INDOWORK.ID, JAKARTA: Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury akan menambah tekanan – yang sudah sangat berat – pada pasar keuangan Indonesia. Paling tidak lima alasan yang menyebabkanya. Berikut adalah tekanan tersebut:
Pertama, Treasury (T Bills, jangka pendek) dianggap sebagai indikator risk free rate. Imbal hasil investasi tanpa risiko. Kalau imbal hasil risk free naik, tingkat keuntungan aset berisiko juga harus naik. Pada harapan keuntungan yang tetap, harga perlu turun.
Kedua, Spread yield UST 10 th dengan SBN 10 th, berkisar 2 angka persen. Kenaikan yield UST menggiring yield SBN untuk naik juga. Kalau tidak, ya tidak laku.
Ketiga, Investor, terutama institusi, akan mengocok kembali perimbangan ekuitas dan utang dalam portfolio mereka. Naiknya yield cenderung menambah posisi surat utang mengurangi saham. Tekanan terhadap harga saham.
Keempat, Naiknya yield, sinyal naiknya tingkat bunga (federal fund rate) melengkapi sinyal naiknya inflasi di AS April lalu.
Kelima, Yield diperkirakan akan bertahan tinggi. Di dalam negeri AS, antisipasi kenaikan FFR. Dari luar, antisipasi kenaikan tingkat bunga yen. Jepang telah berhenti sebagai surga dana murah Yen carry-trade akan menurun jauh. Tahun 2024 tingkat bunga acuan Jepang masih 0,1%. Kini 0,75%.

Perkiraan saya akan terus dinaikkan oleh BOJ, Bank Sentral Jepang. Ancaman bagi AS. Harap maklum, Jepang merupakan negara pemegang US Treasury paling gede, sejak China melego sebagian besar milik nya Per Februari lalu Jepang memegang US Treasury senilai USD 1.24 triliun. Kalau jumlah itu dijual semua, pasar keuangan AS.
*) Ditulis oleh Hasann Zein Mahmud, ekonom dan investor.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *