Headline Humaniora

Sepakbola Kampung Sawah, dari Kober Djemblongan ke Lapangan UI

INDOWORK.ID, JAKARTA: Akhir pertengan tahun 1969, saya belum genap 5 tahun. Dari rumah di pinggir Ciliwing Gang Camat Gabun, kami berjalan kaki ke lapangan sepak bola Gordess (Gerakan Olahraga Desa Srengsengsawah). Letaknya di pinggir jalan yang kini populer dengan sebutan Jalan Lenteng Agung Timur, Jakarta, Selatan. Di tanah lapang, warga kampung berduyun-duyun untuk menyaksikan pertandingan kesebelasan kebanggan mereka. Hiburan yang menggembirakan di tengah kesulitan hidup.

Bapak saya, Nadi Entong Sanding, mengangkat saya tinggi-tinggi lalu digendong di atas bahunya. Orang Betawi bilang “ditunceng.” Kedua kaki saya dipegang agar tidak terjatuh dan saya memegang kepala ayah sehingga mendapatkan posisi menjadi lebih tinggi.

Oh Bapak terbaik sedunia, orang paling hebat, panutan umat keluarga. Saya bisa menonton pertandingan sepak bola itu dengan leluasa karenanya.

Penjaga gawangnya bernama Muslih dengan nomor punggung 1. Muslih berkaus hitam lengan panjang, celana hitam, dan kaus kaki hitam. Rambutnya lurus.

Pada bagian pertahanan ada Padul dan Bolo dengan nomor punggung masing-masing 2 dan 4. nPenyerang tengah yang bernama Kardi (10), orangnya kecil dan berambut cepat. Bang Kardi ini lincah sekali dan sering mencetak goal. Posisi kiri luar ditempati oleh Mading Chaeruddin Sapri, yang kemudian menjadi pelatih saya.

Di tengah pertandingan, biasanya Pak Saripan –pensiunan tentara yang terkenal galak–berkeliling membawa tas jinjing diiringi anak buahnya.  Tugas Saripan adalah memungut sumbangan dari penonton, akan tetapi agak memaksa.

Jika ada penonton yang tak mau menyumbang, ia memelotinya sambil mengacung-acungkan tongkatnya dari kayu. Pada bagian ujung tongkat dihiasi kuningan. Mengilat.

Pak Saripan kemudian punya warung makanan tempat kita-kita nongkrong. Matanya awas mencermati anak-anak makan. Khawatir ada yang “darmaji” yaitu dahar lima ngaku hiji (makan lima mengaku hanya satu).

TIANG GAWANG DICOPOT

Pada 1974, lapangan sepakbola milik PS Gordess dibongkar. Digali di sana sini. Tiang gawang dicopot. Lapangan di Kampung Srenseng yang awalnya tanah persawahan itu berubah fungsi menjadi gedung untuk pendidikan.

Oh ya, nama Srengsengsawah itu sendiri ada sejarahnya. Konon, begitu cerita guru SD saya Pak Minan Asan, di tengah sawah ada pabrik minyak sereh. Atapnya terbuat dari seng. Maka disebutkan Srengsengsawah. Namun versi dari Pemprov DKI lebih sedikit ilmiah. Srengseng artinya bentuk tanah yang tidak beraturan. Makanya ada kampung Srengseng lain di Jakarta Barat.

Budayawan Ridwan Saidi menyebutkan bahwa Srengseng berasal dari bahasa Sunda  sansekerta yaitu sringsing. Artinya air yang bergemericik.

Proyek pembangunan gedung sekolah itu membuat takjub orang-orang Kampung Srengseng. Ini proyek kedua setelah pembangunan gedung SMPN 41 Filial [kemudian berubah menjadi 98] pada akhir 1969.

Pada 2 Januari 1975, saya kelas 5 Sekolah Dasar, berdirilah bangunan megah itu. Resmi anak-anak SMA Negeri 28 Filial mulai belajar. Pada bagian punggung kaos seragam olahraga tertulis SMAN 28 FILIAL JAKARTA. Induknya, sampai saat ini masih di yang berada di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dua tahun kemudian sekolah itu berubah status dari filial SMAN 28 menjadi SMAN 38 Jakarta. Dasar hukumnya jelas, berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nomor 0189a0/1979. Lapangan sepakbola Gordess kini hanya tinggal kenangan.

PINDAH KAMPUNG

Pada 1969 saya pindah ke Kampung Sawah. Lapangan sepakbola di kampung ini memang tidak ada. Jika ingin bermain sepabola, anak-anak bermain di lapangan bola voli yang lokasinya kini menjadi Pemakaman Umum Jemblongan Srengsengsawah. Klub sepak bola di lapangan ini bernama DBC (Djemblongan Boys Club) yang dipimpin oleh Zainal Abidin Sibi. DBC juga kerap diplesetkan menjadi “djemblongan banyak cetan”.

Namun para pemuda tak kekurangan lapangan. Mereka bermain di lapangan Yon Zikon 13, Yon Zikon 14, dan Yon Zikon 15 (kini menjadi Zeni Penjinak Bahan Peledak atau Zihandak). Lapangan lainnya terdapat di Zeni Harlap (Pemeliharaan Lapangan), Zeni Tempur (Zipur) 7 atau di Desa Putra, sekolah Katolik di bawah Yayasan Budi Mulia (dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda).

Sepakbola adalah olahraga yang paling digemari di Srengsengsawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Setiap pekan selalu ada pertandingan sepak bola antarkampung maupun dengan wilayah lain.

Tarmizi HN Sibi, tokoh olahraga Kampung Sawah, 87 tahun, menjelaskan bahwa cabang bolavoli dan sepakbola yang paling digemari masyarakat. Ia tercatat sebagai pemain awal M3VC (Maju Main Menang Volley Club) bersama Muhammad Sibi, Musmad Sibi, Budiman Kari. Dari klub inilah lahir pelatih bolavoli nasional Mohamad Sarmili H. Abdul Karim Napih.

Untuk klub sepakbola, secara sah dan meyakinkan, Tarmizi adalah pendiri PS Perkasa (Persatuan Sepakbola Kampung Sawah). Ia juga sebagai pemain awal klub pertama di kampung tersebut. Posisinya sebagai midfielder. Midfielder artinya gelandang atau pemain tengah dalam sepak bola, yaitu pemain yang posisinya berada di antara penyerang dan pemain bertahan, bertugas mengontrol permainan, menjaga penguasaan bola, mendistribusikan umpan, dan mendukung kedua sisi lapangan (menyerang dan bertahan), sering disebut sebagai “mesin” tim karena daya jelajah dan peran krusialnya dalam menghubungkan lini permainan.

Sebagai “mesin” di lapangan, Tarmizi juga mesin di luar arena mulai dari persoalan membabat rumput lapangan yang penuh duri, kostum, hingga transportasi jika bertanding keluar kampung atau antarkota.

Para pemain lainnya adalah Naman Tamin, Inan Daung, Muhammad Sibi, Nasir Saim, Yakub, dan Saih Deran. Generasi kedua PS Perkasa lebih berbicara di kancah sepakbola antarkampung, bahkan antarkota. Mereka a.l. Hasanuddin, Alham Mulia, Sanin, Boih Mursalin (kemudian berganti nama menjadi Boy Anthony Sugara), Ali H. Mali, Maman Asmit, Maman Ambon, Djambul Effendi, Niman Roy Nisan, Marjih M. Inin.

Dari klub kampung ini lahir calon pemain nasional yang ikut seleksi PSS Junior. Namun, ia membatalkannya karena berbarengan ujian akhir SMA Negeri 28 Jakarta. Pesepakbola itu adalah Alham Mulia. “Bapak memutuskan untuk ikut ujian daripada seleksi pemain nasional,” kata Bang Alham.

Saya belum masuk klub PS Perkasa. Anak-anak remaja tanggung ikut dalam klub sepakbola Meteor (Mencari Teman Olahraga) dan Orbit (Olahraga Bina Taruna) yang didirikan oleh Mading Chaeruddin Sapri.

MENDIRIKAN IKKAS

Seiring dengan matangnya usia, Tarmizi mendirikan Ikkas (Ikatan Keluarga Kampung Sawah) pada 3 Desember 1972 bertempat di rumah yang mewah untuk ukuran kampung ketika itu. Bersama tiga tokoh lainnya yaitu Matalih Ali Arifin bin Husin Niman, Namat H. Saim dan Naman Tamin. “Ini mewakliki sebrang kulon dan sebrang betan,” katanya.

Sebrang kulon menunjukkan lokasi tempat tinggal Namat dan Naman. Sedangkan sebrang betan diwakili oleh Cang Mijih dan Ali Arifin. Bapak saya, Nadi Entong Sanding, tercatat sebagai anggota pertama bersama Tiich, Muchamad Sibi, Niman Djoni, Rahman Tamin, Inan Daung, M. Zainuddin, Adih H. Kari, Budiman H. Kari, Muchtar Saini, Adjum, Nurdin H. Asmat, Djumat, Joesoef H. Niih, Munadi Rachman, Sabenih, dan Tatang Djuhandy.

Mereka ketika itu disebut sebagai para tokoh masyarakat yang aktif di berbagai bidang baik seni, olahraga, kemasyarakatan hingga agama. Sentral kegiatan agama memang di Masjid Al Ikhwan (berloka di sebelah barat Makam Keluarga H. Sibi Radjimin, kini menjadi Jalan Raya Lenteng Agung Timur), namun anggota Ikkas kerap merayakan hari besar Islam secara mandiri dan mewarnai kegiatan masjid Al Ikhwan.

Ikkas juga memiliki klub Sepakbola. Untuk momentum tertentu Ikkas menggelar turnamen sepakbola. Baik di PS Perkasa maupu PS Ikkas saya tentu tampil sebagai penyerang tengah.

Setelah kampung kami  digusur oleh pemerintah Orde Baru untuk kampus Universitas Indonesia, lahan bekas kebun kami pun disulap menjadi lapangan sepakbola. Sedikitnya terdapat dua lapangan yang dibangun yaitu lapangan PS Perkasa (kini menjadi arena Felfes UI dan hutan kota) dan lapangan PS Kaspon (Kampung Sawah Poncol). Lapangan ini kini menjadi Wisma Makara UI.

Belakangan, setelah Felfes mulai dibangun, PS Perkasa dan Merpati membuat lapangan di bekas lahan engkong H. Niih Sibi. Lokasinya di sebelah utara bekas Gedung SD Srengsengsawah 3. Gedung ini kemudian digunakan untuk Markas Resimen Mahasiswa (Menwa) UI. Di sinilah saya sebagai kapten kesebelasan, mencetak goal dalam setiap pertandingan. Goal…



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *