DARI GOJEK HINGGA TOKOPEDIA
Boleh jadi pengguna jasa Gojek yang berjumlah 38 juta akan serta merta menjadi nasabah ARTO, lalu ditambah dengan pengguna jasa Tokopedia, sehingga nasabah ARTO akan jauh melampaui jumlah nasabah bank manapun di Indonesia. Boleh jadi tiap nasabah akan mengendapkan saldonya di ARTO dalam rata rata tidak kurang dari US$700. Boleh jadi pelanggan Gojek dan Tokopedia sebagian besar akan menjadi debitur ARTO, tanpa macet. Boleh jadi kumulatif kerugian selama empat tahun terakhir, akan segera ditutup dengan keuntungan seketika, begitu ARTO berkawin dengan Gojek.
Masih banyak boleh jadi yang lain. "Saya lebih memilih yang konvensional konvensional saja. Ilmu saya baru mampu mendekati tingkat itu. Untuk mulai dengan transparansi, saya perlu mendisclose bahwa 50 % nilai portfolio saya ditempati oleh saham TLKM. Mungkin ada kaitannya juga dengan gegap gempita ARTO. Karena TLKM punya andil di Gojek. Dan Gojek punya penyertaan di LINKAJA. Siapa tahu TLKM ikut kecipratan berkah ARTO," kata Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta 1992-1996 tersebut.
Memilih TLKM membuktikan bahwa analisisnya masih sangat konvensional. "Ilmu saya baru sampai ke tingkat itu," katanya merendah.
Dalam imajinasi Hasan, TLKM itu punya beberapa keunggulan.
Pertama, berada di industri yang strategis dan punya posisi leading dalam industri itu.
Kedua, memiliki jaringan dan infrastruktur yang tidak akan terkejar oleh peers. Kecuali TLKM jalan di tempat.
Ketiga, memiliki barisan "cash cow" yang lengkap dan subur kalau dikelola dengan apik. Ada Telkomsel, Indihome, Mitratel, MDI Ventures, Link Aja dst. Keempat, struktur yang gendut, lamban dan tidak efisien, nampaknya sedang dibenahi dengan serius.
"Boleh jadi ARTO ditakdirkan menjadi distributor harta karun jaman modern. Saya nonton saja di pinggiran. Sambil berceloteh sebagai penonton yang terpesona!" kata investor yang bermukim di Jogjakarta itu.