Bisnis Headline Humaniora

Awal Mula WIKA Berbisnis Beton (3)



single-image

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Sebelum membaca artikel ini, terlebih dahulu baca bagian sebelumnya di sini Awal Mula WIKA Berbisnis Beton (2)

Sepulang dari pertemuan di Riam Kanan, WIKA yang begitu yakin dengan prospek bisnis beton terus mengembangkan teknologinya. Pada 1976, ketika WIKA pindah dari kantor di Hayam Wuruk ke Kavling DI Pajaitan, di bawah pimpinan Wagian, teknologi beton terus diuji cobakan oleh dua orang bernama Fuad Hasan dan Wisnu Wardoyo.

Waktu itu belum jelas produk beton ini berada di dalam divisi apa, yang dipikirkan hanyalah terus melakuka percobaan sampai bisa membuat beton yang berkualitas.

Pada 1978, WIKA sudah mampu memproduksi panel gedung untuk rumah susun sederhana. Produk itu dinamakan open frame system. Beberapa proyek yang dibuat dengan sistem ini yaitu Perumnas di Pasar Jumat, rumah susun di Tanah Abang dan Klender, Palembang, dan beberapa daerah lain.

Yoyon Mulyana yang saat itu bertugas di Divisi Engineering mengawali semuanya dari merancang, mengikuti tender, sampai mempersiap teknologi untuk menjalankan sistem tersebut.

Delapan tahun setelah tiang beton diperkenalkan kepada PLN. Pada 1979, WIKA telah mampu membuat tiang listrik beton, walaupun saat itu berbentuk gepeng berbentuk H. Pesanan dari PLN masih terhitung sedikit.

Namun, tiang listrik berbentu H ini memiliki kelemahan, meski biaya produksinya murah, tapi banyak terjadi kendala pada transportasinya. Jika tiang H ini ditarik ke arah sumbu Y hanya bertahan sampai 40%-nya.

Karena itulah pemancangan tiang H harus dilakuka dengan sangat hati-hati. Salah tarik bisa mengakibatkan tiang-tiang patah beruntuh seperti kartu domino. Dari sanalah dirancang tiag listrik bulat.

Berbeda dengan tiang H, tiang bulat lebih kuat jika ditarik ke segala arah. Keunggulan lain dari tiang bulat ini sistem pabrikasinya dapat dibuat dengan mesin. Keunggulan inilah yang mendorong L Soedarto memilih untuk mengembangkan lebih dalam tiang bulat ini.

Frans S. Sunito masuk ke WIKA pada saat yang tepat pada 1977. Saat di mana WIKA sedang gencar-gencarnya mengembangkan beton. Dia dipercaya oleh L Soedarto untuk memperdalam aspek teknolgi pengembangan tiang bulat ini.

Frans adalah lulusan Jurusan Teknik Sipil ITB, kemudian melanjutkan studi keteknikannya di Belanda. “Saya ke Belanda hanya untuk menguji keilmuan saya apakah yang dipelajari di Bandung (ITB) itu benar, eh ternyata benar…” katanya.

Frans sangat bersemangat dalam penugasan itu. Dia kembali mempersiapkan teknologi beton bulat dengan melakukan banyak penelitian. Frans melakukan banyak pengamatan di berbagai negara untuk melihat sistem produksi pembuatan tiang beton yang paling cocok dikembangkan oleh WIKA, mulai dari Inggris, Jerman, Italia, dan Jepang adalah beberapa negara yang sempat dikunjunginya.

Dari berbagai kunjungan itu, Frans menyimpulkan bahwa teknologi Jerman tampaknya paling menarik untuk diadopsi. Selain inovatif, perusahaan Jerman yang diajak bekerja sama sangat kuat dari segi desain. Sedangkan pengerjaanya bisa dikerjasamakan dengan perusahaan asal Italia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Berita Lainnya