Piala Dunia 2026: Transisi Permainan dan Jam Terbang Penyerang
- 25 June 2026
- 6 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Rabu, 24 Juni 2026, Pepatah lama dalam sepak bolah yang sering dipertentangkan adalah “Menyerang adalah bertahan yang baik” vs “Bertahan adalah awal menyerang”. Dua ungkapan yang sebenarnya tidak jauh berbeda itu melahirkan paradigma mencetak pemain tengah (midfielder) yang banyak dan baik.
Permainan memang menjadi enak ditonton, karena merupakan atraksi kepiawaian dan kemampuan individu pemain. Seringkali pemain tengah ini terjebak dalam pertunjukan kepiawaian bermain bola (show-off) dan mengundang tepuk tangan penonton. Salah satu dampak buruknya adalah jumlah gol yang tercipta dalam sepak bola menjadi sedikit, hanya satu atau dua gol, atau bahkan draw 0-0 atau 1-1. Pertandingan sepak bola menjadi menjemukan karena tidak menarik untuk ditonton, apalagi di tengah gempuran iklan di media televisi dan media sosial yang semakin massif.
Sepak bola modern, paradigma lama itu sudah praktis ditinggalkan, terutama sejak awal 2000-an atau sejak memasuki Abad ke-21, dengan semakin masifnya pola penguasaan bola, tiki-taka, operan satu-dua, sambil maju merangsek ke depan gawang lawan dan menghasilkan gol.
Satu dekade awal dari permainan penguasaan bola menghasilkan juara dunia baru di Afrika Selatan, yaitu Spanyol yang mengalahkan Belanda 1-0 melalui gol Andres Iniesta. Sebagian besar materi pemain Spanyol berasal dari Barcelona dan Real Madrid, yang telah lama mempraktikkan dan mengembangkan sepak bola tiki-taka. Banyak analis sepak bola menyimpulkan bahwa tiki-taka telah mengalahkan total football, walau banyak juga yang tidak setuju terhadap kesimpulan yang terlalu simplistik tersebut.
PRAGMATIS DAN BERTAHAN
Anti-tesis dari sepak bola tiki-taka adalah sepak bola pragmatis dengan bertahan ketat dan bahkan cenderung “parkir bus”. Jose Mourinho datang ke Real Madrid pada 2010 menggantikan Manuel Pellegrini, yang tidak menjuarai apa-apa. Permainan pragmatis Mourinho bahkan mampu menjinakkan permainan menyerang ala tiki-taka yang masih diterapkan Pep Guardiola di Barcelona. Walaupun Guardiola telah mengoleksi 14 trofi juara selama di Barcelona, dominasi Barcelona dan seni sepak bola menyerang mulai mendapat saingan, justeru dari permainan pragmatis. Madrid menjadi juara Copa del Rey 2010-2011, La Liga 2011-2012, Juara La Liga 2011-2012 dan Juara Supercopa Espana 2012.
Pada dekade 2010-an hingga sekarang, paradigma sepak bola menyerang memperoleh penyempurnaan yang menarik, dengan sistem gegen pressing. Ada yang menyebutnya sebagai inovasi baru sepak bola modern, yang dimulai dari beberapa klub besar di Eropa dan Amerika Latin. Kemudian belakangan mulai juga diterapkan di Afrik dan Asia, utamanya Asia Barat dan Asia Timur. Mungkin mirip-mirip suatu proses penelitian ilmiah yang senantiasa memperoleh penyempurnaan atau novelti, baik sisi referensi, metodologi, materi pemain yang lebih komplit, serta dukungan teknologi dan sport science yang jauh lebih maju.
Tim yang mulai membangun serangan dari bawah, dari kiper, bek dan pemain belakang (build-up) mendapat pressure ketat oleh para penyerang dan pemain gelandang serang lawan. Tidak ada pemain yang terlihat berjalan kaki, semua pemain harus berlari kencang, menjaga ketat, menempel dan menekan lawan, dari depan, samping kiri-kanan, dan bahkan dari belakang. Prasyarat atau kata kunci dari paradigma gegen pressing ini adalah transisi permainan yang cepat, baik dari bertahan menjadi menyerang dan sebaliknya dari menyerang menjadi bertahan.
Transisi permainan itu dilakukan dengan sangat cepat, bahkan menjadi counter attack yang amat berbahaya dan mengancam gawang lawan. Prasyarat kedua dari paradigma gegen pressing ini adalah materi pemain yang serba bisa, baik sebagai penyerang, maupun sebagai pemain bertahan. Bagi individu pemain, kualifikasi baru atau persyaratan untuk menjadi pemain hebat tentu semakin kompleks dan penuh persaingan ketat.
