logo logo

The Ultimate WordPress Theme for Magazine and Newspaper Websites

Figur Headline Humaniora

Tarmizi HN, Mengikat Kehidupan di Antara Permata dan Perkasa

INDOWORK.ID, JAKARTA: Menjelang syukuran ke-53 ulang tahun Ikatan Keluarga Kampung Sawah (Ikkas), Redaksi Indowork.id menurunkan artikel tentang tokoh pendiri organisasi tertua di Kampung Sawah, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Berikut artikelnya:

Anak Betawi  ini bernama Tarmizi HN. Inisial terakhir ini adalah nama ayahnya, Haji Niung. Cang Mijih, demikian saya memanggilnya, lahir di Jakarta pada 10 Juli 1939. Namun saya yakini, ini tanggal yang kurang tepat. “Ncang lebih tua beberapa bulan dari Haji Ti-ich,” katanya kepada saya suatu ketika.

Sementara tahun kelahiran Cang Haji Ti-ich tercatat pada 1940. Argumentasi lain yang. Menguatkan tentang usianya lebih senior ketimbang Cang H.  Ti-ich adalah tentang tanggal pernikahan. “Ncang menikah 3 bulan setelah kondangan ke kawinan Mpok Roisyah dan Bang Mijih. Di situlah baru pertama kali ketemu saya Ncang [H. Ti-ich],” begitu Cang Hajjah Komariah, bercerita.

Pemuda Tarmizi mempersunting gadis pilihannya Rochisyah binti Naat pada 1 September 1966. Pada Desember tahun yang sama, Cang Ti-ich pun menikah dengan Isti Komariah binti Ikrom. Klop dengan keterangan Cang Iyah.

Meskipun usia hanya soal angka, namun ini penting untuk berkisah lebih lanjut tentang tokoh kita ini. Engkongnya bernama Sibi Radjimin, yang kini popular sebagai Jalan Haji Sibi. Di antara cucu H. Sibi, ia termasuk yang paling rajin mendirikan organisasi di Kampung Sawah. Memiliki jiwa seni yang tinggi, pemuda ini mendirikan grup band bersama sepupunya yaitu Munadi Rachman (gitar) dan Muhammad Sibi (vokal).

OM PERMATA

Setelah berumah tangga, Cang Mijih, mendirikan Orkes Melayu Permata, yang dikenal sebagai OM Permata. Dari orkes kampung inilah lahir para musisi berbakat yang mendunia. Riswan Soneta, misalnya, adalah alumni OM Permata yang kemudian menjadi keyboardist Soneta, besutan Rhoma Irama.

Di bidang olahraga, Tarmizi muda juga sebagai pionir untuk cabang bolavoli dan sepakbola. Ia tercatat sebagai pemain awal M3VC (Maju Main Menang Volley Club) bersama Muhammad Sibi, Musmad Sibi, Budiman Kari. Dari klub inilah lahir pelatih bolavoli nasional Mohamad Sarmili H. Abdul Karim Napih. Lapangan bolavoli M3VC berlokasi di halaman muka kober Jemblongan.

Peristiwa yang mengenaskan tentang Cang Mijih bermain bolavoli bukanlah tentang servis, passing (penerimaan), smash (serangan), dan blok. Namun kakinya terluka ketika mengambil bola lantaran tertusuk bambu. Maklum di pinggir lapangan memang banyak tumpukan bambu. Darah pun mengalir. Peristiwa itu sekira tahun 1970.

MEMBENTUK PS PERKASA

Tim PS Perkasa besutan Tarmizi HN (berdiri) vs Persibb

Untuk klub sepakbola, secara sah dan meyakinkan, Cang Mijih adalah pendiri PS Perkasa (Persatuan Sepakbola Kampung Sawah). Ia juga sebagai pemain awal klub pertama di kampung tersebut. Posisinya sebagai midfielder.

Midfielder artinya gelandang atau pemain tengah dalam sepak bola, yaitu pemain yang posisinya berada di antara penyerang dan pemain bertahan, bertugas mengontrol permainan, menjaga penguasaan bola, mendistribusikan umpan, dan mendukung kedua sisi lapangan (menyerang dan bertahan), sering disebut sebagai “mesin” tim karena daya jelajah dan peran krusialnya dalam menghubungkan lini permainan.

Sebagai “mesin” di lapangan, Cang Mijih juga mesin di luar arena mulai dari persoalan membabat rumput lapangan yang penuh duri, kostum, hingga transportasi jika bertanding keluar kampung atau antarkota.

Para pemain lainnya adalah Naman Tamin, Inan Daung, Muhammad Sibi, Nasir Saim, Yakub, dan Saih Deran. Generasi kedua PS Perkasa lebih berbicara di kancah sepakbola antarkampung, bahkan antarkota. Mereka a.l. Hasanuddin, Alham Mulia, Sanin, Ali Munawar H. Mali, Boih Mursalin (kemudian berganti nama menjadi Boy Anthony Sugara), Maman Asmit, Maman Ambon, Djambul Effendi, Niman Roy Nisan, Marjih M. Inin.

Dari klub kampung ini lahir calon pemain nasional yang ikut seleksi PSS Junior. Namun, ia membatalkannya karena berbarengan ujian akhir SMA Negeri 28 Jakarta. Pesepakbola itu adalah Alham Mulia. “Bapak memutuskan untuk ikut ujian daripada seleksi pemain nasional,” kata Bang Alham.

MENDIRIKAN IKKAS

Seiring dengan matangnya usia, Cang Mijih mendirikan Ikkas (Ikatan Keluarga Kampung Sawah) pada 3 Desember 1972 bertempat di rumah yang mewah untuk ukuran kampung ketika itu. Bersama tiga tokoh lainnya yaitu Matalih Ali Arifin bin Husin Nisan, Namat H. Saim dan Naman Tamin. “Ini mewakliki sebrang kulon dan sebrang betan,” kata Cang Mijih.

Sebrang kulon menunjukkan lokasi tempat tinggal Namat dan Naman. Sedangkan sebrang betan diwakili oleh Cang Mijih dan Ali Arifin. Bapak saya, Nadi Entong, tercatat sebagai anggota pertama bersama Tiich, Muchamad Sibi, Niman Djoni, Rahman Tamin, Inan Daung, M. Zainuddin, Adih H. Kari, Budiman H. Kari, Muchtar Saini, Adjum, Nurdin H. Asmat, Djumat, Joesoef H. Niih, Munadi Rachman, Sabenih, dan Tatang Djuhandy.

Mereka ketika itu disebut sebagai para tokoh masyarakat yang aktif di berbagai bidang baik seni, olahraga, kemasyarakatan hingga agama. Sentral kegiatan agama memang di Masjid Al Ikhwan (berloka di sebelah barat Makam Keluarga H. Sibi Radjimin, kini menjadi Jalan Raya Lenteng Agung Timur), namun anggota Ikkas kerap merayakan hari besar Islam secara mandiri dan mewarnai kegiatan masjid Al Ikhwan.

Maklum, ketika itu Al Ikhwan memang didominasi oleh para orang tua. “Emang anak-anak muda nggak dapat kesempatan buat baca rawi, kecuali jadi panitia,” kata H. Zainal Abidin, 20 Desember 2025. Tokoh sentral urusan baca rawi ketika itu adalah H. Muhidin H. Ali bersama adik-adiknya yaitu H. Nasir, H. Muhayar, H. Usman, dan H. Muchtar.

Namun tidak demikian bang Cang Mijih. Ia sering menjadi Ketua Panitia Peringatan Maulid di Al Ikhwan, suatu acara yang terbesar di Kampung Sawah ketika itu. Ikkas pun merayakannya. “Ncang [Mijih] baca rawi Alhamdu, dan Naman Tamin baca rawi lainnya,” kisahnya.

HADIAH SEPATU BOLA

Tarmizi muda versi AI
Tarmizi muda

PS Perkasa dan Ikkas tak dapat dipisahkan dari hidupnya. Pada 1976, ketika saya duduk di bangku kelas 6 SD, Cang Mijih datang ke rumah saya di Gang Empang. Sepulang dari kerja di Hotel Indonesia (HI), ia memberikah hadiah sepatu bola untuk saya. Sempit. Tapi ia memaksakan saya memakainya untuk bermain di lapangan yang ia bangun, setelah kebun Kong Main dan Kong Djoni digusur untuk kampus Universitas Indonesia.

Sepatu bola untuk anak-anak, pada zaman sulit itu, adalah barang sangat mewah. Dan saya beruntung sebagai pemilik pertama bagi bocah Kampung Sawah.

Sejak itulah, saya sering berinteraksi dengan Cang Mijih, sebagai anak gawang Perkasa. Jauh sebelumnya, pada 1970, belum genap setahun saya bermukim di Kampung Sawah, saya sering ke rumahnya untuk menonton OM Permata latihan musik. Saya ingat para penyanyinya ada Rusman Main, Siti Djubaedah,  dan Yantin. Para pemainnya adalah Nunu (akordion), Ruslan (mandolin), Satria (gendang), Djambul Effendi (suling).  Sesekali Cang Mijih memainkan rhythm guitar.

Di situlah kecintaan saya terhadap musik dangdut mulai bersemi. Saya ikut berjoget sepulang mengaji, masih mengenakan sarung dan kopiah. Tiba-tiba ada yang menarik kain saya, oh rupanya Bapak yang melarang saya berjoget. Saya pun langsung pulang.

Esok harinya saya bermain bersama kedua buah cinta mereka: Afrian Muziat dan Richwan Nufi. Usia mereka tak terpaut jauh dari saya. Afrian lahir pada 26 April 1967, sedangkan Nufi pada 4 November 1968.

Ketika kami bermain, Cang Roisyah tengah mengandung anak ketiga. Pada 21 Juli 1970, lahirlah Yan Yulhizi. Setahun kemudian, tepatnya 6 Oktober 1972, kegirangan keluarga itu bukan kepalang. Anak perempuan yang dinanti-natikan akhir hadir juga lalu diberi nama Oke Rosyanti.

Kebagiaan yang makin sempurnah itulah membuat Cang Mijih terinspirasi mendirikan Ikkas, pada 3 Desember 1972.

Setelah memiliki empat anak, sesuai zamannya, pasangan itu masih terus berupaya menambahkan anggota keluarga. Meskipun jaraknya agak jauh, sekitar 3 tahun, maka lahirlah Junarzi Hafidz pada pada 25 Juni 1975. Anak selanjutnya juga jaraknya 3 tahun yaitu Gustus Ramdhan, pada 26 Agustus 1978 dan Dian Mardiana, pada 30 Maret 1981.

Selang 5 tahun kemudian barulah Dian memiliki adik yang diberi nama Ahmad Febri Tarzimi, Lahir pas perayaan hari valintine, 14 Februari 1987. Makanya Febri agak romantis, baik di lapangan bola maupun di lapangan kecil. Si bontot Romi Maulidin Oktafian, lahir pada 11 Oktober 1991. Ketujuh anak lelaki itu adalah atlet sepakbola dengan posisi yang saling melengkapi.

SERING BERDISKUSI

Tarmizi HN dan Roisyah

Kecintaan Cang Mijih terhadap Perkasa dan Ikkas, tak tertandingkan. Ia bahkan tak dapat tidur ketika Perkasa kalah dalam satu pertandingan. Begitu pun ketika ada anggota Ikkas yang tak aktif, ia pusing tujuh keliling. Dalam konteks inilah kami sering berdiskusi.

Saya tidak tahu apa yang diceritakan tentang saya kepada anak-anaknya. Yang jelas setiap pernikahan putra-putrinya selalu melibatkan saya. Terutama untuk urusan lamaran. Saya menyaksikan pernikahan mereka. Bahkan semua saya ikut melamarkan dan menjadi juru bicara keluarga.

Setelah saya berumah tangga, pertama kalinya saya diminta oleh Cang Mijih melamarkan untuk Afrian. Sang calon istri berasal dari ranah Minang, maka tentu saja saya menggunakan petatah petitih ala urang awak. Pada 10 Agustus 1997 menikahlah Afrian dan Nelly yang kemudian dikaruniai dua orang anak.

Yang cukup berkesan adalah ketika saya diminta untuk melamar Ratna Fahmi untuk dijadikan istri Nufi. Sepekan menjelang hari pernikahan, kami datang sekeluarga ke rumah urang awak itu di Depok. Ibunda Ratna tak menyangka saya orang Betawi. Sejak menguluk salam, seraya babaso minang. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakek.” Selanjutnya pun tetap berpepatah petitih. “indak ado karuah nan indak tajaniahkan dan inda ado kusuik nan indak salasai. ” Terjemahan bebasnya berarti “musyawarah untuk mendapatkan mufakat demi kemaslahatan bersama.”

Maka kami bermufakat Nufi dan Ratna menikah pada 1 Agustus 1999.

MENERIMA LAMARAN

Tarmizi dan Roisyah ketika umrah

Lain lagi cerita pernikahan Rosi. Kali ini kami yang menerima lamaran. Lagi-lagi Cang Mijih datang ke rumah saya di Jalan Empang untuk menerima lamaran keluarga Yos Maizar yang juga urang awak. Pernikahan berlangsung pada 5 Juli 1997.

Setelah tiga kali berturut-turut mendapatkan menantu orang Minang, kini giliran Yul yang beruntung dapat mempersunting gadis Betawi dari Bojonggede pada 27 Juli 2003. Saya tidak ikut melamar, hanya datang kondangan mengingat pas lamaran saya masih di kantor.

Dian Mardiana, menikah tanggal 8 Mei 2004 juga punya kenangan sendiri.  Selain menerima lamaran di rumah, kami juga membuat acara “nginep tiga ari” di rumah besan di bilangan Empang Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan. Istri saya, mendapatkan siraman air hujan dari talang sehingga basah kuyup. Kami pun meminjam pakaian besan untuk pengganti.

Pernikahan Junarzi Hafidz, pada 27 Mei 2007 pun saya dilibatkan. Kami datang ke Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Persaudaraan antara ncang dan keponakan, makin intensif ketika saya pindah dari rumah di Jalan Empang ke Jalan Haji Sibi, di samping rumahnya, pada 7 Juli 2007. Saya hanya mampu membeli lahan seluas 200 m2 miliknya. Itu pun setelah menjual rumah di Bintaro, Tangerang Selatan.

Jadilah kami hidup berdampingan sebagai tetangga. Segala persoalan ia curahkan kepada saya. Mulai dari masalah setelah pensiun dari Hotel Indonesia hingga problematika di Masjid Al Ikhwan.

Setelah menjadi tetangga, saya kembali diminta sebagai jurubicara keluarga dalam pernikahan Ramdhan pada 12 Desember 2015. Kami bebesanan antarkampung dari Kampung Sawah ke Ciganjur.

HIJRAH KE CIPAYUNG

Tarmizi dan H. Zainal Abidin

Namun ‘bulan madu’ itu tak berlangsung lama. Kami harus berpisah lantara keluarga Cang Mijih harus pindah ke Taman Induk di Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Peristiwa bersejarah di tempat tinggal baru adalah menikahkan Febri yang memersunting gadis tetangganya pada 9 September 2017. Kondisi saya kurang fit. Pantun yang biasanya meluncur tak terucap satu bait pun. Saya berbicara serius. Seusai menyerahkan calon pengantin pria, Yul berbisik pelan. “Mana pantunnya?”

Sebelumnya saya juga menjadi jurubicara keluarga ketiga pernikahan Romi pada menikah tanggal 30 Juli 2016 di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Ramai. Meriah.

Peristiwa demi kejadian begitu cepat berlalu. Meskipun harus menempuh belasan kilometer, Cang Mijih rajin datang untuk arisan Ikkas ke Kampung Sawah, tanah tumpah darahnya. Kampung Sawah tercinta tak pernah lepas dari ingatannya. Meskipun hujan dan digelar pada malam hari, ia datang paling awal.

Kini, setelah Ikkas berusia 53 tahun, Cang Mijih hanya memandangnya dari jauh. Usia tak dapat dipungkiri. Fisiknya melemah.  Namun, kecintaannya terhadap Ikkas tak pernah lekang karena panas atau lapuk akibat hujan. Ia tetap bak permata yang perkasa pada usia senja.

*) Ditulis oleh Lahyanto Nadie, Redaktur Khusus Indowork.id



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *