INDOWORK.ID, JAKARTA: Aksi demonstrasi yang semakin marak di berbagai daerah di Indonesia belakangan ini terjadi karena akumulasi keresahan masyarakat terhadap kondisi sosial, kebijakan politik, dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Maraknya gelombang unjuk rasa ini menjadi sorotan karena mencerminkan dinamika hubungan antara pemerintah Prabowo-Gibran dan rakyat yang sedang memanas.
Faktor Utama Pemicu Maraknya Demo.
- Tekanan Ekonomi Masyarakat: Kebijakan ekonomi yang dianggap kurang berpihak pada rakyat kecil memicu gelombang protes. Demonstran menilai pemerintah kurang responsif terhadap beban ekonomi yang kian menjepit kehidupan sehari-hari.
- Kritik Terhadap Kebijakan Politik: Adanya kekhawatiran mengenai arah demokrasi dan tata kelola pemerintahan. Sebagian pengamat menilai maraknya gerakan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil membawa atmosfer yang mirip dengan semangat reformasi 1998 sebagai bentuk alarm bagi penguasa.
- Ketimpangan Anggaran Pusat-Daerah: Berdasarkan analisis pakar, salah satu akar maraknya protes di tingkat daerah adalah masalah desentralisasi dan pemusatan anggaran di pusat yang dinilai membuat pembangunan daerah menjadi terhambat.
- Kemunculan Progres Baru & Isu Nasional: Isu-isu spesifik seperti pro-kontra implementasi program nasional (misalnya program Makan Bergizi Gratis di daerah seperti Jember) ikut menyulut aksi massa yang terjadi beruntun dari kubu yang mendukung maupun yang menolak.
Uniknya, fenomena belakangan ini tidak hanya diwarnai oleh aksi protes kepada pemerintah, tetapi juga maraknya demo tandingan yang digelar oleh kelompok massa lain untuk menyuarakan dukungan terhadap pemerintah. Hal ini menunjukkan polarisasi suara di tengah masyarakat yang semakin terbuka.
Seorang wartawan senior mengatakanbahwa anak UI dan UGM demo di-framing mahasewa dan memakan duit dari George Soros. “Anak-anak pinter, kritis, dan peduli nasib bangsanya diframing sebagai penjahat,” ujarnya.
Dari dukung pemerintah, buzzer maksa bikin taggar tolol: boikot UI dan UGM. Malam ini Allah terbuka semuanya. Anak-anak yang ngaku dari UBK dan bertemu Gibran saat demo di hari yang sama, malam ini buka suara. Ternyata mereka dibayar polisi Rp20 juta, ada 10 orang, masing-masing terima Rp2 juta.
Sementara itu, ibu-ibu yang demo dukung MBG siang tadi ternyata juga dibayar Rp80.000-Rp120.000 per orang, plus dikasih alat masak. “Kalau mau munafik, munafiklah, tapi jangan fitnah anak-anak yang memang bersuara untuk hati nuraninya.”
Ia menilai kondisi pemerintah sudah berada di titik terendah. Masyarakat diminta untuk tidak berdebat dengan kaum munafikun pendukung MBG dan KopMP.
SUDUT PANDANNG PEMERNTAH
- Cermin Kegelisahan Bangsa: Pakar sosiologi dan politik menilai bahwa rentetan demonstrasi ini merupakan sinyal nyata dari kegelisahan publik yang tersumbat, sehingga masyarakat memilih turun ke jalan agar suara mereka didengar langsung.
- Bukti Demokrasi Berjalan: Di sisi lain, sejumlah pejabat daerah menilai maraknya unjuk rasa adalah bukti bahwa kebebasan berpendapat dan demokrasi di Indonesia masih hidup dan berjalan dengan baik, selama aksi tersebut dilakukan secara kondusif dan tidak merusak fasilitas umum.
-
Marak demo di daerah juga berakar dari pemusatan anggaran
9 Sep 2025 — Cita-cita desentralisasi makin


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *