• Sun, May 2026

HK E-Index Sebagai Tolak Ukur Pembangunan Nasional

HK E-Index Sebagai Tolak Ukur Pembangunan Nasional

INDOWORK.ID, JAKARTA: Setelah sukses menggelar Forum HK Expert Talk yang pertama pada 25 Maret 2021 lalu, PT Hutama Karya (Persero) baru saja meluncurkan dan kini tengah gencar memperkenalkan inovasi terbarunya yaitu sebuah metode penghitungan dengan alat ukur HK Electricity Index (HK e-Index). Dalam diskusi dan dialog inspiratif yang diadakan HK Expert Talk. Sebuah paparan singkat dari Direktur Operasi I Hutama Karya, Novias Nurendra, menarik perhatian para audiens. Selama ini Hutama Karya dikenal sebagai perusahaan konstruksi dan infrastruktur, di mana saat ini salah satu fokusnya adalah menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Namun, tidak banyak yang tahu bahwa dalam beberapa tahun terakhir Hutama Karya juga tengah serius menggarap proyek pembangunan infrastruktur lainnya yang mendukung pembangunan jalan tol. Salah satunya yang dianggap krusial adalah pembangunan infrastruktur dan teknologi pembangkit tenaga listrik. Hutama Karya sendiri terlibat dalam pembangunan proyek-proyek EPC besar dan penting di Indonesia. Antara lain proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Grati di Pasuruan, PLTGU Tambak Lorok di Semarang, PLTGU Muara Tawar di Bekasi, dan proyek Ultra Super-Critical (USC) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terbesar di Indonesia bahkan salah satu yang terbesar di dunia, yang berlokasi di Suralaya, Banten. “Dalam mengerjakan proyek-proyek pembangkit listrik besar, Hutama Karya juga memiliki unit riset, yaitu HK Center for Knowledge, Research and Innovation (HK Connection). Maka dari itu, tidak hanya mengerjakan proyek, kami juga menghasilkan beberapa hasil studi dan pemikiran untuk memperkuat elektrifikasi Indonesia. Salah satu inovasi yang kami hasilkan berupa alat ukur index kapasitas pembangkit listrik, yaitu HK e-Index,” tutur Novias Nurendra, Direktur Operasi I Hutama Karya dalam keterangan resmi. TEKNOLOGI ENERGI DAN INFRASTRUKTUR Merujuk pada hasil studi banding ke negara-negara maju dan berkembang lainnya, setidaknya saat ini terdapat 3 aspek penting secara umum yang harus diperhatikan untuk mencukupi kebutuhan energi nasional Availibility-Reliability-Affordability. Selain diperlukan lebih banyak pembangkit listrik bertenaga besar untuk mengakomodir kebutuhan listrik nasional, dibutuhkan pula teknologi transmisi untuk mencukupi konsumsi listrik di negara kepulauan seperti Indonesia. Konektivitas yang dihasilkan jalan tol didukung dengan pembangkit listrik yang memadai akan dapat meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian di berbagai daerah di Indonesia, yang diharapkan pastinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Di sinilah Hutama Karya ingin berkontribusi membangun Indonesia Power Super Highway atau jalan tol listrik yang akan mempercepat konektivitas yang diharapkan. Saat ini, rasio elektronifikasi nasional di Indonesia sudah mencapai 99,2%, dan ditargetkan dapat mencapai 99,9% di akhir tahun 2021. Namun nyatanya, tingkat rasio ini tidak menjamin kesejahteraan ekonomi karena rasio elektronifikasi 100% bukan berarti telah meratanya pasokan listrik di tanah air. Lebih jauh Novias menambahkan,“Jika Indonesia ingin meningkatkan taraf kesejahteraan, di mana Indonesia juga sudah diprediksi akan menjadi 4 negara besar di tahun 2045, maka yang harus kita kejar adalah keterjangkauan dan ketersediaan pembangkit listrik di negeri kita,” tutur Novias Nurendra. Lantas, muncul pertanyaan selanjutnya yaitu seberapa banyak dan seberapa besar pembangkit listrik yang dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia? HK e-Index dapat menjadi solusi dari tantangan tersebut dengan menjadi alternatif pengukuran target jumlah pembangkit yang masih perlu dibangun di Indonesia dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy