Figur Headline

Babay Parid Wazdi, Penggembala Kambing Jadi Bankir



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Sejak kecil Babay Parid Wazdi tak pernah terpikirkan menjadi bankir. Masa kecil Direktur Kredit UMK dan Syariah Bank DKI, ini dihabiskan untuk menggembala kambing dan ayam.

“Saya kan hidup di Karawang. Jadi hidupnya anak-anak kampung banget. Ngangon kambing, ngadu jangkrik dan ayam.”

Selepas lulus SMA, pria kelahiran Karawang, 22 Juli 1971, ini melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, hingga lulus pada 2007. Pilihan itu atas saran sang kakek yang petani.

Sang kakek berharap agar Babay dapat menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Sebuah profesi yang keren, dalam pandangan kakeknya.

Ayah Babay meninggal sejak ia duduk di bangku SMA. Kuliah Babay pun  lebih banyak dibiayai oleh kakeknya. “Kamu masuk Fakultas Pertanian aja biar bisa jadi PPL,” kata Babay menirukan kakeknya.

Di kampungnya,  pejabat PPL dianggap sangat keren karena setiap hari naik motor mendatangi petani.  Sang pejabat menanyakan kondisi petani sehingga begitu terhormat di mata masyarakat. Mungkin karena itulah kakek Babay terinspirasi cucunya menjadi PPL.

Ketika kuliah di Jogja, Babay bertemu dengan beberapa tokoh lulusan Fakultas Pertanian UGM, seperti Beddu Amang (Mantan Kabulog), Menteri Pertanian era Soeharto yakni Wardojo dan mantan Direktur BRI I Wayan Alit. Itulah yang membuat membuat wawasan Babay semakin terbuka. Ternyata dapat menjadi beragam profesi dari lulusan Fakultas Pertanian.

Setelah terinspirasi dari para tokoh, Babay sempat memutuskan untuk menjadi dosen. Ia pun mengirimkan surat lamaran kerja ke beberapa perguruan tinggi. Namun, nyatanya tak satu pun perguruan tinggi yang merespon lamarannya.

Beruntungnya, lamaran Babay justru diterima oleh sejumlah bank sehingga ia sibuk mengikuti tes kerja di beberapa bank. “Heran juga saya,” kenangnya.

Karirnya gemilang. Pemilik gelar gelar Master di bidang Management Business dari International University of Japan pada tahun 2011, ini terus mengalami promosi hingga menjadi Team Leader Capability Development BB II Human Capital PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (2014-2015). Kemudian ia dipromosikan menjadi Transaksional Banking Sales Manager Kanwil IV Jakarta Thamrin PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (2015-2017).

BERLABUH DI BANK DKI

Babay selanjutnya pindah menjadi Kepala Divisi International & Transaction Banking PT Bank Jabar Banten TBK (2017-2018). Sejak 30 Oktober 2021 hingga kini berlabuh di Bank DKI.

Babay rajin menulis sehingga baik di media massa maupun untuk kepentingan pekerjaan. Buku ini adalah salah satu produk dari pengembaraan intelektualitasnya.

Ketika ngobrol dengannya pada Selasa, 20 September 2022, di lantai 3 Gedung Kantor Pusat Bank DKI Jl. Suryopranoto, Jakarta Pusat, Babay menjelaskan tentang ide dan gagasannya. Melalui Bank DKI tempat ia berkarir, kontrobusinya terhadap pembangunan Jakarta ia beberkan.

“Jakarta International Stadium [JIS] bisa jalan karena ada kredit dari Bank DKI ke Jakpro sebagai pengembangnya,” kata pria yang suka golf itu.

Ia juga berbicara soal ekonomi makro sehingga Jakarta mengalami pertumbuhan di atas nasional. Soal inflasi, misalnya, mengapa Jakarta lebih terkendali? “Inflasi itu kan akibat dari supply tidak ada, produksi tak cukup, sehingga pendapatan masyarakat yang menurun.  Di Jakarta semua itu terkendali.”

MENULIS BUKU

 

Banyak gagasan bagi bankir yang ketika sekolah masuk ke Persatuan Pelajar Indonesia (PII) dan Muhyammadiyah, namun ketika kuliah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam ngobrol santai di restoran dalam kawasan Senayan Golf Course, Ahad, 25 September  2022, ia mengungkapkan ingin menulis buku.

Menurut Babay, dari diskusi kecil bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan dan beberapa teman lainnya  terciptalah gagasan untuk menuliskan sebuah buku. Buku tentang pembangunan Jakarta. Dari kolaborasi pemikiran Gubernur dan juga ide para pelaku pembangunan. “Pun aspirasi masyarakat DKI Jakarta,” ujarnya. Kita tunggu tanggal mainnya.

 

Berita Lainnya