Jalan

Jasa Marga Sambungkan Konektivitas Antarwilayah



single-image

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pemerintah mencanangkan program Nawacita untuk memajukan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Dalam Nawacita ke-3, prioritasnya adalah pembangunan dari pinggir, konektivitas antardaerah, dan antarwilayah.

Target pemerintah dalam pengembangan Infrastruktur nasional tergambar dalam total akumulasi panjang ruas Tol yang dicanangkan oleh pemerintah telah mencapai 6.115 KM dengan estimasi biaya Rp723 triliun.

Hal itu mendorong Jasa Marga berupaya meningkatkan value perusahaan melalui peningkatan kapasitas dan kapabilitas operasional perusahaan. Pemerintah berkomitmen untuk terus membangun infrasturuktur untuk pemerataan ekonomi, salah satunya dengan menambah ruas Tol.

Jasa Marga telah mengambil peran dengan memiliki total konsesi 33 ruas Tol sepanjang 1.497 km. Jasa Marga memiliki 13 ruas Tol yang diantaranya sudah existing. Tentu saja, Jasa Marga sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) berplat merah, memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan target tersebut. Dengan luasnya jaringan Tol yang dimiliki, Jasa Marga tidak lagi dapat menjalankan bisnis dengan cara-cara yang biasa. Jasa Marga perlu melakukan transformasi bisnis.

Isu utama yang menjadi agenda adalah reorganize for growth, tidak cukup hanya sekedar mengubah strategi dalam merespon situasi, tapi bagaimana mentransformasikan business model dan business process Jasa Marga dengan pengembangan usaha lainnya yang telah berjalan selama 40 tahun.

Di sisi lain untuk bertumbuh, Jasa Marga lagi tidak bisa mengandalkan pertumbuhan organik dari bisnis jalan Tol. Karena tidak cukup memberikan hasil yang signifikan. Jika Jasa Marga hanya mengandalkan pertumbuhan organik, hanya ada peluang pada kenaikan tarif dan pertambahan jumlah pengguna jalan Tol.

Pada kenaikan tarif akan sangat bergantung pada kebijakan dan akan dievaluasi selama dua tahun sekali mengikuti laju inflasi. Sedangkan pertambahan jumlah pengguna jalan Tol hanya akan mengakibatkan kepadatan, konsekuensinya tetap kontraproduktif.

Lalu bagaimana cara Jasa Marga memulai pengembangan bisnisnya? Sebenarnya, dengan kompetensi yang dimiliki selama menjalankan usaha jalan Tol dalam waktu yang cukup panjang, Jasa Marga telah memiliki kemampuan untuk layanan jasa yang dapat menghasilkan uang menjadi pengembangan usaha baru. Misalnya, beberapa business process di bidang operasi seperti pengoperasian dan pemeliharaan jalan Tol yang bisa dikembangkan menjadi bisnis baru.

Transformasi Bisnis

Jasa Marga juga memiliki anak-anak usaha yang masih bisa dikembangkan untuk menopang atau turunan bisnis utamanya Untuk lebih jelasnya, transformasi bisnis Jasa Marga telah berhasil menghasilkan pengembangan usaha baru.

Pertama, PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO). Perusahaan ini berdiri tahun 2015 dengan nama PT Jasa Layanan Operasi. Usaha ini bergerak dalam bidang jasa layanan operasi jalan Tol baik layanan transaksi maupun layanan lalu lintas jalan Tol. Kedua bisnis tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan bisnis jalan Tol untuk penyediaan dan pengembangan jasa layanan operasional untuk meningkatkan efisiensi.

JMTO memiliki tujuan strategis dalam pengembangan bisnis Jasa Marga, yaitu mengintegrasikan biaya investasi dan operasi jalan Tol baru, serta menciptakan nilai tambah secara holistik bagi kepentingan Jasa Marga, industri jalan Tol, dan pemerintah. Ruang lingkup bisnis layanan transaksi dari JMTO yaitu pengendalian pengumpulan Tol, pengadaan dan pemeliharaan peralatan Tol, pengadaan dan pemeliharaan perlengkapan pengumpulan Tol, pelatihan, sewa kendaraan shuttle, sewa kendaraan operasional, bbm kendaraan, logistik, dan consumable.

Sedangkan dari sisi ruang lingkup bisnis layanan lalu lintas, JMTO adalah pengadaan dan pemeliharaan traffic information centre, pengaturan lalu lintas, pengadaan satuan pengamanan, penyuluhan, sewa kendaraan patrol, pengadaan derek, pengadaan rescue, pengadaan ambulance, pengadaan dan pemeliharaan CCTV, pengadaan dan pemeliharaan VMS, pengadaan dan pemeliharaan radio komunikasi, BBM kendaraan dan alat bantu kerja. JMTO berperan dalam menggerakkan roda operasional jalan Tol.

Kompetensi di bidang pengoperasian jalan Tol serta perkembangan lalu lintas yang sesemakin tinggi diharapkan dapat didukung dengan hadirnya petugas-petugas yang mumpuni di bidangnya, mulai dari petugas pengumpul Tol, petugas jasa layanan jalan Tol dan petugas operasional lainnya.

Kembangkan Bisnis

Baru-baru ini Jasa Marga memenangkan tender untuk pengoperasian jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Usaha ini memang diharapkan dapat mengembangkan sayap bisnisnya dengan masuk ke lingkaran bisnis operasional jalan Tol, baik yang dikelola oleh anak perusahaan Jasa Marga, maupun di bawah pengelolaan BUJT lainnya. Dengan fokus pemerintah di pertumbuhan infrastruktur, bisnis jalan Tol masih akan terus berkembang pesat menjangkau seluruh provinsi di Indonesia.

Selain itu, JMTO juga terus melakukan upaya value creation untuk menciptakan nilai tambah dengan beralih dari human-based menuju technology-based yang bergerak dalam bidang sistem transaksi elektronik, peralatan Tol, sistem informasi dan komunikasi serta juga akan mengembangkan project layanan traffic information center pada tiap region jalan Tol, agar pelayanan JMTO semakin prima dan semakin terpercaya.

Kedua, PT Jasamarga Tollroad Maintenance (JMTM). Bisnis ini berdiri pada 1988, dengan nama PT Jasa Layanan Pemeliharaan (JLP), sebelumnya PT Sarana Marga Utama, diakuisisi sejak tahun 2010. Usaha ini bergerak dalam bidang jasa konstruksi, perdagangan dan persewaan kendaraan.

Layanan jasa meliputi pemeliharaan jalan, sedangkan ruang lingkup pekerjaannya meliputi pekerjaan landscape (penghijauan dan penataan pohon) pembersihan, pengecatan struktur (railing dan parapet), perbaikan 100 Unboxing inovasi Bisnis BUMN dan penggantian sarana pelengkap jalan Tol (guardrail, rambu, marka jalan, concrete berrier), perapihan dan perbaikan gerbang Tol, mempercantik area sekitar gerbang Tol.

Presentase pekerjaan JMTM meliputi 90% pekerjaan sipil (konstruksi dan pemeliharaan) dan 10% usaha pendukung lainnya (peralatan Tol, asphalt mixing plant dan sewa kendaraan). Bisnis ini merupakan usaha jasa perawatan jalan Tol yang pertama kali di Indonesia, bukan hanya berpeluang untuk pasar BUJT lain, bahkan untuk jalan biasa pun sangat berpeluang bekerja sama dengan pemerintah. Perawatan jalan merupakan kebutuhan yang rutin dilakukan secara berkala.

Properti dan Related Business

Ketiga, PT Jasamarga Properti (JMP). Perusahaan yang berdiri tahun 2013 ini bergerak di bidang properti yang jenis usahanya meliputi land development, hunian eksklusif, waterpark, hotel dan area komersil.

JMP juga bergerak dalam bidang pembangunan dan perdagangan properti, serta juga melakukan land banking dan akuisisi properti pada kawasan di sekitar koridor jalan Tol. Nilai tambah yang dihasilkan meliputi apresiasi nilai tanah dan properti seiring dengan pengembangan bisnis jalan Tol Jasa Marga.

Keempat, dalam proses pembangunan Jasa Marga Related Business (JMRB) merupakan pengembangan usaha baru yang tadinya digabungkan dengan usaha di bidang properti. Saat ini Jasa Marga memisahkan usaha di tempat istirahat ini dengan bisnis properti.

Jadi Usaha ini melayani bisnis di tempat istirahat, penyewaan dan pelayanan. Ruang lingkup usaha meliputi pemanfaatan daerah Ruang Milik Jalan Tol (Rumija), seperti untuk utilitas yaitu pemasangan jaringan fiber optic dan pipa, SPBU, sewa lahan dan iklan.

Transformasi bisnis Jasa Marga berorientasi pada pengembangan bisnis. Hal itu bertujuan untuk memperkuat fondasi keuangan dengan menambah sumber pendapatan di luar jalan tol atau pengembangan usaha lain.

Hal itu juga bertujuan untuk mengembangkan lingkup operasi, tidak terbatas kepada pengembangan dan pengoperasian jalan Tol. Saat ini pendapatan Jasa Marga melalui pengembangan usaha secara konsolidasi dapat memberikan kontribusi sebesar 7%, targetnya kedepan mencapai 20%.

Pesatnya pertumbuhan jalan Tol saat ini, akan berdampak terhadap bisnis di bidang jasa layanan operasi. Para BUJT akan membutuhkan pihak ketiga yang memiliki kompetensi khusus untuk menyediakan jasa layanan operasi ketika akan mengoperasikan ruas jalan Tol.

Transformasi bisnis Jasa Marga diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini dengan masuk dan terlibat dalam operasional jalan Tol. Tidak hanya pada ruas Tol yang dikelola oleh Jasa Marga dan anak perusahaannya, tetapi juga pada ruas Tol di bawah pengelolaan BUJT lainnya.

Strategi perusahaan dalam pengembangan usaha lain yakni dengan perbaikan aspek fundamental dan optimalisasi existing asset, memaksimalkan perolehan dan investasi jalan Tol dengan berbagai skema bisnis, memaksimalkan potensi bisnis jasa operasi pemeliharaan, konstruksi Tol, teknologi Tol untuk pasar internal dan eksternal serta memaksimalkan potensi bisnis di sepanjang koridor jalan Tol (Toll Corridor Development).

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published.

Berita Lainnya