Oase

3 Anak Betawi Senior Nostalgia Tentang Persija: Seru Banget!



single-image
Stadion Menteng Tinggal Kenangan

INDOWORK.ID, JAKARTA: Ahad, 3 Agustus 2020, hari ketiga Lebaran Haji 1443 H, Nadi Entong, 87, Rusdi Saleh,  79, dan Ridwan Saidi, 78, bernostalgia tentang klub sepak bola kebangga mereka sejak remaja hingga kini. Nadi anak Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sedangkan Rusdi anak Menteng dan Ridwan anak Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Perbicangan soal Persija dilakukan secara terpisah. Sambil berjemur di Setu Manggabolong, Srengsengsawah, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Juli 2020, Nadi bercerita bahwa pada 1950-an Persija memiliki stadion di Menteng, Jakarta Pusat.

Persija saat ini berlaga di Liga 1 yang  merupakan salah satu klub sepakbola paling sukses di sejarah sepakbola Indonesia dengan torehan dua kali juara liga domestik dan 9 kali juara turnamen perserikatan hingga sejauh ini.

Seperti juga anak Betawi lainnya, Rusdi merupakan penggemar berat Persija Jakarta. Ia lancar belaka bercerita tentang kesebelasan kebanggan orang Betawi.

Persija berdiri pada 28 November 1928, klub yang awalnya bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra) menjadi bertemunya pemain-pemain berbakat dari penjuru Jakarta dan Indonesia.

Rusdi, ia sangat terkesan dengan Vander Feen (penjaga gawang), Kiat Sek (back), Tang Liong Ho (gelandang), penyerang tengah Djamiat Dahlar dan kirinya luar Wimpie. Sedangkan wasit yang terkenal bersama Sarim.

Markas Persija di Menteng dikenal sebagai Voetbalbond Indische Omstreken Sport—dikenal pula dengan sebutan VIOS atau Viosveld. Stadion yang dibangun pada 1921, ini awalnya untuk orang-orang Eropa.

Di era VIJ bond yang jadi salah satu penggagas berdirinya PSSI itu pernah diperkuat oleh Soemo dan Abidin. Kedua nama itu menjadi pemain yang mahsyur pada eranya. Lanjut di era 1950-an, Persija banyak diisi pemain dengan teknik tinggi buah hasil bergabungnya klub-klub anggota VBO ke Persija.

Lain lagi dengan era 1960-an, di mana Tim Macan Kemayoran memetik gelar juara dengan tenaga-tenaga anak muda. Kala itu, kompetisi internal Persija bisa dibilang menjadi kompetisi amatir terbaik dengan banyak menghasilkan pemain-pemain legendaris. Soetjipto Soentoro salah satunya.

Era emas pada 1970-an, nama Persija seakan sudah menjadi jaminan mutu. Bukan hanya karena sebagai salah satu klub elite yang merajai kompetisi elite Perserikatan Tanah Air, tetapi juga sebagai pemasok pemain Timnas Indonesia terbanyak pada era itu.

Sebagai tim besar yang lahir di Ibu Kota, Persija sudah pasti menjadi barometer pemain-pemain sepak bola yang ada di Indonesia. Di usianya yang sudah mencapai 87 tahun, tentu saja Persija mempunyai pemain legendaris sejak tempo dulu hingga sekarang.

NASIONALISME DALAM SEPAK BOLA

Rusdi Saleh

 

Bagi Rusdi, nasionalisme dan sepak bola tak dapat dipisahkan. Ia bercerita bahwa skuad Persija juga pernah diperkuat oleh Tan Liong Houw yang berdarah Tionghoa dengan nama pribumi, Latief Harris Tanoto. Tan Liong Houw merupakan pemain spesial dalam perjalanan panjang Persija. Tan Liong Houw yang besar di Jakarta merupakan salah satu legenda klub yang dicintai pendukung Tim Macan Kemayoran pada masanya.

Tan Liong Houw muda mengembangkan bakat sepak bolanya melalui klub Chung Hua atau yang sekarang dikenal dengan nama PS Tunas Jaya. Bakat sepak bolanya lahir dari ayahnya yang juga pembesar klub Chung Hua, yakni Tan Chin Hoat.

