Bisnis Headline

Sang Naga Terengah: Cina Kunci Target 2025, Namun Badai Belum Berlalu

INDOWORK.ID, BEIJING: Di atas kertas, Cina baru saja memenangkan pertaruhan besar. Saat tirai 2025 ditutup, ekonomi terbesar kedua di dunia ini berhasil menyentuh garis finis, memenuhi target pertumbuhan yang ditetapkan Beijing setahun lalu. Sebuah pencapaian yang, dalam situasi normal, akan disambut dengan kembang api dan optimisme pasar.

Namun, di lantai bursa Shanghai hingga ruang rapat di Wall Street, tidak ada sorak-sorai kemenangan. Yang terasa justru kecemasan yang menggantung tebal.

Angka tahunan mungkin terlihat aman, tetapi cerita sebenarnya tersembunyi di tiga bulan terakhir tahun 2025. Kuartal keempat (Q4) bukanlah sebuah lari sprint menuju garis finis, melainkan langkah tertatih-tatih. Data menunjukkan mesin ekonomi Cina mendingin lebih cepat dari perkiraan, memberikan sinyal bahwa “bahan bakar” stimulus pemerintah mulai habis efektivitasnya.

KEMENANGAN SEMU

Keberhasilan mencapai target 2025 sebagian besar didorong oleh lonjakan ekspor manufaktur di awal tahun dan belanja infrastruktur negara. Namun, fondasi ini rapuh.

“Kita melihat ekonomi yang ‘berjalan dengan satu kaki’,” ujar seorang analis makroekonomi di Singapura. “Sektor manufaktur berproduksi maksimal, tapi konsumsi domestik Cina masih tidur nyenyak. Anda tidak bisa terus-menerus menjual barang ke dunia jika dunia mulai menutup pintu.”

Dan itulah tepatnya yang terjadi di Q4. Ketika permintaan global melunak dan tarif perdagangan baru mulai membayangi, angka ekspor Cina tertekan. Tanpa penopang konsumsi dalam negeri yang kuat, perlambatan tak terhindarkan.

AWAN GELAP

Istilah “prospek gelap” bukan sekadar hiperbola. Memasuki 2026, Cina menghadapi kombinasi tantangan yang oleh para ekonom disebut sebagai perfect storm:

Hantu Properti: Sektor properti, yang dulunya menyumbang seperempat ekonomi Cina, masih menjadi beban utang raksasa yang belum tuntas dibereskan.

Perang Tarif: Dengan ketegangan geopolitik yang memanas, akses Cina ke pasar Barat semakin sempit. Strategi “ekspor jalan keluar dari masalah” tidak lagi bisa diandalkan.

Krisis Kepercayaan: Warga kelas menengah Cina, yang kekayaannya tergerus jatuhnya harga rumah, memilih menabung daripada berbelanja.

Pemerintah Cina telah menjanjikan lebih banyak stimulus. Namun, pertanyaan besarnya bukan lagi “berapa banyak uang yang akan digelontorkan?”, melainkan “apakah uang itu bisa mengubah struktur ekonomi yang mulai retak?”

Cina telah membuktikan ketangguhannya di 2025. Namun, 2026 menjanjikan jalan yang jauh lebih terjal, di mana sekadar mencapai target angka mungkin tidak lagi cukup untuk menyelamatkan kemakmuran rakyatnya.

 



Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *