Prof. Komarudin, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat HISPISI sangat mengapresiasi atas terselenggaranya ICHELSS. Ia mengatakan kolaborasi antar akademisi pendidikan ilmu sosial dalam konteks nasional, regional, dan dunia menjadi sebuah keniscayaan, terlebih dalam era disrupsi pendidikan yang kompleks, kompetitif, dan liquid.
“Tantangan terbesar era disrupsi pendidikan adalah pemaknaan atas ilmu, pengamalan, dan indigenisasi. Kita perlu melakukan refleksi dan merumuskan kembali subjek matter ilmu pengetahuan dan paradigma pendidikan ilmu-ilmu sosial yang keindonesiaan sebagai bangunan penting pendidikan kita” jelas Komarudin.
Komarudin berharap seminar internasional HISPISI ini dapat menjadi upaya awal meningkatkan peran serta ilmuan pendidikan sosial Indonesia di dunia Internasional dalam pengembangan ilmu-ilmu sosial yang hybrid dan inovatif, tanpa kehilangan konteksi keindonesiaan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh enam narasumber, Prof. James A. Banks dengan materi Global Migration, Failed Citizenship, and Transformative Civic Education, Prof. Yinghuei Chen dengan materinya Humanities in the Age of the “New Normal, – for a World in Flux, Associate Prof. Bulent Tarman dengan materi The Challenges and Future of Citizenship and Education amid of the uncertainty beyond Pandemic, Associate Prof. Zulhamri Abdullah dengan materi The Importance of Corporate Reputation : In a Time of Global Change, dan Prof. Zakyudin Baidhawi.
Setelah seminar ini, ICHELSS dilanjutkan dengan acara Kongres HISPISI pada sesi kedua malam hari dimulai pukul 18:30, yang akan melaksanakan sidang pleno yang terbagi dalam 13 bidang pembahasan.