Akan tetapi, berbeda dengan ayahnya yang piawai sebagai pemain bek kiri, pesepak bola kelahiran lahir di Surabaya, 26 Juli 1930 tersebut, memilih untuk menjadi seorang gelandang. Kemampuannya sebagai pengontrol pertandingan tidak usah diragukan lagi, karena dalam usia yang cukup muda, Tan Liong Houw sanggup menjadi pemimpin tim Persija dan juga Indonesia.

Yang unik, Tan Liong Houw punya ciri khas yang gampang dikenali. Hal itu tampaknya menurun dari sang ayah. Jika Chin Hoat gemar mengalungkan handuk di pundaknya saat bermain, maka Tan Liong Houw pun selalu mengikatkan handuk di tangan kirinya. Dengan begitu, penonton pun mengenali Tan Liong Houw di lapangan dari penampilannya.

Kisah bergabungnya Tan Liong Houw ke Persija bermula saat Chung Hua memutuskan keluar dari perkumpulan Voetballbond Batavia en Omstraken (VBO) dan memilih masuk ke Persija pada tahun 1951.

Bersama dengan UMS dan juga BBSA, Chung Hua menjadi pelopor klub anggota VBO yang menyeberang ke Persija. Hal itu tentubukan keputusan yang mudah, mengingat VBO dan VIJ (nama sebelum Persija) kerap beradu gengsi dalam urusan kompetisi di Tanah Betawi.

Namun, masuknya Chung Hua, UMS dan BBSA menjadi keuntungan tersendiri bagi Persija. Pasokan pemain berkualitas dari kompetisi VBO menjadi senjata utama Persija di kompetisi PSSI setelah era awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Tan Liong Houw muda pun serta merta masuk ke dalam tim Persija melalui klub Chung Hua. Bersama Wim Pie, Tan Liong Houw menjadi wakil klub etnis Tionghoa yang bermarkas di Taman Sari itu di Persija.

Bermodal gaya permainannya yang berani, mampu menjelajah ke setiap area dan bernafas layaknya kuda, Tan Liong Houw pun didapuk menjadi pemimpin Persija di lapangan. Kehadiran Tan Liong Houw sebagai kapten menjadi simbol kemenangan Chung Hua atas rival abadinya, UMS, yang juga banyak memasok pemain untuk Persija.

Dari gaya bermainnya itu, pendukung Persija era itu pun jatuh cinta dengan Tan Liong Houw. Pendukung Persija pun memberikan julukan Macan Betawi atau Macan Jakarta. Julukan yang sangat spesial, karena secara etnis Tan Liong Houw bukanlah orang Betawi.

Tan Liong Houw menyumbangkan gelar juara Perserikatan untuk Persija pada tahun 1954. Saat itu Persija bersua PSMS Medan. Dalam final  yang tergolong keras itu, Tan Liong Houw bermain apik dengan menjadi pengatur permainan Persija.

Selepas lesakan gol dari Van der Berg dan Kwee Hong Sing, Tim Ayam Kinantan walk out menolak melanjutkan pertandingan karena merasa laga berjalan sangat keras dan wasit tidak tegas.

Terlepas dari kontroversi yang mencuat pada partai puncak, Tan Liong Houw berhasil membawa Persija berpesta di Stadion Ikada setelah pada tahun-tahun sebelumnya gagal meraih gelar juara.

HAMPIR KE PIALA DUNIA

Nadi Entong Bersama Cucu

 

Nadi Entong lancar belaka bercerita tentang para pemain Persija yang dikaguminya. Nama Sinyo Aliandoe lebih dikenal publik sepak bola nasional sebagai pelatih sukses yang hampir meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Saat masih jadi pemain, pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940 tersebut amat mahsyur di Persija Jakarta.

Memulai bermain di level senior bersama PS Maesa, yang juga klub anggota Persija, Sinyo muda yang amat berbakat langsung bersinar di pentas kompetisi internal Jakarta.

Sinyo memikat hati pelatih kepala Persija yang saat itu dijabat oleh drg. Endang Witarsa. Selain Sinyo, ada pemain muda lainnya Soetijipto Soentoro yang tampil memesona di kompetisi internal Macan Kemayoran.

Endang Witarsa, yang akrab dipanggil dengan sebutan Pak Dokter, melihat ada hal spesial dari diri Sinyo, yang berposisi sebagai gelandang tengah. Tak hanya memiliki skill bagus, Sinyo punya etos pekerja keras di lapangan. Gaya ini amat disukai sang mentor.

Sinyo yang saat direkrut Persija statusnya sudah pindah ke klub Indonesia Muda, menjadi salah satu pemain andalan Macan Kemayoran di kancah Perserikatan.

Hasilnya, di usia 24 tahun, Sinyo sudah merasakan manisnya gelar juara Perserikatan. Gelar yang istimewa bagi Persija, karena mereka juara tanpa terkalahkan dengan materi pemain-pemain muda berkat tangan emas Endang Witarsa.

Sayangnya karier sebagai pemain Sinyo tak berlangsung lama. Di usia yang masih tergolong muda, Sinyo harus pensiun dini dari lapangan sepak bola. Cedera parah patah kaki membuat Sinyo menghentikan aktivitasnya sebagai pemain pada tahun 1969.

Selain dua nama beken itu, Rusdi juga kagum dengan  Soetjipto Soentoro yang selalu dikenang di dunia sepak bola Indonesia. Soetjipto salah satu striker top pada masanya. Pria yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 Juni 1941 ini besar di daerah Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Perkenalan Gareng (sapaan Soetjipto) dengan sepak bola terjadi saat ia memainkan si kulit bundar di pinggir jalanan Gandaria. Bakatnya alamnya tak sengaja ditemukan oleh klub internal Persija, PS Setia (yang memang bermarkas di daerah Gandaria), saat mereka bertanding melawan klub IPPI Kebayoran di Lapangan Blok A Kebayoran, Jakarta Selatan.

Nadie Entong menjelaskan bahwa Gareng sudah dikenal banyak orang. Terutama publik Stadion Persija di Menteng, yang rajin menonton aksi-aksi Gareng saat bermain bersama PS Setia.

Wuwungan, pelatih Persija pada 1956 melihat bakat besar Gareng langsung menariknya ke tim senior. Tentu saja, hal itu cukup mengejutkan, apalagi beberapa rekan seangkatan Gareang harus melewati seleksi di tim Persija U-18 sebelum melangkah ke tim utama.

Di tim senior Persija kala itu, Gareng sempat bermain dengan kakaknya, yakni Soegito yang juga berasal dari klub PS Setia.

Gareng mungkin masih sangat muda, 16 tahun, saat berkostum Persija, tapi di usianya itu ia langsung dipercaya sebagai pemain yang cukup vita di Macan Kemayoran. Ia bermain bersama pemain-pemain senior Persija yang sebagian menjadi anggota tim juara tahun 1954 seperti R. Parengkuan, Wim Pie, Chris Ong, Giok Po dan juga Tan Liong Houw.

Seiring prestasi Persija yang mulai surut di era 1950-an akhir, pengurus inti Persija mulai berfikir untuk melangsungkan regenerasi. Perlahan-lahan mereka memasukan pemain muda dari U-18 Persija, seperti Kwee Tek Liong atau Nunung.

Setelah Wuwungan lengser dari jabatan pelatih, Tim Macan Kemayoran mulai membangun tim muda di bawah kendali drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe). Di tangan Pak Dokter, Persija kembali menjelma menjadi tim yang ditakuti lawan.

Dokter yang maniak dengan pola 4-2-4 menjadikan Gareng sebagai penyerang bayangan yang bertugas menggedor pertahanan lawan dari lini kedua. Dirinya menjadi andalan dalam urusan menjebol gawang musuh.

Bersama Tahir Yusuf dan Sinyo Aliandoe, Gareng juga sering dirotasi bermain di sektor gelandang. Ketika menyerang, Gareng biasanya berkolaborasi dengan Didik Kasmara dan Dominggus.

Hasilnya, di kompetisi Perserikatan tahun 1964, Persija berhasil keluar sebagai juara tanpa satu pun menderita kekalahan. Gelar tim asal ibu kota itu terasa sangat lengkap karena Gareng jadi pencetak gol terbanyak. Ia menggelontorkan 16 gol selama kompetisi berlangsung.

Namun, tak bertahan lama ia beserta Yudo Hadianto dan Iswadi kembali ke Persija pada Peserikatan edisi tahun 1971. Di tahun itulah, Gareng memutuskan untuk pensiun dari sepak bola. Ia mengakhiri karier sepak bolanya di tim yang membesarkan namanya.

Bakat sepak bola anak-anak Jakarta di era 1960 hingga 1970-an berlimpah ruah. Persija Jakarta tidak pernah kekurangan stok pemain berkualitas hasil cetakan klub-klub internalnya.

DJAMIAT DALHAR ANAK BETAWI

Ridwan Saidi

Ridwan Saidi, Budayawan asal Betawi, kampung-kampung di Jakarta banyak melahirkan pemain sepak bola hebat pada zamannya. Kampung Gandaria, Kebayoran Baru, menelurkan Soetijpto Soentoro. Daerah Tanah Abang menjadi tempat Djamiat Dalhar memulai karier di Persija. Lalu, kawasan Petak Sinkian dan Taman Sari sudah pasti diisi oleh anak-anak berbakat UMS dan Tunas Jaya.

Kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat juga tak mau kalah dengan melahirkan Iswadi Idris untuk Persija. Lahir di Banda Aceh, 18 Maret 1948, Iswadi malah tumbuh besar di Jakarta, tepatnya di Kramat Lima.

Sejak kecil, Iswadi memang menyukai sepak bola. Untuk menyalurkan bakatnya ia bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA) di Lapangan Banteng, Jakarta.

MBFA yang masih klub internal Persija, menjadi wadah Iswadi belajar mengolah bola. Setelah melihat Indonesia Muda (IM) latihan di lapangan kosong di daerah Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Iswadi pun pindah ke klub legendaris. Alasannya sepele karena lokasi latihan lebih dekat dengan rumahnya.

Iswadi secara resmi masuk tim utama Persija pada 1966 setelah tampil mengkilap bersama IM. Karena dasarnya berbakat, tak butuh waktu lama bagi Iswadi untuk bisa menembus posisi inti. Boncel (sapaan Iswadi) juga cepat mentas ke Timnas Indonesia.

Tahun 1973, Iswadi turut mengantarkan Persija menjadi juara kompetisi Perserikatan PSSI. Performanya yang apik saat menjalani tur Australia bersama Persija, membuat klub Australia, Western Suburbs tertarik.

Ia pun berpisah sementara dengan Persija. Karena begitu bekennya nama Iswadi, sebuah laga seremoni perpisahan yang dilangsungkan di Stadion Menteng. Indonesia Muda sebagai klub amatir Iswadi bertanding dengan Persija.

Sepulang dari Australian, Iswadi hijrah ke klub elite anggota Persija yang bermain di pentas Galatama, yakni Jayakarta. Tahun 1975, Iswadi mempersembahkan gelar juara kedelapan buat Macan Kemayoran. Sayangnya Iswadi tak mampu mempertahankan gelar juara untuk Persija di tahun 1977.

Tahun 1978 merupakan tahun terakhir Iswadi membela Persija. Dalam kompetisi PSSI 1978-1979, nama Iswadi sempat dibawa oleh pelatih Marek Janota. Namun sikapnya yang keras dan komunikasi yang buruk dengan sang pelatih, membuat dirinya dicoret dari Tim Kemayoran. Iswadi secara resmi pensiun dari klub yang membesarkannya pada tahun 1980.

The Jakmania, kelompok pendukung Persija, memang belum dikenal ketika Rusdi muda. Namun kecintaannya kepada Macan Kemayoran, seperti gandrungnya para penggemar sepak bola saat ini.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya

what pictures does tinder use is fetlife offline