- 22 June 2026
- 5 min read
INDOWORK.ID, JAKARTA: Sejak 1992, paspor saya sudah dipenuhi cap imigrasi Eropa. Tiga dekade lebih saya berkelana. Kini, ketika Piala Dunia 2026 menyalakan stadion dari Meksiko sampai Kanada, momentum itu terasa utuh. Bendera negara-negara yang dulu saya singgahi kini berkibar lagi di layar kaca. Setiap peluit babak pertama bukan hanya tanda laga dimulai, tapi undangan untuk bernostalgia.
Belanda: Rumah Pertama di Negeri Kincir Angin
Grup F: Belanda, Jepang, Swedia, Tunisia.
Pada 1992. Itu kali pertama saya menginjakkan kaki di Eropa. Pesawat mendarat di Schiphol, Amsterdam. Yang menyambut bukan karpet merah, tapi angin dingin yang membawa aroma tulip, kopi, dan kebebasan. Belanda bukan sekadar negara pertama. Dia rumah pertama.
Saya kembali 2004. Kali ini tanpa agenda selain jalan-jalan. Menyusuri kanal yang memantulkan langit, berhenti di kafe kecil, dan belajar bahwa hidup bisa berjalan pelan tanpa kehilangan arah. 2013, saya menetap lebih lama. Kali ini dengan catatan liputan di tangan.
Di negeri kincir angin ini saya paham: disiplin bisa berpadu dengan toleransi, keteraturan bisa hidup berdampingan dengan kreativitas.
Keunggulan Belanda di lapangan lahir dari filosofi yang sama: Total Football. Konsep Johan Cruyff yang membuat semua pemain bisa menyerang dan bertahan. Cair, cair, cair. Sepakbola mereka cerdas, mengalir seperti air kanal Amsterdam. Itulah sebabnya, meski hati saya untuk Jepang sebagai spirit Asia, logika dan kenangan saya tetap condong ke Oranje. Belanda mengajarkan bahwa keterbatasan lahan bisa melahirkan inovasi tiada henti. Mereka merebut tanah dari laut, lalu menjadikannya panggung dunia.
Jepang: Gambaru di Tengah Raksasa
Grup F: Belanda, Jepang, Swedia, Tunisia.
Saya dukung Jepang. Titik. Bukan hanya karena pernah ke sana, tapi karena Jepang mengajarkan arti gambaru: berjuang sampai tetes terakhir. Di Piala Dunia, Jepang selalu jadi tim paling disiplin. Larinya tanpa bola, operan satu-dua sentuhan, dan etika yang membuat ruang ganti mereka rapi bahkan setelah kalah 0-3.
Keunggulan Samurai Biru adalah kecepatan, kerja kolektif, dan kejutan. Mereka tim Asia yang paling berani menampar raksasa Eropa dan Amerika Latin. Jepang membuktikan ukuran fisik bisa dikalahkan oleh ukuran hati dan organisasi. Bagi saya, mendukung Jepang adalah mendukung asa: bahwa Asia bisa bicara setara di panggung tertinggi.
Prancis: Romantika, Seni, dan Magi Les Bleus
Prancis saya datangi untuk urusan hati dan ilmu. Sorbonne University tempat saya duduk, meresap sejarah yang ditulis tinta dan darah. Menara Eiffel yang membuat kita percaya bahwa kota bisa jatuh cinta duluan pada manusia yang menatapnya.
Tapi puncak nostalgia ada di Musée du Louvre. Museum seni terbesar dan paling banyak dikunjungi di dunia. Ikonnya piramida kaca karya I.M. Pei yang membelah Cour Napoléon. Di dalamnya, Mona Lisa menyimpan seribu tafsir di balik senyumnya. Venus de Milo kehilangan lengan tapi tak kehilangan keanggunan. Winged Victory of Samothrace seakan masih mengepak di atas tangga, membawa kemenangan abadi.
Di lapangan, Prancis = Les Bleus. Keunggulannya: kedalaman skuad, kecepatan, dan magi individu. Dari Zidane ke Mbappé, Prancis selalu punya pemain yang bisa mengubah satu detik jadi sejarah. Sepakbola mereka elegan tapi mematikan. Sama seperti Paris: romantis di permukaan, tajam di baliknya. Prancis mengajarkan bahwa seni dan kekuatan bisa hidup dalam satu napas.
Jerman: Mesin yang Tak Pernah Mati
Pada 2004 saya ke Jerman dan belajar satu hal sederhana: ketepatan waktu bukan sekadar budaya, tapi bentuk penghormatan. Die Mannschaft membawa filosofi yang sama ke lapangan. Keunggulan Jerman sudah jadi merek dunia: fisik prima, disiplin taktis, dan mental juara. Mereka tim yang paling sulit mati. Ketinggalan 2 gol di menit 80? Jerman tetap percaya 90 menit belum selesai. Itu cerminan bangsa: kerja keras, kerja sistem, kerja tuntas. Di luar sepakbola, Jerman adalah tentang rekayasa, musik klasik Beethoven, dan keberanian berdamai dengan sejarah kelam. Negeri yang mengubah luka jadi pelajaran, lalu pelajaran itu jadi kekuatan.
Belgia: Rasa Besar dari Negara Kecil
Saya dua kali ke Belgia. Pada 2004 untuk wisata, 2013 kembali untuk meliput pameran seafood. Dua kali, dua kesan: Belgia itu detail.
Negara kecil, tapi rasanya besar. Cokelatnya paling halus di dunia. Wafelnya renyah dengan gula karamel yang meleleh. Birnya punya karakter tiap kota, tiap biara. “God save the details” – itu Belgia.
Di sepakbola, Red Devils era 2014-2022 adalah Golden Generation: De Bruyne, Hazard, Lukaku. Keunggulan mereka: teknik tinggi dan visi permainan. Pemain Belgia seperti pelukis. Operannya bukan sekadar operan, tapi umpan yang punya niat dan arah. Belgia mengajarkan bahwa ukuran negara tidak menentukan ukuran mimpi. Yang kecil bisa mengguncang dunia jika punya rasa.
Swiss: Netral, Tapi Tajam di Detik Terakhir
Swiss mungkin bukan negara yang saya kunjungi paling lama, tapi jejaknya kuat. Satu yang tak terlupakan, kaca mata saya hilang. Negeri jam, cokelat, dan pegunungan Alpen yang diam tapi kokoh.
Keunggulan Swiss di lapangan adalah disiplin, organisasi, dan sikap tak pernah menyerah. Mereka tim “penjegal raksasa”. Swiss tidak banyak bicara sebelum laga, tapi ketika peluit dibunyikan, lawan harus ekstra waspada. Sama seperti jam Swiss: diam, presisi, dan mematikan di detik terakhir. Netral dalam politik, tapi tajam dalam kompetisi.
13 Tahun dan Sorakan yang Sama
Sudah lebih dari 13 tahun saya tak menginjakkan kaki di Eropa. Tapi Piala Dunia 2026 mengembalikan semuanya. Lewat layar kaca, saya kembali berjalan di kanal Amsterdam, menatap Eiffel saat lampu-lampunya berkelip, mencicip wafel hangat di Brussel, dan mendengar denting jam di Zurich.
Sepakbola memang begitu. Dia bukan hanya 22 orang mengejar bola. Dia peta kenangan. Setiap negara peserta membawa keunggulan yang lahir dari tanah, sejarah, dan karakter bangsanya. Belanda dengan cairnya, Jepang dengan semangatnya, Prancis dengan seninya, Jerman dengan mesinnya, Belgia dengan rasanya, Swiss dengan presisinya.Kali ini saya bernostalgia bukan dengan koper dan tiket, tapi dengan sorakan di ruang tamu. Dan ternyata, itu sama menggetarkannya. Karena perjalanan sejati tidak selalu butuh kaki. Kadang, cukup hati yang mau mengingat.
Jakarta, 22 Juni 2026.


Leave a reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *