Headline Industri Otomotif Manufaktur

Di Balik Reli VKTR, Investor Perlu Cermati Aliran Transaksi di Internal Grub Bakrie

Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) bergerak agresif sejak Juli 2026, bersamaan dengan aksi korporasi rights issue jumbo dan penguatan narasi kendaraan listrik Grup Bakrie. Tetapi pasar perlu mencermati satu hal penting: apakah dana rights issue akan menghasilkan arus kas eksternal yang sehat, atau lebih dulu berputar di dalam ekosistem grup melalui pembelian kendaraan oleh anak usaha kepada induk?

INDOWORK.ID, JAKARTA: Pergerakan saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dalam dua bulan terakhir menarik perhatian pasar. Saham emiten kendaraan listrik Grup Bakrie itu sempat menyentuh auto rejection atau ARA 25 persen ke Rp650 per saham pada perdagangan 13 Juli 2026. Nilai transaksi saat itu mencapai Rp77,49 miliar dengan volume 127,3 juta saham. Antrean beli di harga ARA tercatat 57.217 lot atau sekitar Rp3,72 miliar.

Reli belum berhenti. Sehari kemudian, 14 Juli 2026, VKTR kembali melesat 21,54 persen ke Rp790 per saham. Penguatan itu terjadi ketika sejumlah saham Grup Bakrie lain juga ikut bergerak naik, seperti ENRG, BRMS, DEWA, BUMI, dan ALLI.

Pada 7 Agustus 2026, VKTR masih menjadi bagian dari reli saham-saham Grup Bakrie. Data Bursa Efek Indonesia yang dikutip IDXChannel menunjukkan VKTR menguat 5,81 persen ke Rp910 per saham. Dalam sepekan, saham ini naik 24,66 persen. Dalam sebulan, lonjakannya mencapai 73,33 persen.

Pola kenaikan tajam yang berdekatan dengan aksi korporasi besar membuat VKTR layak dicermati lebih dalam.

Daei hasil penelusuran, salah satu faktor penting di balik pergerakan VKTR adalah rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. VKTR menyiapkan penerbitan maksimal 25 miliar saham baru. Jika seluruh saham baru diterbitkan, pemegang saham lama yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi terdilusi hingga 36,36 persen.

Dalam skema rights issue tersebut, setiap tujuh saham lama berhak memperoleh empat HMETD. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 3–7 Agustus 2026.

Dana hasil rights issue diarahkan untuk memperkuat bisnis kendaraan listrik. Sebanyak 80 persen dana dialokasikan sebagai penyertaan modal kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia, anak usaha VKTR yang bergerak dalam model bisnis e-mobility-as-a-service. Dana itu kemudian digunakan untuk membeli kendaraan listrik dari VKTR pada periode 2026–2027. Sisanya, 20 persen, digunakan untuk modal kerja perseroan.

Skema ini sah sebagai strategi bisnis. Namun, dari kacamata investor, ada pertanyaan penting: apakah dana rights issue akan menghasilkan arus kas eksternal yang sehat, atau lebih dulu berputar di dalam ekosistem grup melalui pembelian kendaraan oleh anak usaha kepada induk?

Pertanyaan itu penting karena model e-mobility-as-a-service membutuhkan modal besar. Kendaraan harus dibeli, disewakan, dipelihara, dan dioperasikan dengan utilisasi tinggi agar menghasilkan arus kas yang cukup. Jika utilisasi rendah atau kontrak tidak berjalan sesuai rencana, beban depresiasi dan pembiayaan dapat menekan laba.

Bakrie Metal Tambah Porsi di Harga Rp100

Setelah rights issue, muncul transaksi penting lain. PT Bakrie Metal Industries membeli 3 miliar saham VKTR pada harga Rp100 per saham pada 21 Agustus 2026. Nilai transaksi mencapai Rp300 miliar. Setelah transaksi, kepemilikan Bakrie Metal Industries naik dari 6,21 miliar saham atau 14,20 persen menjadi 9,21 miliar saham atau 21,06 persen.

Sumber mencatat ransaksi tersebut dilakukan jauh di bawah harga pasar reguler. Pada 28 Agustus 2026, saham VKTR ditutup di Rp965 per saham, naik 6,63 persen. Dalam sebulan terakhir, saham VKTR disebut menguat sekitar 25,32 persen.

Secara pasar, jarak antara harga transaksi Rp100 dan harga pasar reguler yang jauh lebih tinggi menimbulkan pertanyaan yang layak diajukan: siapa pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga saham di pasar sekunder setelah aksi korporasi?

Pemegang saham yang dapat menambah porsi di harga pelaksanaan rendah tentu berada pada posisi lebih baik daripada investor publik yang membeli saham di pasar reguler pada harga jauh lebih tinggi.

Prospek VKTR

VKTR mempunyai bisnis kendaraan listrik komersial, terutama bus listrik, truk listrik, forklift listrik, dan komponen otomotif. VKTR juga menjadi salah satu pemasok bus listrik untuk TransJakarta.

Pada akhir 2025, VKTR telah mengirimkan 50 unit bus listrik untuk operator TransJakarta dari total pemesanan 80 unit. Sebanyak 30 unit lainnya telah menyelesaikan tahap perakitan sasis dan diproyeksikan masuk pada awal 2026. Perseroan juga menyebut total kumulatif pasokan bus listrik untuk TransJakarta dapat mencapai 152 unit atau sekitar 30 persen dari armada bus listrik TransJakarta.

Dari sisi industri, VKTR juga didukung narasi yang kuat. Samuel Sekuritas menyebut VKTR sebagai salah satu pemasok bus listrik utama dan calon penerima manfaat dari tender TransJakarta 2026. Riset tersebut memperkirakan VKTR berpeluang memenangkan sekitar 90–100 unit atau pangsa 25–30 persen, didukung kepatuhan TKDN 40 persen.

Samuel juga menilai peluang pertumbuhan VKTR tidak hanya berasal dari bus listrik. Perseroan menyiapkan bus listrik ukuran 8 meter dan truk listrik. Segmen truk listrik dinilai berpotensi memberi margin lebih tinggi dibanding bus listrik, terutama bila masuk ke sektor pertambangan dan perkebunan.

Dengan demikian, prospek VKTR tidak dapat disebut ilusi. Ada produk, ada pelanggan, ada tren elektrifikasi transportasi publik, ada fasilitas produksi, dan ada dukungan kebijakan TKDN.

Namun, prospek bisnis berbeda dengan prospek harga saham. Bisnis bisa tumbuh, tetapi valuasi saham tetap harus diuji dari laba, arus kas, margin, dan kualitas pendapatan.

Di sinilah persoalan utama muncul.

Pada semester I 2026, VKTR mencatat penjualan bersih Rp647 miliar, naik 56 persen secara tahunan. Perseroan juga membukukan laba usaha Rp16 miliar dan laba bersih konsolidasi Rp10 miliar. Manajemen menyebut pertumbuhan ini ditopang bisnis kendaraan listrik komersial dan pemulihan bisnis komponen otomotif.

Namun, laba konsolidasi tidak sama dengan laba yang menjadi hak pemegang saham induk. Bloomberg Technoz mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk VKTR pada semester I 2026 hanya Rp1,12 miliar, turun 76,18 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar laba bersih konsolidasi, sekitar Rp8,95 miliar, mengalir ke kepentingan nonpengendali.

Penulis mencatat sekitar 88,79 persen dari total laba VKTR sepanjang semester I 2026 menjadi hak kepentingan nonpengendali. Ini mencerminkan struktur kepemilikan VKTR di sejumlah anak usaha yang belum sepenuhnya dimiliki perseroan.

Bagi investor publik, angka ini krusial. Mereka membeli saham VKTR, bukan seluruh laba konsolidasi yang sebagian besar menjadi hak pemegang saham nonpengendali. Karena itu, ukuran yang lebih relevan adalah laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Dengan laba induk sekitar Rp1,12 miliar, reli harga saham VKTR terlihat lebih banyak ditopang ekspektasi masa depan daripada pembuktian laba saat ini.

Ada dua wajah dalam cerita VKTR.

Wajah pertama adalah wajah pertumbuhan. VKTR masuk sektor yang sedang mendapat angin kebijakan: kendaraan listrik, transportasi rendah emisi, TKDN, TransJakarta, e-MaaS, dan peluang truk listrik. Di atas kertas, ruang tumbuhnya besar.

Wajah kedua adalah wajah risiko. Rights issue jumbo menambah jumlah saham beredar dan berpotensi mendilusi pemegang saham lama. Penggunaan dana melalui anak usaha e-MaaS membutuhkan pembuktian arus kas. Laba induk masih kecil. Pergerakan saham terjadi sangat agresif dalam waktu singkat. Pemegang saham afiliasi juga menambah porsi di harga jauh lebih rendah dari harga pasar reguler.

Karena itu, pergerakan VKTR lebih tepat dibaca sebagai saham berbasis peristiwa atau event-driven stock. Kenaikannya dipicu campuran antara narasi EV, aksi korporasi, sentimen Grup Bakrie, ekspektasi tender, dan pembelian saham oleh pihak terafiliasi.



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *