Oase

Nukilan Tarikh Hasan Zein Mahmud: Amirul Mukminin



single-image

INDOWORK.ID, JAKARTA: Malam kelam pekat. Angin menderu. Udara mengiris kulit. Tetapi lelaki itu menyibakkan selimutnya, memasang kerudung dan keluar rumah. Di bawah udara malam yang menggigit dan menggigilkan, ia telusuri kota, ia tembus lorong lorong temaram.

Ia seorang kepala negara. Seorang khalifah. Seorang Amirul Mukminin. Namun dalam kesendirian yang senyap, ia ingin memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan tanpa santunan. Tidak ada rakyatnya yang sakit tanpa pertolongan. Tidak ada musafir lewat yang tak mendapat tempat berteduh

Konon, dalam rentetan pengembaraan malamnya, lelaki itu pernah menyelamatkan seekor keledai yang tergelincir di bibir sungai, menemukan seorang ibu yang merebus batu untuk menghibur anak anaknya yang kelaparan, mendengar rintihan seorang janda yang ditinggal syahid suaminya, mendengar seorang gadis yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susu dengan air sebelum dijual

Lelaki yang gagah perkasa, yang membuat musuhnya gemetar ketakutan, yang tak gentar menghadapi ujung pedang, tak berkedip menyongsong maut itu, ternyata seorang pemimpin yang berhati teramat lembut. “Bila rakyatku dalam keadaan kenyang, biarlah aku menjadi orang terkahir yang merasakan rasa kenyang, bila rakyatku kelaparan, biarlah aku menjadi orang pertama yang merasakan betapa perihnya rasa lapar…

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Berita Lainnya