INDOWORK.ID, JAKARTA: Malam kelam pekat. Angin menderu. Udara mengiris kulit. Tetapi lelaki itu menyibakkan selimutnya, memasang kerudung dan keluar rumah. Di bawah udara malam yang menggigit dan menggigilkan, ia telusuri kota, ia tembus lorong lorong temaram.
Ia seorang kepala negara. Seorang khalifah. Seorang Amirul Mukminin. Namun dalam kesendirian yang senyap, ia ingin memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan tanpa santunan. Tidak ada rakyatnya yang sakit tanpa pertolongan. Tidak ada musafir lewat yang tak mendapat tempat berteduh
Konon, dalam rentetan pengembaraan malamnya, lelaki itu pernah menyelamatkan seekor keledai yang tergelincir di bibir sungai, menemukan seorang ibu yang merebus batu untuk menghibur anak anaknya yang kelaparan, mendengar rintihan seorang janda yang ditinggal syahid suaminya, mendengar seorang gadis yang menolak permintaan ibunya untuk mencampur susu dengan air sebelum dijual
Lelaki yang gagah perkasa, yang membuat musuhnya gemetar ketakutan, yang tak gentar menghadapi ujung pedang, tak berkedip menyongsong maut itu, ternyata seorang pemimpin yang berhati teramat lembut. "Bila rakyatku dalam keadaan kenyang, biarlah aku menjadi orang terkahir yang merasakan rasa kenyang, bila rakyatku kelaparan, biarlah aku menjadi orang pertama yang merasakan betapa perihnya rasa lapar...
 
 
 
- Sun, May 2026
Nukilan Tarikh Hasan Zein Mahmud: Amirul Mukminin
13 Sep, 2020
5 mins read
68,201 views
Related posts
Follow us
Categories
- Infrastruktur (301)
- Bisnis (299)
- Jalan (293)
- lainnya (288)
- Figur (286)
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy
These cookies are essential for the website to function properly.
These cookies help us understand how visitors interact with the website.
These cookies are used to deliver personalized advertisements.