MANIFESTASI PARADIGMA
Hasil-hasil pertandingan Piala Dunia pada hari terakhir pertandingan kedua, khususnya Group K dan L adalah manifestasi dari paradigma transisi permainan seperti dijelaskan di atas. Walaupun Portugal menang 5-0 atas Uzbekistan, hal itu tidak diperoleh dengan mudah. Portugal beruntung memiliki pemain sekaliber Christiano Ronaldo (Al-Nassr), Bruno Farnades (Manchester United), Nuno Mendes (PSG), Joao Cancelo (Barcelona), Joao Felix (Al-Nassr), dll. Gol ketiga Ronaldo adalah contoh dari transisi permainan yang sangat sempurna, setelah Fernandes sambil berlari mengirimkan umpan matang ke sisi kanan, yang diselesaikan sangat baik oleh Ronaldo, justeru ke tiang jauh.
Gol kedua dari suatu tendangan bebas, sedikit di luar kotak penalty, melalui skema set-piece menggunakan pemain tipuan (decoy). Hampir semuan pemain belakang atau pagar tembok Uzbekistan tertuju pada Ronaldo, yang biasa mengambil tendangan bebas dengan kaki kanan. Ronaldo menjadi decoy, walau sebenarnya Nuno Mendes juga bersiap dan mengambil posisi sempurna. Tendangan keras kaki kirinya menembus pagar tembok dan menjadi gol. Suatu skema yang memerlukan kecerdasan tinggi dan latihan yang spartan.
Pertandingan Kolombia vs Kongo yang berakhir dengan kemenangan 1-0 juga merupakan hasil dari tansisi permainan dan kualitas pemain yang mumpuni. Gol diciptakan Daniel Munoz (Crystal Palace) yang sebenarnya merupakan pemain bek kanan, yang sering maju atau overlap ke depan menjadi pemain sayap. Sekarang semakin banyak pemain belakang menjadi penyerang sayap yang andal dan sering mencetak gol, sebut saja seperti Achraf Hakimi (PSG, Maroko), Jeremie Frimpong (Liverpool, Belanda), dll. Materi pemain Kolombia memang sangat mendukung untuk melakukan transisi permainan yang sangat baik, misalnya Luis Diaz (Bayern), Richard Rios (Benfica), atau pemain veteran James Rodriguez (pernah di Real Madrid, kini di Minnesota United) dll. Kongo tidak kebobolan lebih banyak karena barisan pertahanan yang tangguh dan kiper Mionel Mpasi (main Rodez, Liga 2 Prancis) yang melakukan beberapa penyelamatan gemilang.
MODERN EKSPLOSIF
Pertandingan Kroasia vs Panama (1-0).dan Inggris vs Ghana (0-0) juga mempertontonkan sepak bola modern yang eksplosif dan enak dinikmati. Krosasia lebih banyak mengambil inisiatif serangan, dengan materi pemain yang cukup komplit. Inggris juga membombardir pertahanan Ghana dan memiliki banyak peluang, tapi belum menghasilkan gol.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel sudah harus bersiap dengan kritik keras para pengamat dan pecinta bola di Inggris, karena 8 kombinasi susunan pemainnya ada yang tidak sesuai keinginan mereka. Permainan Ghana juga cukup hidup, melalui proses transisi permainan yang amat dinamis. Penyerang berbahaya dari Ghana Antoine Semenyo (Manchester City) memang dibuat tidak berkutik oleh pressures keras para pemain belakang Inggris, Suplai bola ke Semenyo tidak cukup memadai, termasuk dari pemain kawakan Thomas Partey (eks Atletico Madrid, Arsenal, dan kini Villareal), yang seharusnya sudah terbiasa dengan permainan tempo tinggi seperti itu.

Pertandingan ketiga atau terakhir di setiap group akan dimulai besok, yang dilaksanakan pada waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda. Pertandingan terakhir selalu menarik, karena setiap tim berjuang untuk lolos ke 32 besar. Bahkan, tim-tim yang sudah menang dua kali dan memastikan lolos, serta tim-tim yang sudah kalah dua kali dan dipastikan tersisih masih akan bersaing keras unruk menggapai puncak klasemen dan pemperbaiki posisinya.
*) Bustanul Arifin, Penikmat Sepak Bola dan Kuliner


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *