Peningkatan laba bersih sebesar 511% perlu dibaca dengan mempertimbangkan basis pembanding yang relatif rendah. Laba bersih semester I 2025 hanya sebesar Rp2,45 miliar, sehingga peningkatan ke Rp14,97 miliar secara persentase menghasilkan pertumbuhan yang sangat tinggi.
INDOWORK.ID, JAKARTA – Kinerja keuangan PT Phapros Tbk (PEHA) pada semester I 2026 menunjukkan tren pemulihan yang semakin positif. Setelah berhasil membukukan laba bersih pada 2025 dan keluar dari tekanan kerugian yang cukup besar pada 2024, Phapros kembali mencatatkan pertumbuhan profitabilitas pada enam bulan pertama 2026.
Pada semester I 2026, Phapros membukukan penjualan sebesar Rp482,85 miliar, meningkat 5,37%dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp458,22 miliar.
Meskipun pertumbuhan penjualan tersebut relatif moderat, peningkatan laba bersih justru jauh lebih tinggi. Laba bersih Phapros mencapai Rp14,97 miliar, melonjak sekitar 511% dibandingkan dengan laba bersih semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp2,45 miliar.
Lonjakan laba tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kinerja Phapros tidak semata-mata berasal dari pertumbuhan penjualan, tetapi juga dari semakin baiknya kualitas pendapatan dan efisiensi biaya perusahaan.
Salah satu indikator penting terlihat pada perbaikan margin laba kotor. Rasio harga pokok penjualan terhadap penjualan turun dari sekitar 52% pada semester I 2025 menjadi 49% pada semester I 2026.
Kondisi tersebut mendorong margin laba kotor meningkat dari sekitar 48,0% menjadi 50,4%. Dengan demikian, setiap Rp100 penjualan yang dihasilkan perusahaan pada semester I 2026 memberikan laba kotor sekitar Rp50,40, lebih tinggi dibandingkan sekitar Rp48 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan margin ini menjadi salah satu faktor utama yang menjelaskan mengapa pertumbuhan laba bersih jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan.
Phapros juga menyampaikan bahwa peningkatan kinerja tersebut didukung oleh strategi penguatan produk dengan margin yang lebih baik, efisiensi proses produksi, serta pengendalian biaya secara lebih terukur.
Perbaikan tersebut merupakan perkembangan yang cukup penting mengingat Phapros sebelumnya mengalami tekanan yang berat.
Pada 2024, perusahaan masih membukukan rugi bersih sekitar Rp290,63 miliar. Namun, pada 2025 Phapros berhasil melakukan turnaround dengan membukukan laba bersih sebesar Rp27,44 miliar, seiring dengan pertumbuhan penjualan menjadi sekitar Rp940,88 miliar. Tren pemulihan tersebut kemudian berlanjut pada 2026.
Selain perbaikan profitabilitas, posisi likuiditas perusahaan juga menunjukkan perkembangan yang positif. Kas dan setara kas pada akhir semester I 2026 mencapai sekitar Rp162,47 miliar, meningkat sangat signifikan dibandingkan Rp51,49 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan kas tersebut memberikan ruang yang lebih baik bagi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan operasional maupun mendukung pengembangan bisnis.
Dari sisi aset, total aset Phapros pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp1,45 triliun, meningkat sekitar 4,66% dibandingkan posisi akhir 2025.
Kenaikan aset yang disertai dengan peningkatan kas menunjukkan adanya penguatan neraca perusahaan setelah melalui periode tekanan keuangan yang cukup berat.
Meski demikian, kinerja semester I 2026 tetap perlu dilihat secara hati-hati. Pertumbuhan penjualan sebesar 5,37% masih berada di bawah target pertumbuhan penjualan lebih dari 20% yang dicanangkan manajemen untuk tahun 2026.
Artinya, apabila target tersebut ingin dicapai, perusahaan masih membutuhkan akselerasi kinerja pada semester II.
Di sisi lain, peningkatan laba bersih sebesar 511% perlu dibaca dengan mempertimbangkan basis pembanding yang relatif rendah. Laba bersih semester I 2025 hanya sebesar Rp2,45 miliar, sehingga peningkatan ke Rp14,97 miliar secara persentase menghasilkan pertumbuhan yang sangat tinggi.
Oleh karena itu, indikator yang lebih penting untuk diperhatikan ke depan adalah kemampuan Phapros mempertahankan margin laba, meningkatkan penjualan, menghasilkan arus kas operasi yang sehat, serta menjaga tingkat utang dan beban keuangan.
Secara keseluruhan, kinerja Phapros pada semester I 2026 menunjukkan bahwa proses turnaround perusahaan masih berada pada jalur yang positif. Perusahaan tidak lagi berada dalam posisi merugi, sementara margin laba kotor, laba bersih, dan posisi kas mengalami perbaikan. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa perbaikan tersebut bersifat berkelanjutan, bukan hanya efek efisiensi atau perbaikan sementara.
Dengan demikian, semester I 2026 dapat dipandang sebagai periode konsolidasi penting bagi Phapros. Jika peningkatan efisiensi, perbaikan product mix, pertumbuhan penjualan, dan penguatan arus kas dapat dipertahankan hingga akhir tahun, maka fundamental perusahaan berpotensi menjadi jauh lebih kuat dibandingkan kondisi sebelum turnaround pada 2025.(*)


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *