 juta dari US$479,9 juta pada tahun sebelumnya.
Nilai tersebut sekitar 4,6 kali lebih besar daripada selisih pendapatan dan beban usaha Garuda yang hanya US$113,9 juta. Artinya, pemulihan operasi saja belum cukup apabila biaya pembiayaan dan kewajiban lama tidak ikut diturunkan.
Dampak langsung kurs dalam laporan laba-rugi tercatat lebih kecil. Garuda membukukan rugi selisih kurs sekitar US$1,2 juta pada 2025, dibandingkan keuntungan kurs sekitar US$18 juta pada 2024. Dengan demikian, perubahannya sekitar US$19,3 juta.
Angka itu menunjukkan pelemahan rupiah memang ikut memperburuk hasil keuangan, tetapi bukan faktor terbesar dibandingkan penurunan pendapatan hampir US$200 juta dan beban keuangan lebih dari US$525 juta.
Namun, dampak kurs tidak hanya muncul dalam pos selisih kurs. Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya tidak langsung karena sebagian pembelian bahan bakar, sewa pesawat, pemeliharaan, suku cadang, dan kewajiban pembiayaan Garuda menggunakan dolar AS.
Karena itu, keterbukaan mengenai sensitivitas kurs menjadi penting. Garuda dan Danantara perlu menjelaskan seberapa besar tambahan biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk setiap pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Kinerja mulai membaik pada awal 2026
Garuda mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal I 2026. Pendapatan naik 5,36% menjadi US$762,35 juta dari US$723,56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban usaha juga turun tipis dari US$718,36 juta menjadi US$713,22 juta. Selisih pendapatan dan beban usaha pun meningkat dari sekitar US$5,2 juta menjadi US$49,13 juta.
Kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut menjadi US$41,62 juta dari sekitar US$75,93 juta. Sementara itu, kerugian konsolidasian periode berjalan tercatat sekitar US$46,48 juta.
Perbedaan angka US$41,62 juta dan US$46,48 juta berasal dari cakupan akuntansi. Angka pertama merupakan kerugian yang menjadi bagian pemegang saham induk, sedangkan angka kedua mencakup keseluruhan kerugian konsolidasian.
Meski hasilnya membaik, Garuda belum terbebas dari tekanan pembiayaan. Beban keuangan kuartal I 2026 masih sekitar US$104 juta, lebih dari dua kali selisih pendapatan dan beban usahanya.
Tidak semua komponen biaya juga menurun. Beban umum dan administrasi, misalnya, meningkat dari US$42,01 juta menjadi US$47,81 juta atau sekitar 13,8%. Dengan demikian, penyebutan bahwa pos tersebut turun tidak sesuai dengan angka yang disajikan.
Pemangkasan 128 pegawai, dari 10.852 menjadi 10.724 orang, juga belum dapat langsung disimpulkan sebagai penyebab utama menyusutnya kerugian. Diperlukan data biaya pegawai untuk mengukur penghematan yang benar-benar dihasilkan.
Lonjakan avtur belum tercermin
Harga bahan bakar yang terdampak konflik Timur Tengah belum terlihat dalam laporan kuartal I 2026. Biaya bahan bakar Garuda pada periode tersebut justru turun menjadi sekitar US$224,74 juta dari US$233,42 juta.
Dengan demikian, laporan semester I atau kuartal II 2026 akan menjadi ujian lebih nyata terhadap kemampuan Garuda menghadapi kenaikan harga avtur dan volatilitas rupiah.
Manajemen menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari menyesuaikan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, meningkatkan utilisasi pesawat, menerapkan profil penerbangan yang lebih hemat bahan bakar, menekan biaya, hingga meningkatkan pendapatan tambahan.
Namun, kemampuan Garuda mengalihkan kenaikan biaya kepada konsumen relatif terbatas. Tarif penerbangan domestik masih terikat tarif batas atas, sedangkan penerapan fuel surcharge harus mengikuti kebijakan regulator.
Dukungan Danantara belum menghapus risiko
Pada Desember 2025, Garuda menerima tambahan modal sekitar Rp23,67 triliun atau setara US$1,42 miliar. Dukungan tersebut terdiri dari konversi pinjaman sekitar Rp6,65 triliun dan penyetoran dana tunai sekitar Rp17 triliun.
Tambahan modal berhasil mengubah posisi ekuitas Garuda dari negatif sekitar US$1,35 miliar menjadi positif US$91,9 juta pada akhir 2025. Akan tetapi, ekuitas kembali turun menjadi sekitar US$68,25 juta pada akhir Maret 2026 karena perusahaan masih membukukan kerugian.
Sebagian besar dukungan, sekitar Rp15 triliun, dilaporkan dialokasikan untuk kewajiban dan kebutuhan pemulihan Citilink. Adapun sekitar Rp8,7 triliun digunakan untuk program pemeliharaan armada Garuda.
Dana tersebut dapat membantu menambah jumlah pesawat siap terbang dan memulihkan pendapatan. Namun, keberhasilan dukungan Danantara pada akhirnya tidak hanya diukur dari bertambahnya kas atau membaiknya ekuitas, melainkan dari kemampuan Garuda menghasilkan laba operasi yang cukup untuk membayar kewajiban tanpa terus bergantung pada tambahan modal.
Konflik dan pelemahan rupiah memang memperbesar risiko terhadap pemulihan Garuda. Namun, data keuangan menunjukkan pekerjaan rumah utamanya tetap berada di dalam perusahaan: mengaktifkan kembali armada, memperbaiki produktivitas rute, memulihkan Citilink, mengendalikan biaya pemeliharaan, dan menurunkan beban pembiayaan.
Tanpa penyelesaian persoalan tersebut, meredanya konflik maupun menguatnya rupiah belum tentu cukup untuk membawa Garuda kembali mencetak laba secara berkelanjutan.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *